Sombong dan Egois

Sombong dan egois. Dua kata yang selalu melekat pada diri manusia, termasuk saya. Siapa yang menciptakan kata itu? Saya tak tahu, tiba-tiba, ketika saya SD, kata itu sering bermunculan. Kehadiran keduanya dalam hidup saya membuat saya makin indah, juga dicemooh oleh sesama manusia, yang diam-diam, ternyata tuan sombong dan egois ini, ada juga di dalam tubuh mereka. Sebaiknya, kalau sama-sama menelan dua sahabat karib itu, tak perlulah mengatai saya,”Hei, kamu sombong, engkau egois!”

Sombong dan egois. Siapa pun, mau kiai, pendeta, pastur, yang rajin salat, tak absen ke gereja, malah aktif di Vihara, atau saya yang biasa-biasa begini, entah berapa detik, menit, jam, hari, minggu, atau selama hidup, pastilah pernah memakai baju mereka, ya mengenakan pakaian sombong dan egois dengan nikmat, terlena, dan, bahkan merasa ketagihan. Kadangkala, pak sombong dan bu egois semakin gemuk saja, karena tiap hari, diberi asupan gizi oleh kita sebagai penggembala keduanya.

Sombong dan egois. Tuhan menciptakan manusia, tak lain untuk melakukan kesombongan dan keegoisan, baik terhadap diri sendiri, terlebih pada orang lain. Selain menjalankan ritus ibadah sesuai agama masing-masing, bahwa sombong dan egois, pun dijadikan ritual ibadah. Tanpa menyisipkan keduanya di dalam diri, ya rasanya kurang bermakna hidup ini. Kalau ada yang bilang, sombong itu baju Tuhan, maka bolehlah kita, juga saya, tak perlulah memakai bajunya, cukup genggam kancing atau kantongnya saja. Sulit, kok mau melepas, laku sombong dan egois dalam diri, apalagi-mereka ini sudah telanjur ngalir, bukan saja di otak, tetapi di aliran darah, seperti saya bilang di awal.

Sombong dan egois. Apa? Mau mencoba menghilangkannya? Kalau bisa, dari sekarang, hindari berniat  menghilangkan sifat sombong dan egois dalam diri yang telanjur menjadi napas. Saya pikir, mereka itu tak bisa dihilangkan! Sekali lagi, keduanya tak bisa diempaskan. Tidak bisa. Yang ada itu, barangkali, kalau kita, maupun saya, dalam berdoa kepada Tuhan, bisa begini,” Tuhan, tolong kurangi tensi kesombongan, juga keegoisan dalam diriku. Jangan engkau tinggikan tensinya, Tuhan, sebab, itu malah membuatku sengsara.” Nah, itu kira-kira doanya. Bukan menghilangkan, tetapi minta dikurangi saja, sebab, sampai kapan pun, kedua sifat itu tak bisa dihilangkan, betapa pun orang itu susah payah menggeseknya.

Sombong dan egois. Tiap orang, berbeda-beda tensi kesombongan dan keegoisan yang dimilikinya. Ada orang yang memelihara keduanya, tetapi-peliharaannya itu selalu ia perhatikan, tak dicueki, misalnya-sebelum tidur, sang pemilik peliharaan sering mengevaluasinya, apakah peliharaannya itu makin gemuk badannya atau sedang-sedang saja. Ibaratnya, adakah diet keseombongan dan keegoisan tiap harinya? Makin rajin diet, kian rampinglah keduanya.

Sombong dan egois. Secara sederhana, saya akan mengartikannya. Sombong, itu menghargai diri sendiri secara berlebihan. Sementara, kalau misalnya saya menghargai saya, lalu tidak berlebihan, sedang-sedang saja, berarti, tetap saja, saya masih tetap sombong, benar kan? Adapun egois, itu orang yang selalu mementingkan dirinya sendiri. Makanya, tiap hari, saya selalu berdoa,”Tuhan, kurangi/turunkan tensi kesombongan dan keegoisan yang saya miliki.” Tersebab memelihara sombong dan egoislah, kita, pada akhirnya bisa santun, legowo, dan rendah hati, baik di hadapan sang pencipta, diri sendiri, maupun orang lain.

Iklan

2 thoughts on “Sombong dan Egois

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s