Ini lho foto saya yang dimuat di Pikiran Rakyat itu.

Ini lho foto saya yang dimuat di Pikiran Rakyat itu.

Saya begitu yakin kalau foto yang saya kirimkan ke redaksi harian Pikiran Rakyat akan dimuat. Selasa (16/7/2013) kemarin, pagi-pagi saya beli koran kepada si Aa penjual koran yang biasa nongkrog di samping kampus nan hijau Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Gunung Djati Bandung. Saya buka pada rubrik surat pembaca, di samping kolom opini. Dugaan saya benar! Foto gundukan sampah di pasar induk Gede Bage yang saya ambil Minggu (14/7/2013), itu dimuat!

Siapa yang enggak seneng coba karya kita dibaca/dilihat orang-orang di seluruh Jawa Barat? Memang, seluruh warga parahyangan membaca koran, gitu? Iya enggak juga, sih! Warga yang tinggal di pelosok kan belum tentu mereka bisa baca koran. Meskipun saya tahu, koran dimana foto saya dimuat merupakan surat kabar harian terbesar di Jawa Barat, juga menjadi koran dengan pelanggan terbanyak. Itu kalau tidak salah!

Bangga juga foto hasil jepretan saya bisa terpampang di koran yang kini berusia 47 tahun itu. Jadi, sebetulnya, bukan wartawan koran ini saja yang berhak memotret, lalu hasil potretannya dimuat. Ternyata, warga pun bisa ikut berpartisipasi. Ya, istilahnya citizen journalism! Eh, benar, enggak, ya begitu? Kalau kurang tepat, tolong dibuat tepat, ya?

Yang saya tahu, selagi kuliah dulu Pikiran Rakyat tak memuat foto-foto dari warga untuk dimuat di kolom surat pembaca. Redaksi hanya menerima tulisan/surat pembaca saja. Namun, belakangan saya ketahui ternyata pada kolom surat pembaca juga menerima kiriman  foto dari warga tentang pelayanan publik putaran Jabar. Dengan kata lain, saya tahu itu sejak 3 bulan lalu setelah bermukim di  kota fashion ini. Maka, iseng-iseng saya kirimlah foto tumpukan sampah di pasar induk Gede Bage itu.

Soal akan berpengaruh atau tidak foto yang akhirnya dipampang di “PR”, itu saya tak begitu memedulikannya. Kalau memang berpengaruh, artinya pihak terkait merasa tertonjok oleh dimuatnya foto saya tentang sampah menggunung di pasar kawasan Bandung Timur itu. Kalau pun tidak, berarti mereka (pihak berkait itu) memang tidak memiliki kesadaran akan pentingnya makna kebersihan bagi kota kuliner ini.

Udah, ah! Saya enggak mau berpanjang-panjang soal foto saya ini. Ke depan, saya hanya ingin terus mengabadikan soal realitas yang terjadi di kota “BERMARTABAT” ini.

Si ibu ini sedang berjalan di samping sampah menumpuk di pasar Gede Bage, kota Bandung, Minggu (14/7/2013)

Si ibu ini sedang berjalan di samping sampah menumpuk di pasar Gede Bage, kota Bandung, Minggu (14/7/2013).

Foto lain yang saya bidik, masih di sekitar pasar Induk Gede Bage.

Foto lain yang saya bidik, masih di sekitar pasar Induk Gede Bage.

Di lorong lain, pasar induk Gede Bage.

Di lorong lain, pasar induk Gede Bage.

 

 

 

 

About hasannote

Woles

12 responses »

  1. anz1el mengatakan:

    kereeeeeennnnnnnnn

  2. duniaely mengatakan:

    selamat ya :P

  3. adrian10fajri mengatakan:

    selamat yah. terus berkarya.. ^_^

  4. RY mengatakan:

    Ohh ini yah yang motonya, ternyata ya ….hehehhhe
    Tapi emang di Pasar Bigbage itu tumpukan sampah plus banjir selalu jadi “pemandangan indah” …..

  5. sopaatrahmat mengatakan:

    itu gambar d paris van java? emang k bdg kapan jang?

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s