Bingung Dimana Harus Membaca? WC Tempatnya!

bacawc1Bila sahabat sekalian masih bingung, tempat yang paling nyaman, enjoy, enak, serta refresentatif buat membaca, maka saya, kalau boleh, akan mengajukan salah satu tempatnya. Ialah WC, adalah Jamban tempatnya. Tempat yang sering kita kunjungi itu, menurut saya memiliki kesan tersendiri, setidak-tidaknya buat saya dalam hal membaca. Lalu, kenapa mesti tempat itu yang sering saya jadikan tempat mengunyah kata-kata?  Bukankah WC tempat bersemayamnya para syetan dan jin?

Saya pun akhirnya, berani mengatakan tidak tahu! Entah lah. Tapi itu kan pendapat saya. Saya tentunya bebas,dong berpendapat? Saya kira tak ada larangan untuk sekedar mengeluarkan unek-unek di negara yang sangat bebas ini, terutama semenjak bergulirnya reformasi. Apapun, siapapun, kapan pun, dan bagaimanapun, orang bisa mengeluarkan pendapat. Tentunya, selagi itu fakta dan bisa dipertanggungjawabkan. Meski, terkadang, ada sebagian dari kita yang menulis tentang fakta, pada akhirnya ia pun masuk penjara. Masuk Terali Besi. Hanya gara-gara menulis!

Nah, ini nih buku yang saya baca tadi pagi pas ke jamban. Judulnya,"Aku Cinta Indonesia-Jelajah Eksotisme Neger" yang diproduksi oleh Detikcom

Nah, ini nih buku yang saya baca tadi pagi pas ke jamban. Judulnya,“Aku Cinta Indonesia-Jelajah Eksotisme Negeri” yang diproduksi oleh Detikcom

Nah, dalam tulisan sangat sederhana ini saya ingin berbagi pengalaman. Tentunya, apa yang saya alami dan saya rasakan. Saya tidak berharap kepada pembaca semua, untuk mengikuti apa yang saya alami dan rasakan. Tidak sama sekali. Karena, saya kira, pembaca pun punya pendapat berbeda dari apa yang saya tuliskan. Atau mungkin, sahabat semua, bahkan membantah habis-habisan pendapat saya. Itu pun silakan, mumpung belum ada larangan. Bila sudah ada larangan, tertutup bagi saudara-saudara untuk membantah tulisan saya.

Apa yang telah saya sampaikan pada paragraf pertama tak salah. Dan, itu menurut pendapat saya.Tapi, bukan berarti tempat selain yang saya sebutkan tidak enjoy, enak, atau refresentatif. Sama sekali tidak. Sekali lagi, saya hanya ingin berbagi tentang apa yang saya alami mengenai dunia membaca. Ya, baiklah, saya adalah seorang pembaca yang selalu memanfaatkan WC sebagai tempat berselancar bersama puluhan, ratusan, bahkan ribuan kata-kata. Sebenarnya, kalau mau jujur, perilaku saya ini sering mendapat ejekan dari teman-teman satu kos. ”Ih, ke WC kok bawa buku!” begitu kira-kira bentuk keirian mereka pada saya. Saya pun hanya tersenyum, dan tak menanggapinya dengan mengeluarkan kata-kata.

Gak percaya? Tuh, kan, ini di dalam WC, lho. Asyik, lho daripada ngelamun.

Gak percaya? Tuh, kan, ini di dalam WC, lho. Asyik, lho daripada ngelamun.

Jujur saja, bagi saya, WC adalah tempat paling nyaman untuk membaca. Tapi, saya pun tahu etika, bahwa buku yang saya bawa ke tempat itu tentunya bukan buku yang kira-kira disakralkan, baik oleh Tuhan maupun manusia, semisal firman-Nya. Bacaan yang saya bawa ke WC adalah semacam novel, cerpen, esai, artikel, buku anekdot, koran, dan bukan pula bahan bacaan yang kira-kira mengundang syahwat. Majalah Playboy, misalnya. Ya, saya akui betapa asyik membaca di kamar kecil itu. Tenang. Tak ada yang mengganggu. Lumayan, dua, tiga, empat, bahkan lima lembar buku terlewati, tergantung lama tidaknya saya bersemayam di sana. Yah, Itung-itung menambah kosa kata baru.

