Catatan dari Kuburan Kerkof

Awal Agustus (1/8/2013) kemarin saya lewati hari pertama berkeliling Kota Bandung. Selain ngabuburit, mengelilingi kota berjuluk Paris Van Java tersebut, ya untuk kesenangan saja. Soalnya, kota bersejarah itu hingga kini tak membuat saya bosan. Ada saja ide, kalau lagi nyantai pengennya itu jelajah di tiap sudut kotanya. Alhasil, kalau kemarin itu saya iseng mampir di salah satu kompleks perkuburan nonMusim. Katanya, namanya itu Kerkof, letaknya di ujung Jembatan Layang Pasupati-salah satu ikon Bandung.

Kanan-kirinya itu kuburan. Campur, ada Cina maupun pribumi yang beragama Kristen.

Kanan-kirinya itu kuburan. Campur, ada Cina maupun pribumi yang beragama Kristen.

Saya terus susuri area pemakaman yang cukup luas itu dengan tenang. Tentu, kamera ponsel selalu saya aktifkan. Tak lama, di sebelah kiri, ada dua bocah sedang menaiki kuburan. Mereka menaburkan bunga berwarna ungu di atas pusara itu. Saya mengira, o, mungkin mereka sedang ziarah di salah satu keluarganya. Pas saya tanya, ternyata bukan. Kedua anak itu mengaku tinggal tak jauh dari kompleks peristirahatan terakhir itu.

Ini dia salah satu anak itu. Namanya Meymey. Wajahnya, sih, mirip Korea.

Ini dia salah satu anak itu. Namanya Meymey. Wajahnya, sih, mirip Korea.

Maka, saya tanya lagi ke mereka,”Eh, kalian orang Islam, kan?” Mereka jawab hampir serentak,”Iya, dunk, A! Di sini mah kami cuma mau main-main aja. Karena di rumah lagi enggak ada kerjaan!” begitu katanya. Saya buntuti terus langkah mereka. Ternyata, pindah ke kuburan yang ada di sebelah kanan jalan. Dan, bunga yang ada di kantong plastik terus mereka taburkan. Byuuurrr!

Dengan menaiki di atas kuburan, mereka taburkan bunga-bunga itu. O, iya, di sebelah Meymey, itu namanya Mariana.

Dengan menaiki kuburan, mereka taburkan bunga-bunga itu. O, iya, di sebelah Meymey, itu namanya Mariana.

Riang-gembira mereka terus taburkan bunga-bunga itu.

Riang-gembira mereka terus taburkan bunga-bunga itu.

“A, kan udah foto-foto kami, nanti bayar, ya kami?” celoteh mereka di hadapan saya, sambil senyum-senyum. Saya balas senyum lagi. “Dek, dek, sini. Coba kalian berdiri, Aa mau ambil gambar kalian. Bolah, ya?” Mereka tak menjawab, tapi langsung berdiri. Klik! Iseng, saya lontarkan lagi tanya,”Neng, pada puasa, enggak?” “Iya, dunk, A! Puasa, dunk!” jawab mereka.

Meymey dan Mariana. Mey, andai usiamu 20, Aa pasti main ke rumahmu. Ha

Meymey dan Mariana. Mey, andai usiamu 20, Aa pasti main ke rumahmu. Ha

“Puasa, kan kalian?”

“Iya, Aa…,”

“Nih, ada Rp 5000 buat berbuka nanti. Aa cuma ada segini.”

“Aduh, makasi, ya Aa. Rezeki memang enggak kemana!” ucap Meymey yang saya dengar. Mereka pulang, kami pun beranjak. Moga ketemu lagi Mey dan Mariana. Moga kalian cepat dewasa, bahwa yang kalian lakukan barusan di atas kuburan nonMuslim, jarang, bahkan tak ada yang melakukan selain kalian. Yang mengajari kalian, saya yakin juga tidak ada. Ini dilakukan atas kesadaran, bahwa toleransi itu penting.

Kuburan di antara pengendara

Kuburan di antara pengendara

 

 

 

 

 

 

21 thoughts on “Catatan dari Kuburan Kerkof

  1. 🙂

    tergelitik kata itu. toleransi…..
    hmhmhmhm….

    hayo ngaku. lo pasti ingat gue pas ke kuburan itu…
    *GR*

    btw,harunya tanyain “dek,punya teteh umur 20 taun nggak?”,gitu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s