Kala Penulis Putus Cinta

Oke, kawan. Kali ini saya hanya ingin bercerita tentang kegalauan yang dialami teman akrab saya. Dua hari lalu di suatu senja menjelang berbuka puasa, kawan saya yang juga seorang penulis ini diterpa murung yang tak berkesudahan. Saya tahu, ini tak seperti biasanya. Yang biasanya dia sumringah, cerah, mudah senyum, entah kenapa, kok sore itu berubah jadi pendiam, sulit sekali untuk sekedar memamerkan gigi.  Apa sesungguhnya yang terjadi pada teman saya ini? Kegalauan macam apa hingga membuat ia lumpuh bicara?

Saya baru tahu jawaban dari kawan di kosan, kalau ternyata Mang Gubron-panggilan akrab sehari-hari, itu sedang putus cinta. “Bro, Mang Gubron sedang galau, tuh! Dia baru saja diputuskan Teh Rani!” ucap kawan saya begitu saya masuk ke kamar. Mendengar kabar duka itu, ada rasa tak percaya di hati. Bukan apa-apa. Yang saya tahu, hubungan kedua mahluk Tuhan itu telah berlangsung begitu lama. Jadi, perkiraan saya amat mustahil kalau tiba-tiba Oboz -nama panggung kawan saya itu diputuskan oleh sang pacar.

“Ah, masa, Bro? Enggak mungkin lah! Tahu dari mana ente?” Walau sebetulnya tak percaya atas ucapan kawan saya satu ini, pertanyaan tetap saya ajukan kepadanya. Yang jadi pertanyaan selanjutnya adalah,”Kalau memang diputuskan sama Teh Rani, apa penyebabnya? Kalau memang benar, kok, bisa? Lantas, biasanya yang memutuskan suatu hubungan antara pria dan wanita, kan rata-rata si cowok. Kenapa ini kok cewek yang mutuskan si cowok?”

“Kalau enggak percaya, tanya aja langsung sama dia, Bro! Bagaimana teh Rani enggak mutuskan Mang Gubron, coba. Sudah begitu lama dia belum memastikan kapan mau melamar kekasih pujaannya itu. Padahal, mereka pacaran sudah dari dulu, sejak mereka kuliah. Bahkan, Teh Rani S2-nya rampung dan sekarang jadi dosen. Sementara Mang Gubron belum berani datang ke rumah orangtua dari pihak cewek menyatakan langsung ingin melamar Teh Rani! Ya sudah, gimana lagi.” lontar kawan saya lagi.

Saya kaget mendengar penjelasan kawan saya ini. Ada rasa kasian sekaligus prihatin kepada penulis buku best seller yang sedang diterpa badai galau itu. Saking penasaran, saya mau datangi langsung ke kamar kosannya waktu itu juga. Tapi, saya belum berani. Karena saya tahu, kalau orang sedang galau, apalagi galaunya berhubungan dengan cinta, tak baik kalau diganggu. Meski sebenarnya, kalau saya mendatanginya bukan bermaksud mengganggunya, tapi minimal mencari tahu apa gerangan penyebab dia diputuskan cintanya.

Maka, tatkala saya menulis ini, saya teringat dengan lagu Bang Haji Rhoma Irama yang judulnya ”Rana Duka”. Saya kira, lagu itu sangat pas menggambarkan suasana duka kawan saya yang juga  blogger aktif itu. Penulis produktif di beberapa koran yang tersebar di Jawa Barat itu, pada akhirnya menyatakan kepada saya, tepatnya setelah berbuka puasa. “Ah, saya mah sedari awal sudah memprediksi kalau saya ini bakal menerima yang saya alami sekarang. Pas saya telepon dia tadi siang, dia tetap keukeuh tak mau menunggu saya hingga lebaran nanti.”