Apakah setiap WC yang saya kunjungi, saya juga membaca di sana? Tentu saja tidak. Karena, saya pun memilah-milah mana kira-kira WC yang pantas untuk saya jadikan tempat membaca. WC yang jorok, tentu saja saya menghindarinya dari membawa buku. Hanya WC yang berfasilitas lah yang saya kunjungi. Ha. Selain itu, WC yang bisa saya ajak kompromi. Mungkin, menurut saudara, bahwa pendapat atau pengalaman saya ini amat jorok dan kurang diterima. Itu pun dipersilakan. Saya tidak pernah memaksa. Katanya, memaksa itu amat menyakitkan! Katanya, sih!

Ini sih ilustrasi aja.

Ini sih ilustrasi aja.

Sekali lagi, bagi saya, WC adalah tempat yang tidak terbantahkan sebagai ruang kecil buat memamah kata-kata. Dan, kalau boleh jujur, saya lebih menikmatinya di sana tinimbang di kamar atau tempat manapun. Di kamar itu ribut, bising kurang tenang dan banyak gangguannya. Misalnya, ketika saya di kamar, baru saja membuka buku novel atau apalah itu selalu saja datang godaan. Seorang tetangga kamar tiba-tiba datang dan mencoba membuyarkan konsentrasi saya yang sedang tenggelam dalam lautan Dunia Sophi-nya Jostein Gaarder.”Wah, mau jadi Filsuf,ya? Baca terus,nih!” ucapnya bikin saya geer. Kalau sudah begitu, kan saya jadi malu . Mungkin, itu juga salah satu sifat saya, saya kurang setuju dengan pujian.

Setelah ia memberikan komentar atas apa yang sedang saya lakukan, saya kemudian diam sejenak. Berpikir apa yang harus saya katakan/lakukan untuk membalas atas perhatinnya pada saya. Akhirnya, tak banyak yang saya lakukan terhadapnya, kecuali sesungging senyum. Itung-itung shadaqah untuk hari itu, pikir saya. Karena memang, jika mengandalkan materi, saya tak punya cukup uang untuk sekedar berinfak. Jadilah seuntai senyum saja yang saya sumbangkan. Lumayan.

Lumayan! Dua lembar habis!

Lumayan! Dua lembar habis!

Setelah senyum saya lemparkan ke dia, langsung saja langkah kaki saya ayunkan ke arah Jamban. Dua tujuannya: menabung kotoran, juga sekaligus melanjutkan novel bertema filsafat yang ditulis orang Norwegia itu. Tiba di WC, proses ekskresi pun berlanjut dan buku saya timang di atas dua tangan. Nyam.Nyam. Asyik,kan? Sambil menyelam minum air, istilahnya. Aman. Tidak ada yang mencoba menggangu atau memuji barangkali. Yang ada, cuma godaan suara-suara tetesan air kran serta suara Bom berjatuhan ke sebuah benteng yang tak dapat dipertahankan!

Si Kodok Ijo aja membaca, tuh!

Si Kodok Ijo aja membaca, tuh!

24 thoughts on “Bingung Dimana Harus Membaca? WC Tempatnya!

  1. Kalo ujian mepet, jangankan WC, lagi mandi aja pasti aku baca (eh?) mwahaha 😆 😆

    Boleh aja kalo mau baca di wc tapi kalo bisa yang klosetnya duduk, gak jongkok. Bayangin kalo nabungnya udah tapi ngerasa tanggung sama bukunya, jadi minta tambahan waktu #ngeek. Mikin lama jongkok, bisa ambeien kan nanti? 😀
    Aku dulu juga kadang suka bawa buku ke wc, cuma pas sekali buku yang aku pegang jatoh dan basah, jadi gak mau lagi. hehe

  2. gak suka baca buku sambil di WC. mungkin karena WC jongkok jadi gak nyaman aja, gak tau deh kalo WC duduk.

    pernah juga ke WC rumah temen, si bapaknya temen ku itu hobi banget baca di WC sampe di buat rak buat naro buku sama koran gitu.. berasa perpustakaan mini liatnya -.-

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s