Part I: Liburan Singkat Nonpejabat

 

Bandung, 25 Desember 2013

22.00

Saya mulai mengunci pintu kamar dan jendela kos. Tas hitam saya gendong di belakang punggung yang berisi pakaian. Udara malam terus menggoda menyuruh saya segera pergi. Saya melongok ke kamar sebelah, “Hayu, saya geus siap!”

Kawan saya dari kamar itu pun menyembul dan mengunci pintu. Dialah yang mengantarkan saya ke simpang tiga jalan Soekarno-Hatta, tak jauh dari Pul Damri dengan menggunakan motor yang mulai renta, tetapi masih kuat.

Butuh waktu sekira 7 menit, saya pun sampai di pertigaan. Kawan saya itu kembali lagi ke kos, sementara saya menyeberang jalan raya terpanjang di Kota Bandung itu. Jalanan sudah agak sepi memang, jadi itu memudahkan saya menyeberang.

Saya mulai menunggu angkot sambil berdiri di atas trotoar yang dinaungi sebuah pohon rindang. Tak tahulah, apa nama pohon itu. Yang jelas, daunnya lebar-lebar dan bulat yang buahnya juga bulat kehijau-hijauan.

Angkot tak juga menghampiri. Yang banyak berseliweran itu mobil-mobil pribadi dan tronton peti kemas. Dan kalau tronton lewat, pastilah kibasannya membawa debu genit yang mau tak mau, suka tak suka, mereka itu lantas mengakrabi tubuh saya.

Angkot hijau jurusan Cibiru-Cicadas berhenti. Saya naiki dengan hati-hati sambil kedua mata merongrong ke sana ke mari. Saya duduk di kursi sebelah kiri. Saya bukan kaca jendela angkot dengan  jari kiri. Ternyata angkot ini sempit. Yang buat sempit adalah dua paha jumbo di sebelah kanan dan kiri.

Kendaraan yang saya naiki sampai pula di simpang empat Kiaracondong. Lampu merah. Saya turun sambil menyerahkan uang receh tiga ribu. Saya nyeberang jalan, mau nyari angkot lagi. Maunya jalan kaki ke loket bis Primajasa di kompleks perumahan Batununggal, tetapi takut telat, maka naik angkot lagi.

7 Menit berlalu. Saya sampai di perempatan kompleks perumahan Batununggal Indah. Daripada naik ojek, saya pilih jalan kaki saja, paling 7 menit sampai loket bis. Saya susuri jalanan yang belum sepi itu. Saya percepat langkah, eh, ternyata sudah di loket Primajasa. Tinggal cek in nanti pukul 23.30.

Hape saya saat itu menunjuk pukul 23.25. Beberapa menit lagi cek in tiket yang pada siangnya sudah saya pesan dan dapat kursi nomor 35 dan 36. Maklum, kebetulan saya ditemani keponakan yang juga mau bareng pulang ke Bengkulu karena dia habis jalan-jalan di Bandung mengisi liburan semester.

Akhirnya, cek in tiket pun saya sudahi begitu juga dengan para penumpang lain. Tinggal menunggu keberangkatan saja sembari petugas bis memasukkan barang-barang ke bagasi. Dingin benar malam itu. Sedingin hati saya yang tak lagi berkutik lantaran diterpa soal, soal yang belum terjawab.

Daripada menunggu di luar, lebih baik saya masuk lebih dulu ke dalam bis walau sebetulnya tambah dingin karena pengaruh AC. Belum lah saya masuk ke bis, tercium aroma parfum dari dalam bis. Ini aroma yang saya suka dan sedikit memecah keheningan hati. Saya dan keponakan buru-buru mencari kursi.

O. Ternyata paling belakang, tetapi nyaman. Harum, bersih, dan hati saya pun tak banyak protes. Bis ini memang khusus angkutan pemadu moda dari Bandung-Bandara Soekarno-Hatta, Cengkareng, Banten. Sekali lagi, bandara itu letaknya bukan di Jakarta seperti banyak orang menyebut.

Beberapa orang mulai masuk bis dan duduk di kursi sesuai nomor yang ada di tiket. Ada yang masuk melalui pintu depan, adapula yang lewat pintu belakang. Dari pintu belakang, muncul dua orang pria dewasa, tetapi tampaknya belum menikah-seperti mahasiswa. Salah satu dari mereka tanya ke saya.

“Ini yang berangkat jam sebelas tiga puluh, ya?” Spontan saya katakan, “Bukan, ini yang jam 23.30!” O, iya!” kata pria yang tadi nanya. Keponakan di samping saya, dia tertawa-tawa, tetapi tertahan. Entah kenapa. “Malam-malam begini masih juga mau mainkan orang Mamang, nih!”

Mainkan apa?”Itu, Mamang tadi bilang ke orang itu bis ini berangkat jam 23.30 dan bukan 11.30. Nak ngerjoi orang bae!” lontar keponakan saya. Saya pikir, iya juga, ya, kenapa saya bilang begitu ke orang yang nanya tadi. Dan, kalau dipikir lagi, bukannya sebutan 11.30 khusus buat siang dan 23.30 untuk malam?

Ah, tak tahulah. Pastinya, malam itu saya tak ada niat sama sekali buat ngerjain orang atau mau lucu-lucuan. Sumpah, itu murni jawaban spontan dari mulut yang belum tersentuh makanan maupun minuman. Tetapi maafkan saya bila jawaban sekenanya itu buat tak nyaman, ya juragan.

Pria muda berbatik merah dan bercelana hitam memeriksa ruangan bis guna memastikan penumpang tak ada yang tercecer. Dia mulai berdiri di samping supir dan bilang, “Kepada para penumpang, sebelum kita berangkat mari berdoa menurut agama dan kepercayaan masing-masing. Mulai!”

Tepat pukul 24.00 tubuh bis warna putih bergaris merah itu beranjak dari loket menuju Bandara Internasional Soekarno-Hatta. Bis mulai masuk gerbang tol Buah Batu. Saya bersiap memejamkan mata, apalagi lampu temaram di dalam bis cocok buat mengundang mimpi. (bersambung…)

Tambahan:

Ongkos Bis Primajasa Bandung (dari Kompleks Perumahan Batununggal Indah)-Bandara Soetta sekarang Rp. 90.000

Ini dia jadwalnya:

18 thoughts on “Part I: Liburan Singkat Nonpejabat

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s