Ngelamar Jadi Editor

Saya hanya iseng. Seperti biasa, kalau tiap Sabtu, pasti di hampir semua koran, baik yang berskala nasional maupun daerah dimuat puluhan bahkan ratusan lowongan pekerjaan dari berbagai perusahaan. Sabtu, di pagi cerah akhir Juni lalu, saya buru-buru membeli koran harian terbesar di Jawa Barat, tepatnya di sebuah gang, tak jauh dari kampus Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Gunung Djati Bandung. Selain ingin mengetahui info terhangat seputar Bandung dan sekitarnya, niat beli koran memang sambil lirik-lirik, siapa tahu ada loker yang cocok buat saya. Eh, setelah diteliti seksama, ternyata ada! Lowongan jadi “Editor” di salah satu penerbitan di Kota Bandung.

Hati saya agak gembira juga pas tahu ada penerbitan buku yang sedang membutuhkan seorang editor. Di koran, yang entah di halaman berapa itu, ternyata ada dua perusahaan penerbitan buku yang membutuhkan editor. Penerbit pertama, mereka membutuhkan editor buku bahasa Indonesia. Sedangkan penerbit yang kedua, sedang mencari “Korektor” Al-Quran dan buku-buku Islam. Saya pikir, antara editor dan korektor tugasnya tak jauh berbeda. Kesimpulannya, penerbit yang kedua ini juga lagi butuh editor. Yang membedakannya, editor/korektor di penerbit kedua khusus mengoreksi/mengedit teks Quran dan buku Islam.

Saya membaca kedua lowongan itu berkali-kali. Mulai dari nama penerbit, alamat, yang dibutuhkan apa saja, syarat-syarat pelamar, serta hal-hal yang menurut saya penting. Saya baca, iklan loker di penerbit pertama yang membutuhkan editor bahasa Indonesia, dicantumkan nama perusahaan penerbitannya. Sedangkan di loker yang kedua, nama perusahaan penerbitan tak dicantumkan. Ia hanya mencantukan alamat jelasnya. Ketidakjelasan peusahaan yang membuka lowongan kerja di koran ini lantas membuat saya curiga, meskipun alamatnya tercantum.

Ya sudah. Akhirnya, saya tak mau menduga-duga. Pokoknya, yang terbesit dalam hati saat itu, saya harus membuat lamaran kerja berikut CV, lalu mengantarkannya ke sana atau via pos. Tak sampai 1 jam, surat lamaran, CV, poto kopi ijazah plus transkrip nilai, poto terbaru ukuran 4×3, poto kopi KTP (maaf, e-KTP saya belum diambil di kantor Camat), serta amplop beres saya siapkan. Eh, iya, satu lagi. Karena kedua penerbit meminta contoh tulisan, maka saya print lalu dilampirkan bersama CV dan lain sebaginya. Sip! Barulah aku mandi setelah itu.

Sebelum pukul 10.00 waktu Bandung Timur, saya langsung meluncur ke TKP. Maaf, enggak pake angkot, tapi numpang motor seorang kawan. Kawan saya ini juga, ternyata tertarik dengan pekerjaan menjadi editor. Maka, bikin pulalah dia CV beserta perangkatnya. Maklum, lajang asli Selatan Cianjur ini juga penulis artikel di beberapa surat kabar harian yang beredar di Kota Bandung. Kalau saya perhatikan, kurang lebih 30-40 tulisan yang pernah nampang di media cetak. Lalu, pernahkan tulisan saya nongkrong di koran? Pernah! Surat Pembaca. Ha.

Alamat penerbit pertama, asing di telinga saya. Pun alamat penerbit kedua. Di tengah perjalanan, di jalan terpanjang di Kota Bandung, Soekarno-Hatta (By Pass)  saya bilang ke kawan yang membonceng saya. “Bro, kalau mau tahu alamat yang kita tuju, tuh tanya sama tukang pos di depan,” kata saya sambil menunjuk tukang pos berseragam lengkap yang sedang mengendarai motornya, beberapa meter di depan kami. Kebetulan, jalanan macet! Bandung gitu, lho! Metropolis, lagi! Tapi, di tengah kemacetan serta riuh klakson kendaraan, si tukang pos tiba-tiba berbelok ke kiri, berteduh di bawah pohon rindang. “Ya, bener, tuh!” balas kawan saya.

