Kata Siapa Indonesia Merdeka?

“Hadirin sidang Jum’at yang berbahagia, sesungguhnya bangsa Indonesia belum sepenuhnya merdeka. Apa buktinya? Masih banyak anak cucu kita di belahan lain negara kita yang belum mengenyam pendidikan. Bukan karena mereka tak mau sekolah, tapi biaya masuk sekolah tak sanggup dipenuhi. Di bidang sosial, sebagian dari saudara kita masih ada yang telantar, terombang-ambing, seolah-olah negara abai atas kondisi mereka.”

Demikian serpihan isi khutbah Jum’at (16/8) kemarin yang saya tangkap di tengah kantuk yang menggila. Cuma itu kah pesan khotib? Tidak, masih ada ternyata yang nyangkut di ingatan saya yang pas-pasan ini. “Di bidang hukum, aparat penegak hukum tak jujur dalam menghukum yang jelas-jelas divonis bersalah. Kalau uang sudah dipertuankan, maka begitulah jadinya, ternyata ada tebang pilih. Pencuri buah Nangka diadili, sementara pejabat yang korupsi ratusan milyar, malah melenggang bebas! Ini belum merdeka namanya.”

Saya juga tidak tahu, sebetulnya, yang disebut negara merdeka itu seperti apa, sih? Dengan kata lain, ada tidak ciri yang masuk akal kenapa sebuah negara disebut merdeka. Atau, hanya cukup mengamini pendapat khotib Jum’at itu saja, tanpa memerhatikan aspek lain? Di tengah terik itu, lalu khotib melanjutkan petuahnya.

“Hadirin sidang Jum’at yang dimuliakan Allah Swt. Meskipun kondisinya demikian, sebagai orang Islam, kita harus tetap optimistis, bahwa di kemudian hari, bangsa Indonesia akan benar-benar merdeka dari setiap sisi, dari setiap bidang. Asal, kita semua harus optimis dan tentu pula selalu berusaha ke arah sana. Utamanya, pemimpin negara haruslah bisa memerdekakan semua rakyatnya dari kepayahan, bukan memerdekakan perutnya sendiri.”

Lalu, momentum perayaan HUT RI ke-68 tahun ini, selain harus optimistis dan selalu berusaha untuk menggenggam kemerdekaan yang paripurna, apa lagi yang harus dilakukan? “Hendaknya, siapa pun orangnya mari kita asah kepekaan kita terhadap kondisi di lingkungan kita, misalnya kaum papa. Terhadap mereka, yang paling mereka butuhkan adalah perhatian, bukan pengabaian seperti apa yang terjadi saat ini,” begitu lanjut sang khotib berapi-api.

Selain ceramah Jum’at yang saya kutipkan di sini, di ranah jejaring sosial pun, ramai ditulis dalam status-status mereka. Yang pendapatnya hampir mirip-mirip. Misalnya, “Merdeka itu kalau rakyat miskin bisa sekolah gratis, berobat gratis, dan mendapatkan hukum yang adil. Merdeka!!!,” tulisnya 5 jam lalu melalui BB Smartphone-nya yang profesinya Jurnalis itu.

Kawan saya-guru honorer di Ciamis, juga menulis begini,” Sejatinya kemerdekaan adalah ketika rakyat mendapatkan haknya sebagai warga negara. Perlindungan (keamanan & kenyamanan), pendidikan, kesehatan, dan kesejahteraan.” Kalau saya, merdeka itu seperti apa? Ya, kalau di emperan toko sudah tak ada lagi yang tidur di siang hari seperti foto di bawah tulisan ini. Kalau masih begini, itu tandanya kita, Indonesia belum sepenuhnya merdeka. Sebab, hal sekecil ini pun pemerintah tak sanggup membereskannya. Tapi, saya lagi-lagi ingat petuah khotib, bahwa kita akan merdeka yang sesungguhnya kalau mau optimis dan tetap berusaha.

Tuh, kan. Begini ya merdeka itu. Foto ini saya ambil, sekitar pukul 07.30 di depan sebuah toko di jalan Soeprapto, Kota Bengkulu, Jum'at (16/8), atau sehari jelang perayaan HUT Ri ke-68.

Tuh, kan. Begini ya merdeka itu. Foto ini saya ambil, sekitar pukul 07.30 di depan sebuah toko di jalan Soeprapto, Kota Bengkulu, Jum’at (16/8), atau sehari jelang perayaan HUT RI ke-68.

Jangan bilang, itu sekedar bungkusan apa gitu. Tapi, itu orang. Tuh, jelas, kan? Nyenyak. Minimal, dia merdeka untuk dirinya dari Satpol PP.

Jangan bilang, itu sekedar bungkusan apa gitu. Tapi, itu orang. Tuh, jelas, kan? Nyenyak. Minimal, dia merdeka untuk dirinya dari Satpol PP.

Pagi-pagi kemarin itu juga, perjalanan saya lanjutkan ke Masjid Jamik, masjid yang dirancang oleh Bung Karno pas pengasingan di Bengkulu (1938-1942).

Pagi-pagi kemarin itu juga, perjalanan saya lanjutkan ke Masjid Jamik, masjid yang dirancang oleh Bung Karno pas pengasingan di Bengkulu (1938-1942). Dua anak telantar masih nyenyak. Kesimpulannya: Indonesia belum MERDEKA!

 

 

Iklan

10 thoughts on “Kata Siapa Indonesia Merdeka?

  1. Sedih liat orang tidur dalem bungkusan sama dua anak depan masjid itu.

    Tiap 17an selalu dengan bangga aku bilang “Merdeka”. Pas baca ini jadi inget lagi, aku hari ini udah bilang merdeka berapa kali? Sering bilang, tapi gak ngerti artinya apa.

  2. mengisi kemerdekaan memang nggak mudah dan penuh cobaan, nggak semua pihak punya goal dan visi yang sama terhadap bangsa.

    hai masnya saya pilih sebagai salah satu penerima award Moonshine Blogger Award. silahkan diambil di akhir postingan ini: themoonhead.wordpress.com/2013/08/17/hut-ri-ke-68-the-moon-head-2nd-anniversary/ 🙂

  3. Merdeka itu menurut saya bebas dari jajahan. Dan saya rasa kita saat ini masih dijajah “secara terselubung”, misalnya di bidang ekonomi. Kalau dijabarkan lagi, bisa panjang banget. Banyak hal yg membuat negara kita nggak bebas untuk mengatur diri sendiri. Terlalu banyak kekangan dari negara-negara lain….

    • Selain itu juga, kita masih dijajah perasaan. Negara dimain2kan Malaysia aja, kita gak berani tegas! Sekali lagi, belum merdeka! Sepenuhnya..Makasih Om atas kunjungannya. Sukses!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s