Dua Kesedihan yang selalu Membayang

Kalau saya ingat peristiwa ini, tentu sebagai manusia lemah saya menitikkan air mata. Ada dua kejadian-yang membuat saya selalu ingat, dan setelahnya saya suka sedih dan berharap itu tidak terjadi. Namun, kalau yang terakhir itu, rasanya mustahil. Lalu, apa sebenarnya dua peristiwa atau kejadian yang selalu saya ingat itu?

Pertama, 18 tahun lalu, atau tepatnya pada 1995, adik saya yang berumur 5 tahun, oleh Izrail atas titah Tuhan nyawanya diambil begitu saja, tanpa ada persetujuan dari orangtua saya, maupun saya sendiri sebagai kakaknya. Kalau sudah begitu, siapa yang tak sedih, siapa yang tak menangis ditinggal seorang anak atau adik bungsu yang lagi gemes-gemesnya?

Akhir 2006, atau saat pertama kali saya masuk kuliah, kabar duka itu kembali memancar di benak saya. Barangkali ini kesedihan kedua setelah adik bungsu yang kembar itu meninggalkan kami untuk selama-lamanya. Ya, kali ini kakak saya nomor 3 yang mengalami nasib serupa, yakni dibabat habis oleh sang penjagal kematian, Izrail. Yang paling menyedihkan, pengambilan nyawa itu terjadi di suatu malam takbiran lebaran idul fitri.

Di mana tempatnya? Ini yang membuat saya murka saat itu, tempatnya tidak lain adalah di rumah sakit. Betapa tidak bahagianya keluarga kami malam itu, saat itu. Padahal, besoknya lebaran, eh, kami malah harus ditimpuk duka. Satu lagi yang saya sesalkan, malam itu, ketika Izrail datang, saya tidak sedang di samping kakak saya tercinta. Saya sedang mengambil bantal ke rumah teteh. Ya, cuma 15 menitan lah. Tapi…

Adik saya itu pas lahir kembar. Cowok-cewek. Nah, yang cewek inilah yang lebih dulu menjauhi saya karena dibawa pergi Izrail, entah ke tempat mana, saya tidak paham sampai kini. Sedangkan yang kedua, yang cowok ini, berkat kasih dan sayang-Nya juga, hingga saat ini masih berkomunikasi sama saya. Ia tumbuh dewasa sekarang. Bahkan, kabar terakhir yang saya terima, awal September ini mau sidang skripsi.

Andai adik saya yang perempuan itu ada, ya mungkin hari ini juga, atau sebentar lagi akan wisuda. Yah, itu andai, itu harapan yang saya ungkapkan sore ini, di Bandung yang tak ramah lagi ini. Udah lah, saya tak perlu sedih, tak perlu menangis-nangis sendiri di kamar, atau berimajinasi yang tidak-tidak, yang bahkan malah membuat hati saya tidak tegar. Saya hanya cukup bilang,”Terimakasih Tuhan atas semuanya.”

Lalu, kakak yang nomor 3 itu, sebetulnya ia sudah punya anak 2 saat dirinya bersemayam bersama Tuhan. Laki-laki dan perempuan. Kedua anaknya, yang cowok baru masuk SMA. Adapun yang cewek, sedang duduk di bangku SMP kelas II. Baik adik maupun kakak, kenapa Tuhan ambil nyawanya begitu cepat, saya tahu memang-mereka sedang dalam keadaan sakit.

Ya, sakit fisik. Kalau adik, itu sakit karena terkena campak, sedangkan kakak, walau saya tak tega mengutarakannya di sini, ia terkena luka bakar yang cukup serius di sekujur tubuhnya. Bahkan, pertama kali ke rumah sakit, di ruang UGD saat itu, saya bahkan hampir tak mengenali wajahnya. Tuhan, ampuni segala dosanya. Kuatkan kami yang ditinggalkan. Air mata tertahan, dan saya waktu itu tak bisa bersuara saking tidak menyangkanya.

Kalau pas kejadian adik saya, maklum, karena saya baru kelas III SD. Jadi, sore itu saya menangis di samping emak dan apak. Rasa tak rela kehilangan adik satu-satunya perempuan. Tapi, saat kejadian menimpa kakak saya, di depan kedua orangtua, saya mencoba tidak sedih, tidak memperlihatkan kegundahan.

Justru, entah energi dari mana, saya tetap senyum sembari menguatkan emak, yang diam sesenggukan. “Mak, sabar, ya. Sudahlah, kita hanya diberi titipan sama Tuhan cuma sampai sini. Kita hanya memeliharanya saja. Udah, ya. Tenang, ya. Istigfar saja. Yakin saja, Tuhan pasti bakal memberi pengganti yang lebih baik. Tenang, ya, Mak.”

Tuhan, apapun yang bakal engkau berikan, jadikan hamba-Mu ini tetap bersyukur.

Iklan

8 thoughts on “Dua Kesedihan yang selalu Membayang

  1. entah ini pemikiran yang menenangkan atau malah menyakitkan, tapi ada yang bilang orang mendahului kita menghadap Tuhan itu karena Tuhan sayang sama mereka, Tuhan gak mau mereka “tercemar” oleh dosa dunia. semoga sekeluarga nanti dipertemukan di surga kelak. Amin.

  2. Tuhan itu rumit, buat saya iya, Tuhan itu aneh, betul sekali menurut saya, tapi diantara dua hal itu Tuhan itu Indah dengan segala rencanaNya, even life suck sometimes just keep moving on.. trust me they are now living in a better place full with love..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s