Berterimakasih

Nah, di atap ini biasa saya jemur pakain. Karena ini musim hujan, yah, jadinya payah. Itu baju-baju saya tempo hari.

Nah, di atap ini biasa saya jemur pakaian. Karena ini musim hujan, yah, jadinya payah. Itu baju-baju saya tempo hari.

Saya diingatkan untuk berterimakasih. Seminggu yang lalu, saya mencuci pakaian sebelum berangkat ke tempat kerja dan menjemurnya di atas atap kosan, sebab saya pikir, tampaknya hari itu cuaca cerah dan rasanya tak turun hujan. Alhasil, jelang istirahat siang atau sebelum mendengar kumandang azan dhuhur, hujan mulai merintik. Eh, lama-lama, ternyata keran langit ini kok tambah deras. Saya sudah berburuk sangka, pasti baju yang saya jemur di atas atap basah semua, karenanya saya tak punya baju bersih yang kering. Tapi, saya sudah pasrah. Basah, ya basah. Lagian besok juga masih ada panas. Pikir saya siang itu.

Pukul 17.00. Saya keluar dari kantor  berpendingin udara itu. Langkah tak saya cepatkan, karena memang saya ingin menikmati sisa rintikan hujan yang mereka-mereka ini, siang tadi telah dengan tega membasahi baju, celana dalam, kaos kaki, levis, sapu tangan, dan peralatan dalaman lainnya yang saya taruh di atas atap kos. Hari itu, hati saya memang dibuat kelimpungan, merasa menyesal kenapa kok saya menjemurnya tidak di tempat jemuran yang ada atapnya. Kan kalau hujan sebesar apapun tetap aman. Tapi ini tidak, saya malah memilih mengeringkan pakaian di atas atap, yang kalau tidak hujan dan matahari lagi bagus, cukup dua jam saja langsung kering.

Saya sampai pintu gerbang kos. Karena kamar saya letaknya di lantai dua, dengan ikhlas saya panjati anak tangga itu. Saya tak langsung ke kamar nomor 14, tetapi langsung bergegas belok kanan menuju tangga lain yang tembus ke tempat jemuran. Sampailah saya di lantai tiga. Mata saya langsung saya picingkan ke arah atap kosan sebelah pojok kanan. Saya kaget, kok pakaian saya enggak ada, ya? Ribuan tanya dalam hati saya. Guna memastikan, saya dekati atap yang pagi tadi sempat saya datangi pas jemur pakaian. Ternyata, baju dan lain sebagainya lenyap. Tapi, bersyukurnya, waktu itu saya tidak menyangka pakaian saya hilang dicuri seseorang. Saya hanya bilang, mungkin ada orang yang mengangkat baju saya pas hujan tadi siang.

Ini kosan saya. Murah! Rp200 ribu sebulan!

Ini kosan saya. Murah! Rp200 ribu sebulan!

Saya langsung berjalan ke arah tempat jemuran yang biasa kawan-kawan kosan menjemur pakaian-yang saya bilang tadi-jemuran itu ada tali buat menggantungkan pakaian-dan, kalau pun hujan baju-baju yang dijemur di sana enggak bakal basah. Eh, apalagi yang harus saya ucapkan selain berterimakasih kepada orang yang telah rela mengangkat baju-baju saya dari atap kala hujan merintik siang tadi. Siapa pun orangnya, sekali lagi, makasih, ya. Dan saya tahu, di tempat kos-kosan saya, penghuninya yang enggak pernah pergi, baik siang maupun malam adalah dia, ya-seorang ibu penghuni kamar nomor 7. Kenapa ia selalu stenbai di kamarnya? Ya enggak tahulah saya. Yang pasti, suami si ibu ini tiap hari yang keluar mencari nafkah, sementara ia-si ibu, ya diam aja di kos, kadang ngobrol dengan ibu-ibu lain-yang kalau ngobrol sering kali ngakaknya minta ampyun!

Dan, hari ini terulang lagi. Pagi tadi, sebelum berangkat beraktivitas, saya lebih dulu mencuci pakaian dan langsung saya jemur di atas atap. Mudah-mudahan enggak hujan sampai dhuhur. Pikir saya. Eh, dugaan, perkiraan, dan pikiran saya 100 persen tidak betul! Sebelum dhuhur, saya dengar keran langit meneteskan berkahnya. Kalau air langit itu membasahi pakaian di atas atap yang sebelumnya kering, apakah masih disebut berkah? Saya buka jendela kantor, waw, dahsyat, hujan sungguh kencang dan lebat! Karena saya ini, barangkali terlalu lebay (mungkin), saya langsung menghampiri facebook,”Duh, pakaianku basah, dunk!” Seorang teman langsung balas,”Eh, kalau jemur jangan sembarangan, dunk!”

Saya buru-buru pulang ke kosan. Kebetulan jarak kantor ke kos, ya paling-paling sepelemparan batu lah. Niat  saya hanya satu: nengok baju yang dijemur di atas, di atas atap. Dua pikiran saya: baju-baju saya berhamburan lalu jatuh ke lantai, lalu kotor. Kedua, pakaian saya tetap teronggok, lesu, dan, ya basah. “Terlanjur basah, ya sudah mandi sekali…” itu kata lagu. Saya sampai di kos, langsung naik ke lantai tiga, eh, baju-baju saya enggak ada di atap! Oh, sudah berpindah ternyata ke tempat jemuran bertali. Ajaibnya, pakaian saya itu tersusun rapi. Makasih, ya Tuhan. Tengs buat si ibu penghuni kamar nomor 7! Allah sajalah yang akan mencatat kebaikanmu.

Besok pun saya akan mencuci baju yang saya kenakan hari ini. Masih mau menjemur di atap di saat musim hujan yang tak pernah bisa diduga kapan turunnya ini? Lihat saja besok, ya.

19 thoughts on “Berterimakasih

  1. Si Ibu baik ya. Jadi termaafkan nggak nih ngakaknya kalo lagi ngobrol sama Ibu-ibu lain? Hihiihi

    Ngomong2, murah banget kosannya 200ribu.
    Buka cabang dimana-mana nggak ya kosanmu itu? *pengen juga*

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s