Part II: Kali Ini Nyate Biawak!

Ini ni biawak hasil tangkapan itu.

Ini ni biawak hasil tangkapan itu.

Siapa yang pernah menjadikan biawak sebagai penganan? Kalau pernah, berarti tahu apa rasanya menikmati binatang sebangsa reptil tersebut. Pekan lalu, atau lebaran ke-5, saya berhasil menjerat bayawak, kalau istilah Sundanya, di pinggir sungai kecil, di belakang rumah, di kampung halaman saya, Desa Sukamakmur, Kecamatan Putri Hijau, Kabupaten Bengkulu Utara.

Sebelum disembelih, saya raba dulu punggungnya.

Sebelum disembelih, saya raba dulu punggungnya.

Saya tak sekedar menangkap biawak yang beratnya diperkirakan 2 kilogram itu. Tetapi, binatang yang memiliki panjang sekitar 30-40 cm itu saya eksekusi. Yang banyak dagingnya itu di bagian paha dan ekor. Keduanya saya sayat menggunakan pisau nan tajam, lalu dagingnya diambil, kemudian dicuci, dipotong kecil untuk dijadikan satai atau sate.

Isi perut biawak mulai dibongkar.

Isi perut biawak mulai dibongkar.

Saat mengeksekusi biawak, itu saya tak sendirin. Saya ditemani dua keponakan: Fifah dan Rahmat. Mereka agak ngeri-ngeri melihat saya memotong-motong tubuh Goanna, istilah di Inggris itu. Anehnya, begitu biawak telah saya sembelih di bagian leher, saya menyangka ia langsung mati. Tetapi, 15 menit kemudian, binatang berkulit seperti batik itu meronta bahkan bisa berjalan. “Biawak memang punya dua nyawa!” ucap saya sekenanya ke ponakan.

Daging yang ada di bagian ekor biawak.

Daging yang ada di bagian ekor biawak.

Melihat biawak berjalan, (padahal sudah disembelih) kedua ponakan malah ketawa-tawa sambil juga terkaget-kaget. Saya juga begitu. Tapi, melihat tingkah biawak yang aneh itu, saya biarkan saja. “Sampai mana kau bertahan?” kata saya dalam hati. Lama-lama, si biawak lunglai. Tewas tapi tak mengenaskan, saudara! Penyayatan saya lanjutkan.

"Mang, fotoin dulu, dunk!" ponakan saya bilang.

“Mang, fotoin dulu, dunk!” ponakan saya bilang.

Saya tak mengambil banyak daging yang berwarna putih kemerahan itu. Cukup seadanya saja. Sebab, pengalaman 4 bulan silam, daging biawak yang saya sop dan goreng tak habis termakan. Yang ada, saya malah terlihat mabuk. Kenapa? Di rumah yang beranggotakan 5 orang, cuma saya saja yang melahap daging kenyal itu. “Enggak ah. Enggak biasa,” kata bapak waktu itu.

Bagian hatinya.

Bagian hatinya.

Ini keseluruhan daging yang dijadikan satai/sate.

Ini keseluruhan daging yang dijadikan satai/sate.

Magrib hampir datang ketika 10 tusuk sate sedang saya panggang di atas bara api. Harumnya sore itu begitu menggoda. Ponakan saya, Fifah tetap mendampingi saya hingga proses memanggang selesai. “Coba, ya, Mang?” Fifa bilang begitu. “Coba lah! Belum pernah coba, kan? Dijamin enak! Ayo ambil aja,” lanjut saya. “Enak, Mang!” kata Fifah setelah mencicipinya.

Sedang dipanggang di Hawu/tungku.

Sedang dipanggang di Hawu/tungku.

Jadi juga, ya walau sederhana. Tanpa kuah kacang.

Jadi juga, ya walau sederhana. Tanpa kuah kacang.

Beberapa informasi mengenai manfaat daging biawak berhasil saya dapatkan. Ada yang bilang, dagingnya berguna untuk mengobati penyakit kulit. “Kalau gatal-gatal di kaki atau di badan, daging biawak obatnya,” kata tetangga saya, yang petani karet 4 bulan lalu. Cara penggunaannya gimana? Tetangga saya itu akhirnya menjelaskan panjang lebar.

Katanya beragam manfaat dagingnya.

Katanya beragam manfaat dagingnya.

“Bisa langsung dimasak. Bisa juga digoreng di atas kuali tanpa minyak. Karena tanpa minyak pun, daging biawak itu menghasilkan minyak. Nah, minyaknya itulah dioleskan ke bagian tubuh yang kena kurap. Pokoknya yang gatal-gatal. Insyaallah sembuh. Namanya juga orang kampung, pake obat tradisional lebih ampuh!” lontarnya.

Selain buat obat gatal, kira-kira, ada lagi enggak? Kalau tidak salah baca, pas saya ber-googling ria, daging biawak bisa juga untuk membantu meningkatkan vitalitas kaum pria. Benar, enggak, ya? Harus dibuktikan!

Adakah manfaatnya daging biawak? Perlu dibuktikan.

Adakah manfaatnya daging biawak? Perlu dibuktikan.

Iklan

36 thoughts on “Part II: Kali Ini Nyate Biawak!

  1. Ngga kepikiran sama sekali buat makan biawaaakkk…
    Pernah liat biawak sekali doang seumur hidup. Itupun biawak yang diawetin buat jadi pajangan rumah. -_-
    Itu daging biawaknya berasa kayak daging apa deh??

    • Sesekali harus dipikirkan untuk brani menantang mencicipi reptil itu Beki. Ha. Wah, itu mah yang udah dibalsem kayak Firaun, ya. Berasa kayak daging ayamlah kalo gak salah. Kalo direbus/disop, wuih, ngabudah..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s