Part I: Hasan di Mata Keponakan

keponakan saya, Fifah (paling kiri). Foto diambil dari facebooknya.

Keponakan saya, Fifah (paling kiri). Foto diambil dari facebooknya.

Suatu hari saya meminta tolong kepada keponakan saya yang cewek, Nurul Afifah untuk menuliskan sesuatu tentang saya. Saya bilang enggak perlu panjang, cukup minimal lima paragraf dan kalau mau lebih, lebih bagus. Untungnya, cewek yang kini sedang bersekolah di SMP 2 Kota Bengkulu, itu menyanggupi. “Siap, Mang! Tapi jangan sekarang, soalnya Fifah lagi semesteran.”

Saya katakan lewat sms itu, tolong Fifah tulis apa yang dia tahu tentang saya sebagai sang paman. “Apapun tulis, ya. Tapi harus jujur, mau kejelekan, kesan, pesan, atau terserah, pokoknya lima paragraf. Santai aja enggak mesti sekarang-sekarang. Fokus ujian semesteran dulu lah kalau sekarang. Ditunggu, ya,” pesan saya begitu ke Fifah yang bercita-cita jadi dokter dan penulis itu.

Ini namanya lagi selfie (self portrait)

Ini namanya lagi selfie (self portrait)

Sebetulnya, saya merencanakan ini sudah begitu lama, tetapi baru terlaksana beberapa minggu sebelum natal kemarin. “Kalau bisa, tulisan itu harus udah ada sebelum natalan, ya, Fah!” Saya tegaskan lagi ke keponakan saya yang hobinya menggalau ini. Maklum, anak kelas II SMP, galaunya tentang pencarian jati diri sedang rekah-rekahnya. Apalagi, kalau saya intip status-statusnya di facebook, sungguh menggelikan.

Kenapa saya menyuruh dia menuliskan sesuatu tentang saya? Pertama, saya ingin tahu apa pendapat keponakan saya yang satu ini tentang saya, terutama sejak dia tahu kalau saya ini pamannya. Kedua, karena saya tahu dia bisa menulis, maka saya pun meminta tolong menuliskan tentang saya. Ya, sebelumnya dia pernah bilang,”Fifah punya Diary, lho, Mang di rumah, lumayan tebal,” ucapnya.

Fifah (berdiri paling kiri) bersama teman-teman sekelasnya.

Fifah (berdiri paling kiri) bersama teman-teman sekelasnya.

Apalagi, sambung cewek berkulit sawo belum matang ini, bahwa dia kerap dibelikan buku-buku cerita anak/cerpen oleh ibunya.”Kalau ibu ada tugas keluar kota, pastilah oleh-olehnya buku,” lontarnya pas saya minta ceritakan kenapa dia suka baca dan nulis diary. Makanya, katanya lagi kalau dia sedang diterpa galau, ia nulis pada diarynya sebelum tidur.

Tak perlulah saya berlama-lama, ya. Di bawah ini adalah tulisan keponakan saya tentang saya walau  belum lengkap. Tapi, dengan saya menyuruhnya menulis tentang saya, barangkali ini mengasah buat dia menulis. Ini baru tulisan dari keponakan saya yang cewek, lho, belum yang lain. Ada empat keponakan lagi yang akan membeberkan tentang saya di sini. “Oke, siap! Tunggu aja, Mang!” salah satu keponakan yang laki-laki bilang begitu seminggu lalu.

Tulisan Fifah ini saya enggak mau ngutak-ngatiknya. Biarlah murni seperti itu. Ini dia..

Gtw harus mulai dari mana, yang pasti aku buat tulisan ini karena mang kuncup tersayang. Gini, lohh !! Aku disuruh buat tulisan, tentang gimana sifat, kekurangan, maupun kelebihan dia, (mang kuncup) Ngk tau untuk ap?? (Bingung !! )

Kalo menurut aku sihh, orang ny seru,, udah itu dia bisa ganti’in posisi my Dad, kalo dekat mang kuncup rasa ny, dekat sama ayah,, so dia kan adikny,, hahaha,, tapi gimana y,, beda gitu,,!!hehehhehe,,ap lgi kalo dia udah cerita sesuatu, dijamin pasti NGAKAK, sifatny ngk beda jauh dri ayah,,,kalo boleh jujurr rindu ayah nihhh,,,

Kalo dekat mang kuncup, aku belajar banyak hal, dri yang ngk suka daging biawak jdi suka bangettt,,,dri yang ngk bisa manjat, jdi bisa manjat, lucu kalo liat mang kuncup nyri sinyal sampe” manjet pohonn,,wkwkwk,,ngakak ngelihatny,,,ngak nyangka banget kalo liburan tahun ini menyenangkan, tpi cuman beberapa hari , ketemu,,(sedihhhh))

Ingat banget waktu naik travel, dri seblat (utara) mnuju BENGKLU, huhh,,rasa ny naik mobil udah mau muntah ehh ternyata, karena kebawelan dan senyuman giginya yang beserii” jdi ngk mabuk dehh,,didalam perjalanan, aku bnyak belajar mnjadi lebihh sabar ,,hahah,,

Udh ehh,,critony, jadilah pulo,, capek tangan ko ngetik,, heheheh,, tapi sumpahh iyallll,,dri lubukk hti yang palinggggggggg dalammmmmmmmmmmmmmmmmmmmm”

Keterangan:
-Mang Kuncup (sapaan khusus para keponakan buat saya)
-Iyal (juga panggilan akrab kami, baik kepada ponakan atau sebaliknya)

Iklan

4 thoughts on “Part I: Hasan di Mata Keponakan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s