Ketika Gusdur Wisuda

Lewat FB, adik saya kirim ini. Benar-benar jadi loe sarjana!

Lewat FB, adik saya kirim ini. Benar-benar jadi loe sarjana!

Adik saya mau wisuda pada 18 Desember 2013. Abdurrahman, nama adik saya itu, tiga minggu lalu mengultimatum, “Kalau sampai Aa Hasan enggak hadir di acara wisudaku, aku enggak akan lagi nganggap A Hasan sebagai kakakku lagi! Ingat itu, Bro!” Saya anggap, fatwa Oman, sapaan akrab adik saya yang kuliah di Universitas Bengkulu, ini bercanda belaka. Mana mungkin ungkapan itu serius, wong selama kami bersama-bila terdapat sesuatu-kami tak pernah menganggapnya serius! Kapan antara adik-kakak ini serius? Ya, kami serius kalau sedang makan, selain itu-bulsit semua.

Maka, saat sang adik, yang kebetulan mengidolakan Lionel Messi, itu melontarkan seperti itu, saya malah ketawa, dan, lalu bilang, “Jangan main-mainlah kalau mau bikin sensasi itu, Ding! Tenang sajalah, apa, sih yang enggak buat kamu, Bro! Kalau ada sempat, duit, dan umur, kakakmu yang paling baik ini pasti hadir di hari kebahagiaan itu, Man! Doakan sajalah, moga yang kau harap dan aku ingin, itu segera terkabul oleh-Nya. Andai, pahitnya kakakmu ini tak dapat hadir, mungkin di lain hari di waktu yang berdekatan. Sebab, Aa pun pengin berfoto denganmu, apak, emak, kakak, teteh, dan ke-9 ponakan yang lagi bandel-bandelnya itu!”

Saya sih optimistis, 18 Desember 2013, itu saya bisa hadir. Kalaupun tidak, itu bukan lagi kewenangan saya. Sebab, sudah jauh-jauh hari pula saya merencanakan akan bersetia dengan adik saya ini, mendampinginya hingga masuk aula Unib, sampai-mungkin-berfoto-foto ria dengan keluarga besar saya. Tunggulah, walau-kau juga paham, bahwa Desember ini, bertepatan dengan libur siswa. Dan kau tahu, itu semua berdampak pada penaikan harga pesawat. Mau naik bis, duh, saya kapok, karena terlalu lama meletakkan pantat di kursi. Bayangkan, selama 30 jam duduk di kursi bis! Bisa-bisa saya ambeyen dibuatnya, macam kawan saya itu (tentu saya tak kuasa menyebut namanya).

Namun, tenanglah. Tak soal ongkos pesawat Jakarta-Bengkulu menggila, sebab itu tak terbayarkan dibanding kakakmu ini bisa bertemu dengan emak, apak, aa, teteh, kamu, 9 ponakan, dan-mungkin yang lainnya, yang belum sempat saya sebutkan di mimbar yang mulia ini. Yang terpenting itu, adikku, bukan prosesi wisudanya, tetapi selepas kau wisuda sarjana, eh, loe mau ke mana? Singkatnya, apa rencanamu selanjutnya? Itu barangkali yang sangat perlu dipikirkan, ya, Ding! Mau lanjut esduakah, kerjakah, atau, kamu mau nikah?

Kakakmu ini hanya turut gembira saja karena kamu telah menyelesaikan kuliah-walau, ya-kau tahulah keuangan emak-apak itu tak selalu stabil tiap bulan/semesternya selama ini. Kalau ente sudah sarjana, kan, beban kedua orangtua kita, tampaknya tak ada lagi, utamanya membiayai pendidikan. Paling-paling, ya kalau berkenan menabung buat naik haji, ya enggak papa. Tidak pun-sebagai anak, kita enggak maksa, kan? Tinggal, kini ente dan kakakmu ini, ya membantu menyemangati ponakan yang bejibun itu-yang sekarang bersekolah. Bila tak mampu kasih piti/uang, ya kasih nasihat, tak mampu juga, ya tinggal tidur aja lagi ente, Ding!

Udahlah. Cukup buat kamu sore jelang magrib ini. Moga kakakmu ini bisa datang ke pesta wisudamu. Salam buat semuanya yang ada di Bengkulu, ya. Buat apak, emak, aa, teteh, serta ponakan-ponakan-yang kadang-kadang bikin gemes itu. Yup ah! Satu lagi, karena adik saya ini namanya Abdurrahman, maka sering juga dipanggil “Gusdur”, baik oleh saya, juga teman-teman kuliahannya. Gusdur wisuda. Gusdur wisuda.

28 thoughts on “Ketika Gusdur Wisuda

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s