Part III: Liburan Singkat Nonpejabat

Di dalam pesawat Lion Air

08.30

Saat menaiki tangga pesawat, saya liat cat merah bertulis “LION” pada pinggang pesawat tampak baru. Sebelum masuk ke pintu depan pesawat, saya menawari ke keponakan saya, “Mau difoto dulu enggak kamu dengan latar Lion?” Dia menggelengkan kepala, rautnya tersirat malu. Saya mengerti.

Nomor kursi pesawat saya adalah 9B, sementara keponakan saya 9A. O, ternyata kedua kursi ada di barisan sebelah kanan dekat jendela. Karena pesawat yang kami tumpangi ini kelas ekonomi, maka formasi kursinya 3-3, tiga kursi sebelah kanan dan tiga kursi sebelah kiri.

Kami berdua pun lalu duduk. Saya terus memerhatikan tingkah dan wajah keponakan saya itu. Ia tertawa-tawa, tetapi tampak cemas, air mukanya seperti diliputi takut. Ini adalah kali pertama dia naik pesawat dan dia mengira, risiko paling berbahaya adalah menaiki pesawat. Kasian deh elo.

Duduk di sebelah saya adalah seorang bapak bertopi hitam, tetapi kurang antusias kalau diajak ngobrol. Seperti tidak lepas kalau ia bicara. “Bapak tinggal di mana di Bengkulu?” Saya bilang begitu karena bapak itu duluan yang mengajak saya ngobrol. “Adalah di sana,” itu jawaban si bapak. Rahasia, ya, Pak?

Bapak itu kelihatannya lagi bermasalah. Entah dengan siapa. Menjawab pertanyaan saja sekenanya dan tanpa menghiraukan si penanya, apakah mengenakkan atau tidak jawaban singkat tetapi tidak jelas itu. Bapak, bapak. I like u’r style, Pak! Eh, belumlah pesawat mengudara, si bapak sudah dipeluk mimpi.

Di kursi baris sebelah kanan, bayi lelaki yang sedang di atas pangkuan ibunya meronta-ronta seraya meraung-raung. Tak ayal, mata saya tak lagi fokus ke bapak di sebelah saya, tetapi saya arahkan ke jabang bayi itu. Tangis seorang bayi lebih menarik tinimbang seorang bapak yang sudah ngorok.

Ini yang unik dan membuat kedua mata saya tak lelah memandangnya. Empat pramugari nan anggun hilir mudik di lorong, di antara kursi di sebelah kanan dan kiri pesawat. Aduhai pokoknya, Bung! Sekujur tubuh mereka dilapisi batik merah muda. Siapa yang tak betah di ruang berpendingin udara kalau ada mereka.

Saya tak mau cerita apa yang akan dilakukan oleh pramugari cantik itu selanjutnya di hadapan para penumpang jelang terbang. Sebab, yang pernah naik pesawat juga sangat tahu adegan apa yang mereka pesembahkan buat penumpang. Bla..bla..pokoknya.

Pukul 09.15 barulah pesawat yang saya tumpangi benar-benar sudah berada di atas awan. Ini telat sekali dan di luar jadwal. Seharusnya pukul 08.00 berangkat, eh malah ngaret. Orang-orang mulai berkomentar di dalam pesawat, “Pantesan, mau terbang aja antri. Tuh lihat di depan Sriwijaya mau take off juga.”

Dari atas pesawat entah boeing berapa itu, saya tak tidur, tetapi malah melongok ke jendela dan melihat-lihat rumah-rumah, awan, terus laut, hutan, awan lagi, dan begitu seterusnya hingga Lion ini mendaratkan kami ke Bandara Fatmawati, Bengkulu. Welcome to my city! (bersambung…)

10 thoughts on “Part III: Liburan Singkat Nonpejabat

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s