Pemaaf yang Ikhlas

Bagaimana menjadi pribadi pemaaf yang ikhlas, ini masih saya pelajari, dan-mau tidak mau, suka tidak suka, saya harus bisa menyelaminya hingga ke dasarnya dan mempraktikkan dalam hidup keseharian. Saya selalu menulis di dalam buku catatan harian saya, baik di awal maupun akhir, “Hasan, jadilah pribadi pemaaf yang ikhlas, ya. Hasan, jadilah pribadi pemaaf yang ikhlas, ya. Hasan, tolong, jadilah pribadi pemaaf yang ikhlas, ya. Saya selalu menyengaja menghadirkan kalimat yang saya tulis pada buku catatan harian saya tiap hari. Saya ingin, kalimat bernada sugestif -positif, itu benar-benar bersemayam di aliran darah saya.

Saya tidak ingin menjadi manusia yang bermanis di kata, tetapi masih menyisakan butiran kejengkelan di dalam hati, walau sebelumnya saya berkali-kali meminta maaf kepada orang lain, baik itu karena kesalahannya maupun kekhilapan saya. Kalau sesudah meminta maaf, lantas hati saya masih saja diliputi ketidakenakan hati, itu artinya-saya memang belum meminta maaf dengan tulus. Pendek kata, uluran tangan serta ucapan kata “maaf” di hadapan orang lain, itu baru sekadar buncahan lisan, belum benar-benar meresap dalam segumpal darah. Kenapa bisa seperti itu, Hasan?

Entahlah. Kalau lisan sudah menyatakan “maaf”, sementara qolbu belum menerima, itu berarti-antara lisan dan hati belum sinkron. Yang lebih fatal lagi, saya dalam hal ini telah membohongi diri saya sendiri, bahkan orang lain. Selama ini, jika ada seseorang yang telah berbuat salah-dan hasil perbuatannya itu hingga begitu menyakitkan saya-secara pribadi, memang saya memaafkan. Tapi, entah kenapa, beberapa hari, minggu, bulan, bahkan tahun, sesuatu yang pernah bikin hati tak enak itu, kok teringat lagi. Pada saat itu, lagi-lagi hati saya terseok lagi. Padahal, sebetulnya saya telah benar-benar melupakan kejadian itu dengan sepenuh hati. Nah, ini yang masih menjadi misteri dalam diri saya. Apakah saya belum memaafkan mereka dengan sepenuh jiwa plus hati?

Kalau sudah seperti itu, saya merasa menjadi manusia paling bersalah. Padahal, orang yang pernah saya maafkan itu, barangkali tidak tahu apa yang tengah saya rasakan. Sekali lagi, tetapi-saya sadar, bahwa ini salah satu proses bagaimana menata hati supaya menjadi keinginan Tuhan. Sebab, hanya Dia jualah sang pembolak-balik hati, walau sebetulnya-hati saya sedang dijungkirbalikkan, bukan oleh-Nya, tetapi oleh saya, yang sulit sekali memaafkan orang lain, betapa pun saya berkali-kali meminta maaf kepada orang bersangkutan. Ya, Dia memang Maha Menjungkirbalikkan hati siapapun yang dikehendakinya.

Semua berpusat pada hati pada akhirnya. Hati yang ikhlas, tentu bersih tindakannya. Sebaliknya, bila sedang digerogoti semacam virus maupun bakteri, hati juga akan demam-dan jika tak segera tahu penangkalnya, sudahlah, maka ia akan kian kronis. Kendati demikian, saya tidak mau larut dalam kelimpungan, saya selalu berusaha berpikir positif, dan, terus memohon bimbingan-Nya serta  selalu menerima kejutan-kejutan yang menghampiri dalam kehidupan saya sehari-hari. Siapa lagi yang pantas saya harapkan, selain Dia-yang maha atas segalanya. Kalau pun saya galau, kata anak muda zaman sekarang, penangkal itu tetap ada, walau proses untuk mendapatkannya, saya harus kerja keras dan ikhlas.

Hasan, jadilah pribadi pemaaf yang ikhlas, ya. Hasan, jadilah pribadi pemaaf yang ikhlas, ya. Hasan, tolong, jadilah pribadi pemaaf yang ikhlas, ya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s