Membaca Dahulu Berkomentar Kemudian

Saya bukan berburuk sangka. Tapi memang, sebaiknya, setidak-tidaknya saya sendiri haruslah jujur terhadap diri sendiri. Jujur dalam hal apa? Ya jujur dalam segala hal, termasuk saat bersosialisasi di jagat maya. Bisa diberi contoh? Gampang! Begini, terkadang saya menyangsikan kalau orang yang berkomentar di blog saya maupun orang lain, si pengomentar itu membaca habis tulisan dari A-Z. Meskipun sebetulnya, isi komentar itu, misalnya,”Wah, ini tulisan kreatif! Mantaps! Bagus tulisan ini!”

Komentar-komentar semacam itu, kalau saya boleh menebak, itu 85 persen bukan datang dari hati, tetapi sekedar ingin menyenangkan hati belaka si penulis blog. Maksudnya? Ya, si pengomentar itu hanya komen sekedarnya saja, tanpa membaca lebih dulu keseluruhan isi tulisan. Makanya, terkadang, suka salah sambung antara isi tulisan yang sebenarnya dengan isi komentarnya. Saya ingin jujur, bahwa saya pun pernah berbuat tidak jujur seperti itu. Saya memang komentar, tapi, sebelumnya saya tidak membaca keseluruhan isi tulisan yang saya klik. Paling-paling, saya membacanya 1 paragraf, sesudah itu barulah komentar.

Saya baru sadar, bahwa apa yang saya lakukan itu adalah perbuatan tercela, meski yang empunya tulisan tidak tahu kalau saya ini tak membaca habis tulisan yang ia tulis di blognya. Atau, istilah lain-meminjam kosakata kesehatan, yakni “ejakulasi komentar”, keluar komentar sebelum habis membaca habis sebuah wacana. Perbuatan yang saya lakukan itu bukan terjadi baru-baru ini, lho, tapi itu dulu semasa di awal-awal kuliah 3 tahun lalu.

Lalu, bagaimana dengan sekarang? Tidak, saya tidak akan berbuat begitu lagi. Tidak akan mengulangi berkomentar di blog seorang kawan sebelum saya membaca tulisan mereka dengan baik. Maka, kalau boleh mengutarakan, lebih baik klik “like” daripada berkomentar yang bagus-bagus, tetapi tidak membaca dengan runut sebuah tulisan yang ada di hadapannya. Apa penyebab blogger tak mau menyelesaikan membaca sebuah tulisan dan lebih senang cepat-cepat berkomentar?

Ya, banyak faktor. Mungkin sebagian orang itu belum terlatih membaca. Sejatinya, membaca itu melatih kesabaran. Orang yang sudah terbiasa membaca, dalam sikapnya sehari-hari pasti kentara. Misalnya, tak terburu-buru, teliti, orangnya bijak, pembawaannya santai tapi pasti (banyak juga lho yang enggak pasti), juga biasanya pandai mendengarkan (bedakan antara mendengar dan mendengarkan). Bayangkan, kalau ingin mengerti sebuah tulisan, tentu ia harus membaca dari awal dengan hati-hati hingga akhir. Dan aktivitas membaca tidak bisa dilakukan dengan tergesa-gesa.

Saya paham, kalau banyak blogger kerap menemukan teman sesama blogger yang tulisannya sulit dimengerti. Kalau saya menemukan atau sempat membaca tulisan-yang menurut saya agak sulit dipahami, terus terang, kalau sekarang saya tidak segera meninggalkan tulisan semacam itu. Tapi, saya akan terus berusaha membacanya perlahan, tentu sambil pula memahaminya. Dalam hati,”Saya pokoknya harus membaca tulisan ini dengan sabar sampai usai dan tak menggerutu ke sana ke mari. Barulah saya berkomentar sesuai apa yang saya pahami.”

Menurut saya, akan percuma seorang blogger kalau tidak bisa belajar dari sebuah tulisan kawan blogger lainnya. Justru dengan banyak membaca tulisan di blog kawan lain, ada secercah tambahan ilmu, pengetahuan, informasi, ide, dan inspirasi yang kira-kira dapat dibawa ke rumah. Bahkan, bila perlu bisa menjadi bahan cerita buat sahabat maupun orang lain. Dengan satu syarat, saya maupun kawan-kawan di sana mau dengan sabar membaca tulisan mereka hingga tuntas.

