Part IV: Memetik Hasil Bumi

Beberapa kegiatan yang saya lakukan saat liburan lebaran kemarin itu cukup beragam. Selain meningkatkan gizi, tidur semau saya, menyemprot rumput yang mulai menggimbal di kebun karet, bermesraan sama kedua orangtua plus kakak-adik dan para keponakan, juga tak lupa-tiap pulang ke rumah, saya pasti ke kebun dan mengambil hasilnya  yang ditanam kedua orangtua puluhan tahun lalu saat pertama kali transmigrasi.

Di antara hasil bumi yang saya peroleh pas pulang liburan kemarin, ialah buah Nangka. Kebetulan, sudah hampir setahun saya tidak mencicipi buah yang kalau masak isinya berwarna kuning ini. Pokoknya, pas tahu adik saya memboyong buah itu dari pohonnya yang tak jauh dari rumah itu, langsung antusias! “Coba ambilkan parang,” kata adik saya.

Nah, ini dia Nangka yang saya maksud. Atau Jackfruit dalam bahasa Inggrisnya.

Nah, ini dia Nangka yang saya maksud. Atau Jackfruit dalam bahasa Inggrisnya.

Maka dibelahlah si nangka itu di samping rumah, di bawah pohon rambutan rindang. Belum sampai 7 menit, eh, datanglah dua-tiga keponakan, ibu saya, dan teteh. Mereka menunggu buah yang bernama ilmiah Artocarpus heterophyllus itu yang sedang dikremasi oleh adik saya. “Sabar..sabar. Ni lagi dibuka,” kata saya.

Puih. Harum menyerbak. Manis rasanya, Bro! Nafsu juga saya mencicipinya di suatu siang terik itu. Pas! Siang-siang makan nangka. Entah saya makan berapa porsi saat itu. Yang pasti, perut saya sampai tak muat lagi kalau saja harus makan nasi waktu itu. Alhamdulillah. Tuhan masih kasih kesempatan buat saya menikmati hasil bumi hasil kreasi-Mu.

Huih. Harum, Bro! Nikmat!

Huih. Harum, Bro! Nikmat!

Keesokannya, tepat lebaran ke-3 saya menemani emak mengambil buah pinang atau sebutan lain, buah jambe yang pohon-pohonnya berjejer di samping rumah, di pinggir sawah, juga yang ada di perbatasan dengan pekarangan milik tetangga. Karena pohon pinang ini terkenal tinggi, ya cara ngambilnya menggunakan bambu panjang yang diujungnya ada pengaitnya. Sekali tarik, wuih, berjatuhan! Sesekali buah pinang itu menimpa kepala saya. Duh, emaaak!

Teteh dan keponakan sedang mengupas buah pinang.

Teteh dan keponakan sedang mengupas buah pinang.

Makanya saya sering was-was kalau emak/apak mengambil buah pinang. Tiga tahun lalu, saat apak mengambil buah pinang pake bambu, eh, malah buah itu jatuhnya tepat di mata kanan apak. Alhasil, mata apak bengkak. Kalau tak salah dua minggu memarnya. Di sekitar matanya berwarna biru. Beberapa kali pula ayah saya itu harus ke Puskesmas. Tapi untungnya, tak ada gangguan terhadap penglihatannya.

Ini emak saye lagi membelah buah pinang. Hati-hati, Mak!

Ini emak saye lagi membelah buah pinang. Hati-hati, Mak!

Pinang ini, kata emak kemarin harganya turun drastis. Cuma, kalau tidak salah dengar, “Empat ribu sekarang!” lontar emak pas aya tanya berapa harga sekilonya. Sebelum dijual di pasar, buah pinang itu terlebih dulu dibelah dua, lalu dikupas kulitnya, untuk kemudian dijemur sampai benar-benar kering. Kalau buah pinangnya lagi banyak, ya lumayanlah buat beli beras dan kebutuhan lain.

Dijemur sampai kering dulu sebelum dijual.

Dijemur sampai kering dulu sebelum dijual.

Selain menangguk pinang, saya juga disuruh emak untuk ke kebun yang jaraknya sekitar 1000 meter dari rumah untuk mengambil coklat. “Coba cek di kebun, siapa tahu coklat sudah masak/kuning,” begitu kata emak, entah lebaran ke berapa, di suatu pagi setelah saya mencuci pakaian. “Lumayan, untuk menambah buat beli sesuatu,” tambah emak.

Nah, kalau yang ini coklat. Dan itu hampir kering.

Nah, kalau yang ini coklat. Dan itu hampir kering.

Sorenya, keponakan saya, Imam dan Ari tiba-tiba datang dengan membawa buah pisang dan beberapa buah durian. Mereka bawa buah-buahan itu dari pekarangan lain milik apak yang juga jaraknya agak jauh dari rumah. “Nih, pisang sama duriannya,” Ari bilang begitu. Pisang yang dibawa Ari itu namanya pisang Jantan disebutnya. Tapi, jantan kok, bisa berbuah, ya? Aneh!

Ini pisang Jantan yang berbuah itu pemirsa.

Ini pisang Jantan yang berbuah itu pemirsa.

Durian juga ada.

Durian juga ada.

Apalagi hasil bumi yang lain? Nah, iya, masih ada. Saya tidak tahu kalau emak memanen ubi pohon. Si ubi pohon ini,oleh emak dijadikan gaplek kalau kata orang Jawa. Ubi dikupas lalu langsung saja dijemur berhari-hari. Kena panas, kena hujan. Kalau sudah menghitam, barulah diangkat, dicuci, lalu diolah jadi penganan. Katanya, itu bisa jadi pengganti nasi.

Gaplek namanya ini. Dalam proses penjemuran.

Gaplek namanya ini. Dalam proses penjemuran.

Satu lagi. Emak juga, waktu itu bikin raginang. Eh, raginang atau rangginang, ya? Saya lupa nama persisnya. Pokoknya, bahan dasarnya dari beras ketan. Ini dia fotonya. Cekidot!

Raginang/Rangginang, ya?

Raginang/Rangginang, ya?

Iklan

6 thoughts on “Part IV: Memetik Hasil Bumi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s