Coca-cola Bawa Petaka

Ini kejadian aneh atau apa ya namanya. Kemarin (12/7) malam sebelum adzan Isya berkumandang, kawan saya satu kos, Rovi uring-uringan begitu sampai di kos. Saya kala itu kebetulan baru keluar dari jamban. Sedangkan kawan lain, Sukron baru saja menyalakan korek untuk disulutkan ke rokoknya  yang bertengger di mulut. “Aduh, sialan! Sialan banget, tadi muntah di mobil! Malu aku sama penumpang lain!” begitu kata pemilik nama asli Rovi’i Garcia Amarullah sambil bolak-balik di ruang tengah .

Kok bisa, sih kamu muntah, Rov? Memalukan dunia persilatan aja! “Pas di mobil, kan waktunya berbuka tiba, aku langsung minum Coca-cola. Langsung, etamah, beberapa menit dari situ, perutku mual. Mana mobil Elf-nya penuh lagi. Huh, bararau deih. Karena enggak bisa lagi menahan, aku langsung minta turun ke supir. Ya udah, begitu turun langsung muntah di pinggir jalan. Enggak tahan lagi soalnya!” tutur Rovi yang bulan depan mulai berkuliah di pascasarjana Unpad itu.

Masa, sih calon mahasiswa pascasarjana Unpad bisa muntah? Mantan aktivis bisa-bisanya muntah! “Wah, kayaknya kamu, dalam keadaan perut kosong berbuka langsung minum Coca-cola. Ini sebab, tuh! Kan bahaya, perut lagi kosong terus dihantam sama minuman bersoda. Bahaya. Lambung berontak lah!” pendapat Sukron ini ada benarnya barangkali. Tampaknya, itu faktor utama  Rovi yang asli Subang ini muntah-muntah dalam perjalanannya dari Subang-Bandung.

“Bener, tuh, Mang Rovi! Jangan lagi tu diulangi kalau enggak mau pingsan bahkan………..,”lontar saya sekenanya. Saat saya tanya-tanya, setelah minum Coca-cola, Ternyata si Rovi tak makan apa-apa lagi. Ya, cuma Coca-cola doang! Tuh, kan pantas dia muntah! Perut kagak nerima, Rov! Bukan lucu, lho ini. Ini tindakan seorang idiot. Untungnya, dia masih sampai ke kos dengan selamat, meski, tampak di raut wajahnya pucat-pasi.

Namanya orang berpuasa, kalau saat berbuka tiba, pastilah nafsu tak sabarnya keluar. Semuanya dihantam, dilahap, dihabiskan, semua dicoba. Padahal, kan itu hanya nafsu belaka. Saya yakin, si Rovi paham betul soal tak boleh gegabah saat mengonsumsi menu berbuka. Setidaknya, apa yang pernah Rovi lontarkan dua hari jelang puasa kalau berbuka itu dianjurkan minum yang manis-manis.”Nabi Muhammad aja pake kurma!” katanya.

Bukan tak boleh minum Coca-cola, Rovi. Tapi, kalau minumnya sendiri, tanpa bagi-bagi sama saya, itu yang lebih dilarang. “Jangan-jangan, muntahannya ikut muncrat ke baju yang kamu pake, ya Rov? Kok, bau begini nih kamar!” ucap saya serius.

“Ah, enak aja! Ya enggak, lah!” kata Rovi tak meyakinkan.

 

 

2 thoughts on “Coca-cola Bawa Petaka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s