Mudik Enggak, Ya? Bingung…

Kawan-kawan saya di kosan hawanya sudah ngomongin jadwal mudik ke rumah masing-masing. Maklum, lebaran tinggal menghitung hari alias, ya sekitar dua mingguan kurang. Sementara saya, mendengar mereka curhat tentang rencana mudik, ya hanya senyum-senyum dan tetap antusias. Kata mereka, mudik adalah waktu dimana harus berkumpul sama keluarga besar. Memangnya, kumpul bareng enggak bisa ya di luar lebaran?

Bukan begitu, kata kawan yang lain. Tapi, berkumpulnya¬† sama keluarga tercinta saat momen idul fitri adalah sesuatu yang berbeda. Dan, suasananya pun lebih meriah dibandingkan hari-hari biasa. Lagi-lagi mereka bilang,”Saat lebaran itulah kita bisa saling memaafkan antarsaudara. Lalu bersimpuh di bawah telapak ayah-ibu, meminta maaf atas segala kesalahan selama ini, baik disengaja maupun tidak!”

Celotehan mereka, terkadang membuat saya ingin juga mudik. Padahal, saya pernah mengikat janji kalau tahun ini saya mau lebaran di Bandung, tidak di kampung halaman nan jauh, Bengkulu. Kenapa begitu? Seperti yang pernah saya bilang, saya hanya ingin mencoba bagaimana rasanya di saat lebaran itu saya tak hadir bersama ayah, ibu, adik-kakak, ponakan-ponakan yang begitu banyaknya, serta kawan-kawan lama. Sekali lagi, saya hanya ingin coba. Sebab, lebaran-lebaran sebelumnya saya selalu hadir bersama mereka.

Saya jadi berpikir,”Mudik enggak, mudik enggak, mudik enggak, mudik enggak, mudik enggak, ya?” Waduh, pusing juga ya kepala saya kalau memikirkan itu. Belum lagi, kalau saya akhirnya mudik, minimal saya harus beli oleh-oleh buat keluarga di Sumatera. Masa melanglang buana di Bandung, kok enggak bawa buah tangan sama sekali, ya? Aduh, benar juga, tuh! Ya udah, sekarang saya tak memikirkan soal mudik atau enggak. Saya hanya ingin khusuk saja dengan aktivitas saya. Mudik nomor 12! Cihuy!

Meski begitu, beberapa hari ini saya diminta oleh beberapa teman mengantar mereka berbelanja sebagai persiapan menjelang idul fitri. Pokoknya, menurut mereka, kalau lebaran itu harus semua serba baru. Jadilah saya menemani mereka ke sana ke mari. Ke Pasar Baru berbelanja baju-celana, ke mall hunting levis, baju kaos, ikat pinggang, baju batik, dan beragam aksesoris fashion lainnya. Dari raut wajah kawan-kawan itu, tak ada lain selain bernada sumringah. Saya pun bersyukur kalau begitu.

Saya berterimakasih pula ke mereka karena telah memercayakan saya untuk mengantar mereka ke mall, Pasar Baru, maupun tempat-tempat perbelanjaan lainnya di Bandung. Tetapi, di sisi lain saya pun, bahkan diminta pendapat, baju-celana atau aksesoris seperti apa yang kira-kira cocok buat mereka beli. Oke, dengan antusias, saya pun bersedia memilihkan keinginan mereka. Alhamdulillah, apa yang saya pilihkan mereka amat setuju. Gue, gitu, lho!

Melihat kawan-kawan di sekeliling saya sudah banyak yang belanja buat lebaran, saya pun agak sedikit tegoda. Tergoda buat apa? Ya itu, beli baju, beli roti kaleng, beli sarung, beli baju koko, dan seabrek barang-barang menyambut lebaran. Ya, nantilah itu. Saya belum berpikir ke sana. Saya hanya mau konsentrasi menjalankan kewajiban puasa dulu. Sebab, ini wajib. Kalau belanja pakaian? Itu wajib kalau saya sama sekali tak punya baju lain untuk dikenakan. Ha

Lebaran tinggal dua minggu lagi saya kira. Sore kemarin, emak dan apak menelepon. “Kalau bisa, lebaran sama emak-apak di Bengkulu, ya Cep. Nanti, kan bisa lagi ke Bandung setelah lebaran. Apak belum bisa kasih uang untuk saat ini. Nantilah apak kirim buat mudik mah!” emak bilang begitu di akhir pembicaraan. Saya hanya bisa balas,”Insyaallah, Mak. Coba lihat nanti. Kalau ada kesempatan, ya Cep pulang, tapi mungkin akhir-akhir Ramadan, atau H-1.”

Ada lagi kakak ketiga saya di Belitung. Dia malah mengajak mudik bareng. “Ayolah pulang sama Aa aja. Kita pake bis aja dari Bandung. Naik pesawat bosan (bener kah bosan? Ha). Soalnya, Aa mau ke Tasik dulu sebelum ke Bengkulu.” Saya mau bilang apa lagi kalau kakak sudah ngajak begitu? Kakak ngajak, berarti semua ongkos dan jajan selama di perjalanan, dia yang tanggung. Asyik juga, tuh! Gimana, ya? Bingung ah.

Tapi, yang pastinya semoga saya dan keluarga besar dipertemukan dengan yang bernama lebaran tahun ini. Begitu juga dengan sahabat-sahabat WP.

14 thoughts on “Mudik Enggak, Ya? Bingung…

  1. memang berat ya…,disaat udah ambil keputusan buat ga mudik,ternyata cobaan datang agar tergiur untuk mudik. tapi apapun itu,memang saat lebaran enaknya bareng keluarga. kayaknya sesuatu banget gitu…,hehehehe #nambah godaan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s