Alhamdulillah, Duit Saya Menipis!

Duit mulai menipis. Gajian juga belum. Ha? Gajian? Emang saya kerja apa sampai harus gajian? Yup, enggak usah dibahas. Jelasnya, hari ini dan beberapa hari ke belakang uang di dompet saya berkurang. Entah tinggal berapa, sementara saya malas menghitungnya. Kalau mau tahu berapa rupiah sisa pulus yang saya punya, nih fotonya di bawah sini.

Berapa, ya itu duit?

Berapa, ya itu duit?

Walau keadannya seperti itu, saya tetap  masih bisa senyum, bahagia, jailin kawan-kawan, berhumor mesti enggak lucu, jalan kaki tiap pagi, dan tentu tetap ingat sama yang punya dunia dan seisinya ini. Saya juga bisa tenang sekarang, betapa pun habisnya duit saya, baik di dompet maupun mesin ATM.

Kenapa tenang? Sebab, untungnya, saya sudah pindah kosan yang dekat dengan kegiatan saya sehari-hari. Jadi, kalau mau ke kantor, ya tinggal jalan kaki saja. Tanpa mengeluarkan uang recehan buat ngangkot maupun nge-bis. Paling-paling membutuhkan waktu 7 menit, dan saya telah bercokol di hadapan komputer, duduk manis di kursi empuk, serta memandangi deretan buku-buku menumpuk di kanan-kiri.

Saya berpikir, bahwa saya patut bersyukur kalau duit sedang menipis. Tetapi, bukan berarti kalau sedang dompet penuh lantas saya tidak wajib bersyukur, lho! Bukan itu. Kenapa mesti ikhlas dan bersyukur kala uang tak ada lagi di kantong? Ya, itu artinya mengharuskan saya, bagaimana caranya bisa menghasilkan pulus untuk hidup keseharian. Saya juga yakin, tanpa ada duit pun, manusia bisa tetap hidup.

Memang, awalnya, saat hampir perbekalan habis, dalam hal ini duit, hati saya limbung. Dalam bahasa lain, qolbu saya mengalami “KONTROVERSI”. Namun, kejadian itu hanya sebentar dan tak sampai 24 jam! Saya bisa mengatasinya sendiri. Caranya? Saya mencoba merenung, ya sekitar 10 menit lah. Apa yang direnungkan?

Bahwa tidak penting kamu galau hanya gara-gara kehabisan uang. Juga jangan merasa senang karena kamu punya uang. Sekarang, nyantai sajalah. Buat apa sedih? Boleh, tapi jangan larut. Yang kamu harus lakukan itu, bekerjalah dengan sungguh-sungguh di tempat kerjamu. Kalau kerja, hindari  lihat jam tangan maupun jam dinding. Kalau itu kamu lakukan, kamu enggak betah di tempat kerja. Abaikan itu, Bro! Berpikirlah positif!

Itu yang saya renungkan. Saya juga tidak tahu apakah itu pantas dikatakan sebagai renungan atau khayalan. Duit itu, kalau diusahakan, ya ia akan datang dengan sendirinya. Apapun cara usaha itu. Asal mau!

Lantas, di tengah kekurangan duit itu, saya bongkar-bongkar di bawah kasur, di dompet yang lama, terus di sela-sela tumpukan buku. Maksudnya, ya siapa tahu ada uang-uang saya yang tercecer. Tapi, betapa mengagetkannya. Kenapa? Ini, saya dapat duit kertas warna biru. Ini dia hasil pencarian itu.

Walau menemukan ini, tapi, mana mau warung nerima duit beginian.

Walau menemukan ini, tapi, mana mau warung nerima duit beginian.

Ya udah deh. Tuhan, bahagiakan aku dalam keadaan apapun.

 

 

 

9 thoughts on “Alhamdulillah, Duit Saya Menipis!

  1. digerogoti kutu buku … mungkin kutu bukunya mikir “kertas ini enak banget ya….”
    Btw.. terimkasih atas renungannya yang sangat berarti bagi saya. Bener banget. Selagi dikasih kesempatan memiliki pekerjaan…bekerjalah dengan sungguh-sungguh. daripda mengeluh

  2. Hasan, kamu kocak banget sih duitnya difotoin begitu haha
    Aku mau ngitungin cuma kok ya bingung sama yg recehannya, 100an apa 200an itu?

    Yg duit biru itu sayang ya, ada 2 lembar padahal hehe
    Thanks buat renungannya🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s