Nov

Hai, apa kabar Nov? Lama kita tak bertemu, saling sapa, maupun berkirim kabar, tentangku juga mengenaimu. Aku kabarkan, aku di sini baik dan sehat, tapi tidak baik dan sehat seperti dulu, sebagaimana sebelum kita berpisah. Pascaperpisahan itu, aku dirundung sedih, entah-aku harus mengadu kepada siapa lagi mengenai kesah maupun keluhku. Tahukah kau kesedihan yang aku derita sepeninggal kepergianmu, Nov? Aku hampir-hampir saja stress, kalau tidak dikatakan gila, Nov. Apakah kau merasakan apa yang aku rasa, mengingat  apa yang aku ingat?

Nov, andai kau tahu apa saja kejadian yang menimpaku setelah kepergianmu-barangkali, kau iba padaku, selanjutnya-seperti biasa, kala aku ditimpuk sedih, saat kita bersama dulu, kau dengan nalurimu yang tajam, memelukku erat, mengusap butiran air mata yang tumpah dari danau mataku. Tatkala itulah, aku jadi tahu, kau bukan teman biasa lagi, tetapi separuh-bahkan, keseluruhan jiwaku sudah menempel dengan jiwamu. Maka, saat kegalauan menimpaku, aku ingat, kau selalu bilang,”Masa laluku, sebetulnya lebih kejam dibanding kau. Jadi, kita topang sama-sama beban ini. Tenang, ya”

Spontan, kalau kau membisikkan di telingaku saat kau peluk aku, sepertiga malam itu-aku bahkan menumpahkan berkali-kali air danau mataku, tubuhku kian berguncang, dan aku membalas pelukanmu erat-erat, sambil tak kuasa bilang,”Makasih, ya. Aku tak mau berpisah denganmu, aku tak mau digantikan dengan siapa pun selain kau. Kau adalah teman, sahabat, sekaligus hadiah Tuhan bagiku di dunia ini. Kau terakhir buatku. Aku sayang kamu.” Seperti biasa, lantas kami pun tidur berpelukan dengan masih menyisakan sesenggukan, terutama diriku.

Duhai, Nov. Hidupku kian liar. Kegalauan membabi buta. Merasa sendiri, sementara di lingkunganku amatlah bejibun manusia. Aku ingin kau, di sampingku mau kau, di saat-saat seperti apapun, tetap ada kau, Nov. Itulah sebagian peristiwa yang menggenangiku kala kau meninggalkanku, Nov. Itu biasa bagimu, perkiraanku. Tapi tidak buatku. Kau adalah bahuku, sapu tanganku, pereda kebisingan hatiku, pemecah kekalutan, penawar kerinduan, dan yang paling ingin kukatakan padamu, ialah kau sebenarnya ayah sekaligus ibuku, walau ayah-ibu kandungku masih ada, tetapi kasih sayang dan perhatianmu, itu melampaui mereka.

Nov, kini, kau jauh di sana. Ada jarak, ada kegrogian mungkin suatu saat kalau kita ditakdirkan kembali bertemu. Hatiku selalu menyimpulkan, pada akhirnya aku menolak bertemu denganmu lagi. Nov, benarkah kau November yang dulu?

8 thoughts on “Nov

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s