Ini Tulisan Tentang “Dodol”, Kawan!

“Malam ini sangat terasa DODOL.. ntah apa yang salah dsini. Yang jelas aq benar-benar terasa dodol ketika di hadapkan beberapa pertanyaan. Pertanyaan yang telah lama tak pernah ku sentuh atau pun aq pelajari lagi. Semua terasa asing bagiku, kata-katanya tak ku fahami, sulit tuk mengerti. Ketika di hadapkan dengan kndisi seperti itu, ada rasa kesal di hati, ada rasa penasaran dan semua rasa-rasa itu telah bercampur menjadi satu bahkan menjadi-jadi,. Ingin rasany berteriaak,, teriak sekencang mungkin tapi tak bisa ku lakukan… hy kata-kata DODOL yang terucap saat ini.. huhh… dodol2, makin lama jd dodol beneran dan merasa diri menjadi tak berarti…”

Tulisan berwarna biru di atas, perkenalkan, itu tulisan kawan saya. Kawan saya ini, mengakunya enggak bisa nulis. Eh, tapi tiba-tiba dia malah ngirim tulisan itu ke e-mail saya. Ya udah, saya kutipkan saja tulisan bernada curhat di gubuk maya ini. Awalnya, saya pernah iseng ke Ani-panggilan akrab kawan saya itu untuk menuliskan apa saja yang dia rasakan, pikirkan, atau tentang pengalaman sehari-hari yang ia alami. Atau mungkin juga, kata saya, tulislah tentang kegetiran hidupmu, kalau memang kau merasa hidupmu diliputi kegetiran. Karena, lanjut saya-menuliskan sesuatu yang kita alami itu sangat mudah. Jelasnya, harus dicoba dulu. Hasil belakangan!

Pas saya katakan begitu, dia langsung bilang,”Kak, aku tak bisa nulis. Sebenarnya aku mau  nulis, Kak. Tapi, gimana caranya, ya? Gimana mulainya? Kata-kata apa yang harus aku ketik di lembaran microsof word, Kak? Padahal, aku punya banyak pengalaman pahit di keluargaku. Ah, pokoknya ada, deh! Ah, kalau disuruh nulis, enggak bisa, Kak!” lontar dia sambil serius, tapi juga sembari ketawa-tawa. Ha. Ha. Ha. Begitu, saya kira ketawanya yang saya tangkap. Itu terjadi enam bulan lalu, selagi saya masih muda. Sok tua, loe!

Menularkan virus menulis kepada orang yang tak biasa menulis memang tak mudah. Tantangannya pun maha berat. Kalau enggak tak tahan atas jawaban-jawaban mereka, sakit hatilah kita. Atau, minimal-barangkali kita langsung menganggap mereka lebih rendah derajatnya dari orang-orang yang suka/terbiasa menulis. Tapi, saya kira kalau sampai menganggap seperti itu banget, ya berlebihan juga lah. Ngapain juga berburuk sangka begitu. Sesuatu itu tak bisa dipaksakan. Namun, menawarkan sesuatu, juga hal yang tak dilarang. Tinggal, caranya itu lho yang harus diperhatikan. Elegan atau tidak. Seperti apa yang elegan dan tidak elegan itu? Ha, mau tahu aja.

Saya hanya ingin katakan, tak ada yang sulit dalam hal apapun selagi mau diusahakan. Contohnya ya kawan saya di atas. Dengan usahanya, ia akhirnya bisa juga tuh menulis! Selamat, ya. Moga dia tambah semangat dalam menungkan idenya ke depan.

Ayo Ani, menulis lagi!

Kawan saya itu, Ani. Maaf tak izin.

Kawan saya itu, Ani. Maaf tak izin.

2 thoughts on “Ini Tulisan Tentang “Dodol”, Kawan!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s