9 Kali Tes CPNS Baru Lulus. Mau?

Saya buka tulisan kali ini tentang pengalaman kakak laki-laki pertama saya yang mengadu nasib menjadi PNS, abdi negara Indonesia itu. Tak mudah bagi Aa Usup, panggilan kakak saya itu bisa melenggang jadi PNS. Saat tahu betul, berapa kali yang kini jadi penghulu di sebuh KUA di Kabupaten Bengkulu Utara, itu mengikuti tes CPNS. Ya, ia sudah tes 9 kali. Pada tes terakhir itulah, kakak yang lulusan IAIN Raden Fatah, Palembang, itu dinyatakan lulus!

Saya buka akun facebook. Ada pesan dari seorang kawan-yang kebetulan ia seorang PNS di sebuah rumahsakit di Kabupaten Bengkulu Tengah, Bengkulu. Begini pesannya,”A…ada info untuk mu, td di koran RB (koran yang terbit di Bengkulu) ada formasi CPNS salah satunya membutuhkan Lulusan Sarjana Sastra, nah Kia bru ingat klo a kan ada sastra nya jga, tpi Kia blm tau pasti apakah sastra arab atau bkn, hayyuuu a cri tau lbh dalam n bruan ikutan murni loh a skrg pemprov bkl pake sistem online n CAT gitu, okeeee.”

Ada kegembiraan dalam benak usai membaca pesan dari kawan yang lulus CPNS pada 2007 itu. Kenapa gembira? Pertama, karena formasi untuk lulusan Sastra Arab, seperti pesannya itu, ternyata ada. Sebab, biasanya, yang butuh sastra Arab itu, kalau tidak Kemenag, ya Kemenlu. Entah lembaga lain, saya belum coba searching. Kedua, ada kemungkinan saya coba mendaftar, karena di Pemprov Bengkulu membuka lowongan CPNS, dan salah satuya butuh formasi Sastra Arab. Ketiga, saya diselimuti trauma tiap kali dengar ada lowongan CPNS

Apa yang saya traumakan? Mencoba saja belum, kok sudah merasa trauma, sih? Begini. Kalau melihat pengalaman kakak pertama saya itu, saya jadi ingat betapa tidak mudah menjadi abdi negara itu. Saya mau bilang, bahwa katanya kalau seseorang dekat pejabat yang memiliki kewenangan memutuskan sesuatu, maka orang yang dekat pejabat itu, bila ingin berurusan dengannya akanΒ  dipermudah. Itu baru katanya. Tapi, apa yang dialami kakak saya tidak demikian. Kok?

Kakak saya bukan tidak dekat dengan pejabat. Saya tahu, ia dekat, bahkan-dalam organisasi kemasyarakatan yang pernah kakak saya pimpin, kebetulan, si pejabat yang memimpin sebuah lembaga setingkat Gubernur itu menjadi bawahan kakak. Ya, lebih jelasnya-kakak saya jadi ketua, dia jadi ketua bidang di organisasi tersebut. Mereka berdua sangat dekat. Tapi, seperti yang pernah Aa katakan, kedekatakan ternyata tidak selalu membawa berkah kalau kita, katanya tidak memiliki uang.

Uang. Apa maksudnya? Untuk meminta tolong kepada seseorang, tak tiap orang yang dimintai tolong itu langsung membantu apa yang kita minta. Intinya, tidak cukup “sekedar” minta tolong, kalau tidak membawa sesuatu bernama duit. Ya, ada timbal balik. Loe jual, gue beli. Begitu barangkali istilah sederhananya. Dan, kakak saya, kerap kali saat ada pendaftaran CPNS, selalu menemui dulu kawan dekat yang jadi pejabat itu, karena tahu, formasi CPNS itu ada di bawah lembaganya.

“Pak, saya daftar CPNS tahun ini. Minta tolong lah kalau berkenan,” cerita kakak ke saya suatu hari. Si pejabat itu, ya diam saja kata kakak saya. Singkat cerita, pengumuman CPNS pun bergulir. Pas dilihat di koran, eh, nama dan nomor ujian kakak tak ada. Belum beruntung, ujar kakak saat itu. Menjadi PNS adalah untung-untungan. Kalau untung, ya buntung. Kalau enggak sabar, mening disarankan cari pekerjaan lain. Sebab, yang disebut abdi negara itu, bukan saja PNS!

