Berburu Tutut dan Mancing di Kaki Galunggung

Begini Kampung Kelengsari, Sukahening, Kabupaten Tasikmalaya, dengan latar gunung Galunggung

Begini Kampung Kelengsari, Sukahening, Kabupaten Tasikmalaya, dengan latar gunung Galunggung.

Bosan dengan menu makanan yang itu-itu saja, maka saya iseng-iseng mengajak adik serta dua saudara cewek dari pihak emak untuk mencari tutut. Tahu tutut? Tutut itu sejenis keong, namun warnanya hitam dan bentuknya lebih kecil dan biasanya hidup di dasar sungai, kolam, maupun persawahan. Dengan kata lain, tutut masih bersaudara sama keong mas, lebih tepatnya ponakan jauh lah.

Adik saya sedang memungut tutut di sawah di dekat rumah kami.

Adik saya sedang memungut tutut di sawah di dekat rumah kami.

Di suatu sore selepas asar nan cerah itu, kami mulai menyusuri area persawahan yang dihuni jutaan padi yang mulai tubuh dewasa, di kaki gunung Galunggung, Kampung Kelengsari, Desa Sukahening, Kecamatan Sukahening, Kabupaten Tasikmalaya, pertengahan Juni lalu. Saya dan adik saya yang bertugas turun ke sawah memunguti tutut-tutut hitam itu. Sementara dua cewek sudara saya itu bertugas menenteng ember kecil.

Dua saudara cewek saya mengiring di belakang adik saya yang sedang menyisir tutut.

Dua saudara cewek saya mengiring di belakang adik saya yang sedang menyisir tutut.

Kami terus menyisir persawahan warga sekitar. Tutut-tutut itu bersembunyi di bawah rindang pohon padi, di balik lumpur-lumpur sawah. Memungut binatang tak berbisa itu, kami harus ekstra hati-hati. Selain tanah sawah itu dalam, juga ditakutkan padi-padi yang mulai ranum itu rusak terinjak oleh kaki kami yang semberono. Tapi, untungnya hal itu tak sampai terjadi. Tangan serta kedua kaki kami pun penuh lumpur. Kami sudah biasa dengan aktivitas begini, maklum, kami dididik di desa.

Tutut terus dicari

Tutut terus dicari

Ada sekitar satu jam, ember yang dibawa saudara saya nyaris penuh oleh tutut. Saya kira, satu ember kecil tutut ini cukup buat teman nasi malam nanti. Begitu ujar saya dalam hati. Ya sudah, pencarian tutut pun kami hentikan, selain karena mendung mulai berkejaran di atas langit sana. Kami pun pulang ke rumah. Satu ember tutut lalu dibersihkan, direndam dalam ember sekitar satu jam untuk mengeluarkan lumpur di tubuh si tutut. Barulah, sebelum digodok di atas tungku, bumbu masak terlebih dulu diracik. Maknyus!! Harumnya itu lho yang bikin ngiler. Selepas magrib, barulah tutut-tutut hasil jerih kami disantap bareng-bareng keluarga. Sesuatu yang jarang terjadi.

Petualangan kami ternyata belum usai. Keesokannya, sambil menengok paman yang sakit, adik saya lalu mengajak mancing di sebuh kolam miliknya. Ajakan adik saya itu tak lantas saya tolak. Saya langsung setuju. Apalagi, sejak berada di Tasikmalaya, anak-anak paman kerap menyuruh kami memancing ikan, kalau memang mau ikan. Mancing sendiri, diolah sendiri. Ya swalayan lah. Melayani sendiri. Dan itu paling saya suka.

Mancing. Mana, ya ikannya?

Mancing. Mana, ya ikannya?

Saya lihat, di kolam yang letaknya di belakang rumah itu banyak ikan gurame yang ukurannya sebesar papan. Sekitar 10 menit, mata pancing adi saya yang umpannya bala-bala itu ditarik-tarik ikan. Oh, saya lihat gurami yang menggodanya. Pas ditarik, eh, lepas lagi, bahkan gagang pancing patah. Waw! Gagang yang patah itu disambung dan diikat, mesi kurang efektif.

Pindah posisi. Bismillah.

Pindah posisi. Bismillah.

Lama-lama, gurame seukuran tas berhasil adik saya dapatkan. Ikan itu sempat diangkat ke darat, tapi pas dilihat, ini terlalu jumbo, dan menurut saya saat itu, juga kata adik saya dagingnya enggak enak kalau terlalu besar. Ya udah kami lepaskan lagi ikan berduri tajam itu. Byuuuur! Dadah, untung kau tak kami eksekusi, ikan!

Ikan bawal yang pada akhirnya kami ambil saat itu. Ini dia cuplikannya…

Horeee. Akhirnya, Bawal!

Horeee. Akhirnya, Bawal!

Kena, Kau!

Kena, Kau!

Makasih Bawal yang bawel!

 

 

 

 

 

15 thoughts on “Berburu Tutut dan Mancing di Kaki Galunggung

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s