Motor supra jadul milik kawan itu pun menepi, mendekat si tukang pos yang ahli “peralamatan” itu. Saya loncat dari motor dan langsung menghampirinya. “Maaf, Kang! Mau tanya, nih. Kalau alamat jalan Bunga Bakung dimana, ya?” Dia diam sejenak. Mungkin kaget atau apa. Tapi saya rasa, dia deg-degan sambil berpikir letak alamat yang saya tanyakan. Sebab, kalau saja si tukang pos enggak tahu alamat jalan di Bandung, ia bakal dicap macam-macam. Bahkan reputasinya sebagai tukang pos dianggap- entah apa lah sebutannya. Saya kira, diamnya si tukang pos memikirkan hal itu, selain mengingat-ingat alamat yang saya minta tunjukkan.

“O, Bunga Bakung. Daerah Bunga Bakung itu posisinya ada di belakang ini. Sebenarnya, ada sih gang, tapi akang sudah kelewat. Nanti aja di depan, ada toko material, langsung belok kiri. Lurus, belok kanan, lurus lagi, terus ada simpang tiga yang mau ke Ciwastra, nah belok kiri. Enggak jauh dari sana, ada kompleks perumahan Bunga Bakung di sebelah kanan. Tanya aja di sana,” tukang pos menjelaskan ke saya. Beberapa kali saya harus mengangguk, seperti mengolahragakan leher. “Hatur nuhun, Kang!” ucap saya lagi sebelum melanjutkan perjalanan.

Untung ada pak pos di tengah jalan. Kalau enggak, ya enggak papa sih. Cuma, mungkin harus bertanya beberapa kali ke tiap orang yang kami anggap paham alamat di Kota Bandung. Alah-alah. Bahkan, salah satu anak paman pernah bilang ke saya kalau gang ataupun jalan di Bandung lebih sulit dicari dibandingkan di Jakarta. Benar, enggak, sih? Soalnya, saudara saya itu sudah bertahun-tahun hidup di ibu kota sebagai tukang kredit. “Awalnya saya juga kerja di Bandung. Memang, cari alamat di Bandung mah lebih sulit, soalnya banyak. Kalau di Jakarta mah lebih gampang!”

Alhasil, kompleks perumahan tempat alamat penerbit pertama ditemukan. Singkat cerita, alamat yang kami cari ketemu juga. Alhamdulillah, walau harus bertanya hampir 5 kali. Kenapa? Rumah/gedung penerbit itu tanpa plang, atau semacam tanda kalau itu sebuah penerbitan. Uh. Yah, enggak papa, deh! Saya jadi tahu betapa tak gampang ternyata mencari sebuah alamat. Untungnya bukan Ayu Tingting yang mencari alamat itu. Ha.

Besoknya, kami baru mengantarkan lamaran ke penerbit kedua. Letaknya di kawasan Gatot Subroto (Gatsu), beberapa meter dari Trans Studio Bandung. Kalau tak salah liat, kantor penerbit itu hampir berhadap-hadapan dengan kantor DPD Golkar. Ya, di sana, Bro! Jalan Maskumambang no 12! Kusodorkanlah surat lamaran kami ke salah satu pegawai yang ada di sana. “Ya, benar, kami memang lagi membutuhkan korektor Al-quran. Tapi maaf, direktur kami belum datang. Mungkin nanti agak siangan, A.”

Mudahan-mudahan, di bulan penuh ampunan ini banyak kejutan tak terduga yang saya dapat. Begitu pun dengan sahabat-sahabat blogger lainnya.  Lebaran, berapa hari lagi, ya?

 

4 thoughts on “Ngelamar Jadi Editor

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s