Mang Gubron melanjutkan, bahkan Teh Rani berujar padahal selama ini banyak pemuda yang datang ke rumahnya dengan tujuan untuk melamar si pemilik hidung bangir itu. Namun, karena si cewek ingat masih ada Mang Gubron di sampingnya, maka setiap ajakan menikah selalu ditolaknya. “Saya sadar, memang saya ini dari segi ekonomi memang tak tampak glamour seperti kebanyakan orang. Saya ini cuma penulis, bukan pegawai kantoran, atau seorang PNS. Kan maunya itu, orang tua si cewek, sang calon menantu harus punya kerja yang jelas. Kalau penulis seperti saya ini menerima gaji hanya pas-pasan. Kalau Teh Rani mah nerima keadaan saya, tapi orangtua mereka yang belum yakin sama saya, terutama pekerjaan saya.” Kata Gubron yang lahir pada 1983 itu sambil ketawa.

Gubron juga bilang, pacaran mereka hingga dua hari lalu sudah berlangsung selama 9 tahun. Selama itu pula, tambah lelaki murah senyum itu sang pacar menunggu. “Kasian juga sebenarnya.” Lirihnya. Bayangkan, kawan, 9 tahun kawan saya ini menjalin tali pacaran, lalu harus putus gara-gara si cowok tak memberi kepastian soal kapan ia harus serius melamar si cewek? Apakah ini yang disebut bukan jodoh, meski mereka begitu lama pacaran? Kalau persoalannya tidak ada ketegasan dari seorang pria, siapa yang patut dipersalahkan? Siapa yang lebih sakit hati di antara mereka?

Ba’da Isya kemarin, Mang Gubron tiba-tiba saja mengatakan,”Duh, hidup tanpa seorang wanita itu bagai debu yang terlunta-lunta di udara. Hidup jadi tidak bersemangat. Perasaan ini sungguh tak menentu. Mengarungi perjalanan hidup seperti dalam ketidakpastian. Wanita memang obat penawar kegalauan, sekaligus pembuat galau. Ah, tak tahu lah!” Bahkan, sesumbar Gubron bilang,”Saya akan tunggu dia walau nanti sudah janda sekali pun!” rautnya serius kala itu. Ini, barangkali saking cintanya dia sama Teh Rani.

“Mang, memangnya Teh Rani sudah tertutup hatinya buat Mamang? Tak bisakah dilobi lagi, Kang? Mendingan, kalau akang masih ngebet sama dia, pastikan lagi kalau akang ingin ngelamarnya bulan Syawal atau lebaran haji tahun ini. Dengan begitu, si dia bisa memikirkan ulang kalau akang itu serius mau kawin sama dia, Kang!” kata saya sekenanya.

“Kalau itu, belum tahu. Tapi, pas ditelepon kemarin, tetap saja jawabannya cuma satu: enggak mau balikan, sudah kapok! Sebab dari dulu selalu janji begitu”

Sabar lah buat keduanya. Ini skenario sang maha pengasih. Akan ada banyak hikmah yang dapat diambil. Asal, kata Tuhan, kau harus berlapang dada menerima kenyataan ini serta mau merepleksi diri.

“Makanya kalau menyinta sekedarnya saja,” begitu kata Bang Haji yang katanya digadang-gadang jadi Capres pada 2014 ini.

40 thoughts on “Kala Penulis Putus Cinta

    • Ya, begitulah hidup. Berani jalanin hubungan, berarti berani pula mendapat resiko: memutuskan atau diputuskan. Ha. Mau saya juga, teh Rani cepat lah dilamar, baik oleh Mang Gubron atau yang lain. Biar clear..he

  1. Ckckckckc 9 tahun, lama amat yak ….. klo berujung pada pernikahan sih gpp, lha ini masih maju mundur. Ya tapi manusia memang bisa berencana, tetap keputusannya pada Yang Kuasa. Smoga temennya mas Hasan mendapat ganti yang lebih baik🙂

  2. sekian lama… aku menunggumu… melamarku… tapi tak kunjung datang… *gini kali ya kira2 kalau Teh Raninya nyanyi*

    Susah memang sih. Karena kan sebagai lelaki, harus mantap dulu sebelum melamar.😦

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s