Si Mbah

“Kalau ingin tambah merusak Indonesia, jangan injak lantai rumah saya. Kalau berpikir mau menyogok saya dengan uang, jangan sekali-kali mampir ke gubuk saya. Kamu tahu, bagaimana caranya supaya korupsi di negeri ini dapat berhenti. Ya, para koruptor itu harus dibunuh! Kalau sekadar di penjara, ah, itu enggak menyelesaikan masalah. Saya juga bilang ke anak saya,’nak, kalau kamu korupsi, saya bunuh kamu!”

Hai, sahabat blogger, tahukah kalian kalau hari ini, pagi-pagi sekali saya sudah dapat ceramah mencerahkan dari seorang “Mbah”-orang-orang di lingkungan RT di situ, mereka biasa memanggilnya begitu. Kalau dipanggil “Mbah”, artinya dia ini orang jawa. Benar saja, pas ngobrol di dalam rumahnya, si mbah ini asli Solo, tetapi sejak 1956 sudah menetap di Bandung karena bertugas sebagai serdadu ABRI (sekarang TNI), di Zipur Ujungberung. Saat berjabat tangan, tangannya yang kukuh itu meremas tangan saya dengan begitu kuatnya. “Duh, Pak!” kata saya, tentu di dalam hati, dunk!

Saya datang ke rumah dia lantaran perintah dari pengelola kos beberapa waktu lalu. “Kalau ada wkatu luang, nanti melapor ya ke RT dan bagian keamanan di sini. Pak RT rumahnya di depan masjid, kalau keamanan, rumahnya persis di sebelah rumah saya. Ya, biar kenal lah kamu sama keamanan di sini, juga sama RT-nya,” suatu hari, pengelola kos bilang begitu ke saya sambil dia menyerahkan dua lembar kertas fotokopian yang isinya biodata saya berserta KTP.

Waduh! Saya males berurusan dengan RT atau dengan keamanan. Kalau saya datangi mereka, saya harus “mengerti”. Mengerti apa maksudnya? Ya, moga kalian “mengerti”, ya. Itu pikiran awal saya-yang seharusnya tak perlu muncul di benak. Tetapi, saya tak juga bisa memaksa, tetap saja pikiran itu terus bergelantungan di ranting dan batang otak. “Pasti, saya ke sana tak cuma melapor, bahwa saya ngekos di lingkungan RT ini, tapi, minimalnya-saya harus menyisipkan uang sebagai tanda terimakasih ke pak RT maupun bagian keamanan. Ah, males! eh Malas!”

Pikiran-pikiran yang demikianlah yang membuat saya enggan melapor, baik ke RT maupun bagian keamanan. Lebih baik, saya akan melapor ke mereka kalau saya benar-benar sudah dipaksa oleh pengelola kos. Atau, saya mau-si pengelola kosa itu marah dulu, baru saya mau menghadap pejabat di lingkungan tempat tinggal saya itu. Kalau kesadaran, ya, itu yang susah. Dicambuk dulu, nah, baru jalan. Memang, saya bukan kambing atau kerbau, tetapi sifat kedua binatang itu, acapkali merasuk di tubuh ini tanpa sengaja, tanpa diperintah. Gusti, Gusti.

Suatu malam selepas magrib, untuk kedua kalinya, pengelola kos menegaskan ke saya,”Pas rapat pengurus RT kemarin, saya disinggung-singgung mengenai ada beberapa penghuni kos saya yang belum pada ngelapor ke bagian keamanan dan RT. Kan, saya juga yang ribet jadinya kalau begini. Tolonglah kerjasamanya, ya. Lagian, kalau kamu datangi RT atau keamanan di sini, kamu jadi kenal, dia pun tahu kamu. Masa tiap hari lewat di depan rumahnya, enggak menegur, kan enggak enak. Tolong, ya.” Waduh, ini bapak! Iya…iya..iya..,besok (hari ini)!

Makanya, hari ini, bagian keamanan dulu yang saya datangi. Kirain siapa bagian keamanan ini. Eh, tahunya orang ini baik dan ramah sekali setelah saya berjabat tangan dengannya. Seperti saya bilang, remasan tangannya saatberjabat tangan membuat jari tangan ini nyaris remuk, Mbah! Padahal, kalau ditilik dari usia, bapak ini uzur. Ya, 74 tahun umurnya! Suaranya masih lantang kalau bicara, jelas, pokoknya khas tentaranya itu kentara sekali. Berhadapan dengannya, saya merasa seperti bertemu dengan sejarahwan macam Anhar Gonggong kalau bercerita tentang keindonesiaan dan sejarah berdirinya ibu pertiwi ini.

Saya hanya mendengarkan saja petuah-petuah bagian keamanan ini. “Saya ini orang bodoh yang tak sekolah tinggi. Tetapi, selama jadi tentara dari 1950-1999, Mbah bergaul sama orang berdasi. Apapun yang mereka sampaikan, itu Mbah ambil dan praktikkan dalam hidup Mbah. Sedangkan omongannya yang kira-kira bakal menjerumuskan, Mbah dengarkan saja, enggak dimasukkan ke hati. Mbah enggak mau mendebatnya, karena itu tambah buat masalah dan akar konflik. Mbah menghindari itu. Kalau ini pun baik bagi kamu, ya silakan ambil.”

Mbah, Mbah, Mbah. Banyaklah nasihatnya selama kurang lebih 2 jam di kursi panas itu. Saya tak kuasa memotong pembicaraannya yang tak putus-putus itu. Mau memotong, saya takut ia tersinggung. Ya,namanya juga orangtua, saya harus hormati dia. Saya sadar, kalau cukup umur, saya pun bakal jadi orangtua, jadi kakek yang kembali kekanak-kanakan. Ya, si Mbah yang memiliki 17 cucu ini, dulu-dia menikah usianya 23 tahun, sedangkan istrinya saat itu umur 17 tahun. “Saya nikah itu biaya sendiri, tak mengandalkan orangtua. Kenapa bisa begitu? Karena begitu saya lulus dari pendidikan militer, saya kan dapat gaji. Nah, sebagian gaji itu Mbah tabung.”

Banyak banget Mbah kalau petuah Mbah dituangkan di sini. Belum lagi, kata Mbah tadi, satu kaki kiri Mbah pernah patah, terus, anak-anak Mbah-tatkala masuk TNI maupun yang polisi, mereka lulus tanpa pakai duit. Murni karena prestasi. “Anak saya itu atlit berprestasi. Makanya, karena prestasi itulah anak saya ditawari menjadi angkatan kayak sayam dan, eh, lulus. Begitu juga yang polwan, lulus juga. Kalau mengingat itu, saya bahkan menangism, saking terharunya.”

Saya juga terharu, Mbah. Makanya, terpaksa obrolan kita saya potong, dengan alasan saya harus segera ke pak RT dan ada beberapa kegiatan yang harus saya kerjakan: nyuci baju, piring, nyetrika, olahraga, dan menghayal. Oke, Mbah, moga kau sehat.

6 thoughts on “Si Mbah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s