Menikmati King of Fruit di Bumi Rafflesia

Rajanya buah-buahan, ya Durian. Makanya, disebut King of Fruit, begitu kata Kiai Wikipedia.org yang pernah saya jenguk. Malam ini, selepas salat Isya, adik saya menantang saya, “Durian lagi banjir, tuh di jalan-jalan sekitar kota, Bro! Kalau mau, sini duitnya, ayo kita beli!” itu yang saya tangkap di gendang telinga saya, di malam bertabur gemintang itu.

Tantangan itu tak saya sia-siakan. Mumpung masih ada sisa duit THR, maka saya beranikan diri menjawab, “Siapa takut! Cepat, kita sisir Durian itu berada. Sekarang!”ucap saya keras-keras di hadapan adik saya, yang rencananya Selasa (20/8) besok mau sidang skripsi ini. Ya udah, itung-itung menjamu menghadapi sidang skripsi, maka saya beri dia buah asli Asia Tenggara itu. Gratis!!

Adik saya mulai memilah "Raja dari Segala Buah", di jalan S. Parman, Kota Bengkulu, Kamis (15/8) malam.

Adik saya mulai memilah “Raja dari Segala Buah”, di jalan S. Parman, Kota Bengkulu, Kamis (15/8) malam.

Tak menunggu lama, kami pun langsung meluncur ke beberapa titik yang biasa digunakan penjual Durian mangkal. Tepat di seberang gedung BCA, atau di jalan S. Parman, Kota Bengkulu, di sana, saya lihat bertumpuk-tumpuk buah Durian segar. Kami pun mencoba mampir, memegang-megang, menawar-nawar. Bila tak cocok harga, ya kami harus pindah tempat.

Kata penjualnya, ini Durian Utara, tepatnya dari Lubuk Durian.

Kata penjualnya, ini Durian Utara, tepatnya dari Lubuk Durian.

Durian berbuah setahun sekali. Awalnya, saya mengira kalau buah kontroversial itu berbuah dua tahun sekali atau lebih. Ternyata tidak. “Setahun sekali, Bang!” kata penjual Durian pas saya tanya. “Ini Durian Utara (Kabupaten Bengkulu Utara, red). Rasanya lebih manis dari durian Selatan (Kabupaten Bengkulu Selatan, red),” begitu lanjutnya.

"Lebih enak dari Durian Selatan," kata penjual itu.

“Lebih enak dari Durian Selatan,” kata penjual itu.

Begitulah pedagang. Akhir 2012, saya sempat beli buah yang memiliki nama latin Durio Zibethinus di depan gedung Balai Buntar, tak jauh dari Rumah Dinas Wakil Gubernur Bengkulu. “Ini Durian Selatan, Bang! Lebih enak dari Durian Utara. Dijamin enggak menyecewakan. Ayo pilih!” lontar pedagangnya waktu itu. Kalau begitu, para penjual, baik yang menjual Durian Utara maupun Selatan-mereka saling menjelekkan. Ini persaingan tak sehat.

Anak kecil saja, malam-malam begitu cari Durian, ia diantar mamanya saya lihat.

Anak kecil saja, malam-malam begitu cari Durian, ia diantar mamanya saya lihat.

Saya lihat, Durian yang menumpuk di seberang gedung BCA itu tampak gempal-gempal, sehat-sehat. Dari bentuk fisik, mantap pokoknya. Saya percayakan, kalau memilah-memilih buah yang bisa dijadikan Tempoyak itu pada adik saya. Ia paling jago milih Durian, mana yang kualitas isinya enak, dengan yang rasanya hambar. Belum lagi, adik saya ini pebohi Durian paling utama di keluarga saya, setelah saya.

"Sabar, ya, Dek. Mamang kupas dulu buahnya."

“Sabar, ya, Dek. Mamang kupas dulu buahnya.”

Buah Durian memang belum begitu banjir. Dan itu, tentu saja berdampak pada harga. Semakin banjir, harga pun relatif murah. Kalau masih jarang, ya bisa-bisa harga satu butir Durian, kalau ukuran besar mencapai Rp 50 ribu! “Kalau yang ini 15 ribu, yang sebelahnya Rp 20 ribu, kalau yang ini Rp 30 ribu,” kata penjual Durian ke adik saya.

Harganya memang belum terlalu murah. Belum banjir banget.

Harganya memang belum terlalu murah. Belum banjir banget.

Tawar menawar pun berlangsung sengit. Akhirnya,  adik saya pilih Durian yang harganya Rp 15 ribu/buah. Lumayan gede lah. 3 buah dipilihnya. “Mana uangnya?” adik saya bilang begitu ke saya. Cepat-cepat saya sodorkan uang Rp 50 ribu ke penjual buah yang bikin ketagihan itu. Lalu, pakai apa bawa buah itu ke rumah?

Begini cara efektif bawa Durian kalau di motor.

Begini cara efektif bawa Durian kalau di motor.

Aduh, kaki mungil saya kelihatan. Jadi malu, nih.

Aduh, kaki mungil saya kelihatan. Jadi malu, nih.

 

“Cantolkan aja di motor!” ucap saya. Kami pun meninggalkan tukang buah Durian dengan perasaan lega. Udara malam terus kami jelajahi. Motor yang dijalankan adik saya tak terlalu kencang. Kalau ngebut, tali ikatan Durian bisa jadi lepas. Kan berabe kalau sampai menggelinding di tengah jalan.

Nyampe juga ke rumah. Alhamdulillah, ikatan talinya enggak lepas!

Nyampe juga ke rumah. Alhamdulillah, ikatan talinya enggak lepas!

Pokoknya, 3 biji ini harganya Rp 45 ribu.

Pokoknya, 3 biji ini harganya Rp 45 ribu.

 

Sampai rumah, parang panjang merobek tubuh kulit yang berlekuk-lekuk keras nan tajam itu. Bila tak hati-hati, kulitnya yang menyerupai duri itu bisa melukai tangan. Tak sampai 10 menit, tubuhnya terbuka. Nyam. Nyam. Nyam. Huih, manis banget, kental mirip Blue Band.

Mantap, kan isinya? Siapa dulu, dunk  yang pilih.

Mantap, kan isinya? Siapa dulu, dunk yang pilih.

Saudara Aljud juga ikut menikmati. Nyam. Yami!

Saudara Aljud juga ikut menikmati. Nyam. Yami!

 

14 thoughts on “Menikmati King of Fruit di Bumi Rafflesia

  1. mantap sekali. sy bisa ngabisin dua, apalagi kalo gratis, haha… ah pedagang emang seneng muji2 barang dagangan sendiri. trik pedagang ya gitu. ternyata di sini lebih mahal walau sedang panen. bisa sampe 45ribu per buah. padhal gak besar2 banget kayk itu

  2. Wuih mantap nih ada durian, saya pernah dikasih atu cara beli durian supaya dapet yang mantap dan gak ketipu (meskipun sy yakin banyak sekali pedagang yang jujur di Indonesia ini, sangat banyak). Caranya, “Mang beli durian yang bagus2, terus langsung dibuka disini.” katanya sih gitu caranya,,, tapi sy jarang langsung dibuka ditempat.. dan alhamdulillah isinya bagus2 hehehehe

    salam kenal ti Bandung

  3. Sama kaya politik aja berarti ya, di pemasaran ada black campaign juga. Saling menjatuhkan produk lain.
    Sampe sekarang, belum pernah nyoba makan si durian ini.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s