Hari

Mudah-mudahan tulisan ini  benar-benar tidak nyambung dan tak perlu memaksanya supaya nyambung.

Benar-benar harus diingat, bahwa 19 Desember 2013 adalah tahun kedua rumah http://www.hasannote.woprdpress.com berulang tahun. Saya tidak pernah puas, walau saya tak pernah berhenti bersyukur, bahwa sampai Desember 2013, saya masih sanggup menitipkan kata-kata di rumah yang amat sederhana ini. Sejak awal rumah ini dibangun, saya mengkhususkan diri mengisinya dengan hal-hal yang sama sekali tidak penting. Saya cinta terhadap sesuatu yang tidak penting! Happy new year buat kamu. Kamu yang bikin saya malas mengunjungi kamu. Dan kamu yang rela menerima saya apa adanya. Kamu itu, the one and only!

Tiga hari setelahnya, yakni 22 Desember, itu katanya bertepatan dengan hari ibu. Sejak kapan dan kenapa hari itu mesti diperingati, tak perlulah saya tahu amat detail. Sebab, saya berusaha mengingat ibu, bukan hanya pada tanggal itu, tetapi tiap detik, bahkan selepas subuh sebelum saya berangkat kerja, saya selalu menelepon ibu-ayah: menanyakan kabar, minta doa, dan ngobrol ngalor ngidul dan saling bercanda. Ibu, ibu, dan ibu. Bersyukurlah bagi kita yang masih memiliki ibu. Dan lebih bersyukur lagi, andai ibu telah mendahului ke hadirat-Nya, sebab, di sana ada pelajaran berharga: betapa pentingnya sosok ibu.

Tiga hari kemudian, tentu menginjak tanggal 25 Desember. Saya belum melalui itu, tetapi pasti-kalau Tuhan masih membiarkan napas di sekujur tubuh saya langgeng, saya bakal melewatinya. Bagi umat Kristiani, mungkin saja hari itu adalah momen spesial sekaligus sakral. Saking sakralnya, hampir di tiap mal dan pusat perbelanjaan, tanda-tanda itu begitu terasa. Apakah itu juga spesial buat saya? Pasti, dunk! Sebab, saya pun bisa menikmati libur, apalagi pas 26-nya cuti bersama. Puas pokoknya. Spesial tidak spesial sebuah hari, itu bergantung kita memaknainya.

Hari menjadi tidak penting, apalagi spesial bila kita tak mampu menjamahnya dengan menghadirkan perasaan. Sebab, hari tak mau dikasari, disumpah-serapahi, digunjing, diludah dengan hinaan, apalagi hingga dibiarkan. Bagi saya, hari apapun, itu sangat berharga dan pasti memberi makna, walau, sebetulnya saya pun lambat dibuat sadar, bahwa hari telah mengubah pola pikir dan tindakan dalam hidup keseharian. Itulah hari. Hari adalah matahari saya yang selalu hadir dalam kehidupan saya. Siapa yang mengingkari matahari, berarti melupakan hari.

Iklan

2 thoughts on “Hari

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s