Saya berkali-kali bilang ke teman yang sama-sama memiliki akun WordPress, misalnya. “Sudahlah, tugas kita bukanlah sekedar menulis, tapi membaca tulisan-tulisan blogger lain yang lebih berpengalaman. Lebih dari itu, yang lebih penting juga adalah saling memberi semangat kepada sesama blogger. Kalau di dunia nyata saja kita bisa bersosialisasi dengan baik antar sesama, kenapa di dunia maya kebiasaan itu tak coba ditanamkan.”

Cekidot lanjut makan cemilan, Kawan!

32 thoughts on “Membaca Dahulu Berkomentar Kemudian

  1. ya kalau ingin menyenangkan si penulis blog, gk pa2 lah mas. itu bukan sebuah kejahatan.. yang penting silaturahim antar pengguna blog jalan.. saya juga ini hanya membaca tulisan akang se paragraf doang…

  2. aku setuju denganmu mas,,, memang seharusnya kalo mw komentar itu dibaca dulu kisahnya yang teliti jangan hny satu dua paragraf. Kejadian ini terjadi di blogku pas aku nulis ttg keguguran, mgk salah seorang pembaca cuma baca yg pertama doank, dia komennya ngasih selamat dunk, kan aku jadi sakit ati😦

  3. Sebetulnya alasan seorang blogger tidak membaca habis tulisan blogger lain tidak hanya karena belum terlatih membaca. Bisa jadi juga karena tulisannya tidak terlalu menarik minatnya, bisa juga bahasanya yang terlalu sulit seperti kata Mas Hasan juga, atau bisa juga dia ingin membuka sebanyak mungkin blog para followernya yang mungkin sudah sedemikian banyaknya juga.

  4. ah… postingannya gak keren ah *dilempar kamera – berharap*

    kadang kayak gitu sih. baca sekilas… like dulu, terus baca ulang baru deh komen. tapi tetep kadang suka ada yang terlewatkan detailnya. hehehe.

  5. Syukurlah aku gak pernah sampe kejadian yang komen gak nyambung begitu ke blog orang. Soalnya pasti kubaca habis dulu. Malah kalo gak kebaca habis hari ini, biasanya aku tinggalin like dulu, besok begitu udah selesai baru deh dikomen.
    Oh iya, aku share ya tulisan ini. Inspiratif soalnya…

    • Yup, begitu yang bagus! Itu baru blogger-penulis hebat! Harus sabar membaca blog kawan, walau-mungkin ada aja yang bikin kening kerut. Tp, itu biasa sih..he. Oke, thanks ya udah nge-share tulisanku Windapontoh. Cukces buatmu!

  6. sepakat..sepakat… harus dibaca sampai abis, baru komen. tapi kadang, klo aku baca paragraf awal, tulisannya kurang menarik, aku tinggal..hehehe😀

    • Ha..tapi, kalo tulisannya enggak menarik, lebih baik eda lalu komen,”Hai, Bro, maaf, ya aku baca tulisanmu baru separagraf karena bla..bla..!” Tulisa aja alaannya yang jujur..he

  7. saya pikir ini berawal dari pakem blogger sendiri, pakem dari konvensi tak langsung, bahwa “mesti meninggalkan komentar, apapun itu” jadi soal udah baca atau tidak, berkualitas atau tidak, banyak blogger terikat ama kesepakatan tak langsung itu. yg penting komen dulu lah, gitu kata temen sy, yg juga blogger. dan sering ada standar ganda untuk beberapa pakem blogging. dan kesannya malah gak konsisten.

    • Seharusnya para blogger, sudah menancapkan niat dalam hati, bahwa selain menulis,mereka juga mesti meluangkan waktu untuk ngomen tulisan2 blogger lainnya. Mengapa? Karena dua2 penting bagi blogger..he.

      • saya sepakat ini. tapi banyak blogger komennya normatif banget, gak nendang, berasa sekedar lewat. contoh: “tulisan bagus, sob”, “nais posting”,”keren”,”penting neh”, nulis komentar sekedar dua/tiga kata bentuk dukungan. komentarnya gak ada sanggahan, saran, masukan, dsb komentar2 konstruktif. blogger seperti belum banyak saya temukan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s