Saat Sepatuku Disol

Saya ingat kalau sepatu saya itu sudah menganga di sekelilingnya. Kalau dipakai, ya rasanya enggak nyaman dan kurang pede. Makanya, pagi itu, dua hari lalu lah. Ada suara si mamang sol sepatu lewat depan kos. “Sol sapatu, sol sapatu, sol sapatu. Solpat, solpat, solpat.”

Saya panggilah dia dari balik jendela kamar. “Mang, ngesol!”

Dengan segera si mamang datang, langsung ke depan pintu kamar. “Mang, kalo sepatu kayak gini berapa, ya?”

“O, 25 ribu-an, Sep!”

“Nya atuh, Mang!” Saya malas nawar.

Si Mamang Sol lagi bekerja. Dari balik jendela, saya bidik dia. Klik!

Si Mamang Sol lagi bekerja. Dari balik jendela, saya bidik dia. Klik!

Saya mulai duduk di samping si mamang sol, di depan pintu. Dia ini orang Banyuresmi, Garut. Kata si mamang, dia jadi tukang sol udah 20 tahunan lebih. “Udah lama, Sep! Dari tahun 83-an amang ngesol. Ya, lumayan!”

Si mamang sol punya 3 anak. Semuanya tamat SMA. Dua laki-laki, satu perempuan. Yang dua udah menikah, sedangkan yang satu kerja. Si amang mengaku, dari profesinya jadi tukang sol itulah ia bisa menyekolahkan ketiga anaknya hingga SMA. “Alhamdulillah, Sep, meskipun ngesol, ya lumayan lah buat kebutuhan anak dan istri.”

Nih, kalau dari dekat. Si mamang sol lagi ngesol. Maaf, sepatu saya baunya minta ampun. Ha

Nih, kalau dari dekat. Si mamang sol lagi ngesol. Maaf, sepatu saya baunya minta ampun. Ha

Lalu, berapa penghasilan mamang sol ini perhari? “Enggak tentu, Sep. Kalau lagi rame, ya sekitar 70 ribu atau 50 ribu-an lah.” Pria berkacamata ini bilang, kalau dia ngekos bersama kedua kawannya di daerah Karangsetra, Kota Bandung. “Perbulan itu kami bayar 250 ribu.” Bagi mamang sol, yang penting buat kos itu bukan mahalnya, yang paling penting nyaman buat tidur.

Berkeliling di seputar mana aja, nih si mamang sol? “Ya, di sekitar Sekeloa (kawasan Dipatiukur) ini aja, Sep!” Si mamang sol ini tiap hari berkeliling di perumahan padat penduduk itu. Meski penghasilannya tak seberapa, ia tetap optimis rezeki akan Β menghampirinya kalau dicari. Ketiga anak dan istrinya tinggal di Garut. “Amang pulang tiap 15 hari sekali. Pokoknya tergantung pendapatan, Sep!”

Walau diajak ngobrol, si mamang sol tetap piawai mengerjakan tugasnya.

Walau diajak ngobrol, si mamang sol tetap piawai mengerjakan tugasnya.

Suka dukanya apa aja, sih, Mang? “Ya, banyak, Sep! Kalau hujan misalnya, amang harus berteduh di tempat seadanya. Terus, kadang pernah seharian keliling, pelanggan enggak ada. Tapi, ya biasa itu, sih! Lagian kan enggak tiap hari sepatu atau sendal orang itu rusak. Yang penting itu, amang harus keluar tiap hari.”

Harga tiap sepatu atau sendal yang disol, kata si mamang sol harganya beda-beda. “Beda, Sep! Itu tergantung jenis sepatu atau sendal, juga tergantung tingkat kesulitannya.” Dan, sepatu saya salah satu sepatu yang menurut mamang itu harganya mahal. Makanya, si mamang minta Rp 25 ribu ke saya. “Ya, Mang enggak papa. Nyantai aja,” kata saya dalam hati.

Finish! Tak sampai 30 menit!

Finish! Tak sampai 30 menit!

Sebelum meninggalkan kos, si mamang sol, saya dengar ia bilang, “Oke, Sep, sukses aja, ya.”

Saya ucapkan terimakasih ke dia. “Siip, Mang! Moga rezeki hari ini banyak, ya, Mang!”

Si mamang sol lalu meninggalkan kos saya. "Sukses, Mang!"

Si mamang sol lalu meninggalkan kos saya. “Sukses, Mang!”

29 thoughts on “Saat Sepatuku Disol

  1. jadi inget, di deket kosan ada mamang sol sepatu mangkal. dan beliau ini kalo sehabis ngesol dan ditanya berapa mang? terus, si mang solpat bilang, terserah eneng, seikhlas nya saja πŸ™‚

  2. Sebenarnya, setiap orang kalau mau berupaya pasti akan mendapatkan rejeki yang cukup tanpa harus menggantungkan hidup pada orang lain.Sayangnya banyak juga ya orang-orang di sekitar kita yang masih menganggur dan mengharapkan kerjaan yang dianggapnya ‘keren’ tanpa melakukan seuatu…
    Salut buang Si Mamang.. .

  3. Aku gak pernah ketemu sama Abang sol sepatu yang keliling begini. Kalo mau ngesol mesti ke pasar dulu. Itupun aku belom pernah nyobain nganter sendiri, hehe. Paling minta tolong ke sodara atau mama, kalo sekalian ke pasar kan bisa nitip. Jadi gak pernah ada pengalaman ngobrol sama mereka. Pengen foto juga sih.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s