Yang bikin heran itu, kawannya kakak saya. Sama, kawan ini juga dekat sama pejabat. Pejabatnya, ya itu masih pejabat yang sama. Sama pula, beberapa hari sebelum tes CPNS berlangsung, si kawan kakak saya itu berkunjung ke rumah si pejabat. Biasa, kemungkinan pasti dia bilang,”Pak, saya daftar CPNS.” Lalu apa yang bikin heran kakak saya? Kawan itu, pas pengumuman, lulus! Namanya muncul di koran! Padahal, saat sama-sama mengerjakan soal CPNS (kebetulan satu ruangan, duduknya bersebelahan lagi). Yang tak kalah heran, saat ujian itu, kawan itu sering banyak tanya mengenai jawaban soal CPNS yang sedang dikerjakan ke kakak saya. Bedanya, kakak saya tak banyak tanya, ia kerjakan sesuai keyakinannya.

Saya tanya ke kakak saya. “Pas Aa silaturahmi ke pak..(pejabat itu), Aa memang enggak bawa sesuatu, ya?” Aa saya tahu, apa yang dimaksud dengan “sesuatu” itu. Kakak saya hanya bilang,”Aa cuma sekedar omongan minta tolong aja, tidak lebih. Kalau uang, lagian darimana Aa dapatkan? Apalagi, kalau soal sogok itu bukan tipe Aa. Aa enggak peduli, yang penting ada usaha. Mau lulus mau enggak, itu terserah. Aa hanya memanfaatkan momen yang ada, mumpung umur masih bisa buat daftar CPNS!” sahut kakak kala itu.

Tiap kali ada lowongan CPNS, kakak kerap silaturahmi ke pejabat itu. Bahkan, dengan sang istri pejabat itu, kakak saya sudah menganggapnya seperti ibu sendiri. Dan tiap datang itu, lagi-lagi cerita kakak, bahwa kakak saya ini tak membawa “bingkisan” lain. Huh, kakak…kakak..kakak. Kenapa, sih enggak bisa seperti kawan-kawanmu yang lain yang lebih “lincah”, bahkan mereka rela meminjam puluhan juta rupiah, demi “melobi” sang pejabat. Kenapa kakak begitu beda?

Yup. Sembilan kali kakak saya mencoba peruntungan jadi PNS, ternyata membuahkan hasil. Ke-9 kalinya itu, tetap-kakak juga masih berkunjung ke pejabat itu untuk meminta doa. Ya, hanya silaturahmi doang. Tak lebih. Untunglah, di 2005 kakak lulus CPNS! Sumringah juga tidak saya lihat. Ya biasa aja begitu. Enggak nyangka intinya. Terus, saya mau ikut daftar CPNS tahun ini? Inilah yang saya traumakan sekarang! Daftar enggak, ya? Daftar enggak, ya? Daftar enggak, ya? Dekat pejabat tidak, punya saudara yang jadi pejabat juga tidak. Lalu, apa yang kamu andalkan Hasan?

“Aku punya, Tuhan!” hati kecil saya bilang.

36 thoughts on “9 Kali Tes CPNS Baru Lulus. Mau?

  1. daftar aja. kayak kamu bilang itu, daftar cpns itu untung-untungan. biasanya selain kursi yang udah ada pemiliknya, mereka juga nyiapin kursi buat yang benar2 beruntung πŸ™‚

  2. Lulus kuliah tahun 2010 dan langsung semangat ikutan tes CPNS, hasilnya gak ada yang lolos…..hehehhe…..Insyaallah tahun ini ikutan lagi *masih semangat kok

  3. daftar aja. tapi juga harus cermat.
    Coba cek peluang lain di sekeliling. Misalnya: mau masuk ke Dinas Kesehatan – kan ada Dinkes propinsi, daerah, ataupun sekarang coba di Dinkes kota Cirebon, nanti coba juga di yang kota lainnya. Teman saya menerapkan kayak gitu dan dapat. tanpa embel2 uang.
    tapi memang setelahnya saat mau pindah harus ada salam tempel juga. 😦

    Ayo semangat mencoba…
    btw.. alasannya jadi PNS apa nih.

  4. Memang susah kalau hanya berbekal keyakinan ya Mas. Tapi kalau memang kita punya kemampuan pasti tembuslah, asal tidak mudah putus asa saja.
    Anyway, aku punya pertanyaan yang sama dengan Mas Ryan, kenapa sih koq pengen banget jadi PNS?

    • He. Iya, kemampuan saja rasanya belum cukup. Pintar, maksudnya, pak? Ya, sembari siapin uang juga kali ya..he. Sebetulnya, ngebet banget sih enggak pak jd PNS. Tapi, kalo ada ksempatan kanapa, tidak? Alasannya ad, sih. Tapi ntar pak, msh proses penulisannya…he

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s