Saya Pantas Sombong?

Saya tak peduli dengan ocehan orang di sekitar tempat tinggal yang mengatakan kalau saya ini sombong. Saya malah sedikit gembira dengan penilaian jujur orang-orang itu. Walau begitu, saya tetap tak peduli. Mau ngomong sombong kek, mau bilang sok kegantengan kek, yah, masa bodoh lah. Yang penting, saya memang sombong. Lantas, kalau saya sudah mengakui jadi orang sombong, mau ngapain coba? Bagi saya, sifat sombong itu adalah sesuatu yang amat dibenci, baik oleh manusia maupun Tuhan. Tetapi, tidak boleh kah saya mencoba untuk sombong? Berulang selalu saya bilang, manusia berpotensi sombong!

Sombong atau kesombongan itu mau tidak mau harus melekat pada diri tiap insan. Bukan harus, tapi secara tidak sadar maupun tidak sengaja, ia acap kali merasuk dalam jiwa ini. Cuma, masalahnya, saya sendiri enggan mengakui kalau saya ini-sebenarnya sedang mengalami sindrom kesombongan. Dengan kata lain, yang namanya manusia itu, mau tidak mau-sebelum nyawanya hilang, ia berpotensi untuk melakukan kesombongan. Entah itu kepada sesama manusia, setan, jin, iblis, atau, barangkali yang lebih sering itu ya sombong sama Tuhan-yang sebetulnya Dia lah yang sesungguhnya pantas dijuluki Mahasombong.

Sifat sombong itu sesungguhnya hanya milik Tuhan. Lalu, kenapa manusia kok ikut-ikutan menyombongkan diri? Pantas, wong tidak setiap manusia itu memiliki hati suci. Hanya segelintir saja yang peduli terhadap qolbu-nya. Yang lain? Yang lain hatinya dilupakan. Hati mereka diletakkan di dengkul, bukan di kepala! Maka wajar, kalau tiap detik, manusia-misalnya seperti saya ini hatinya disusupi virus kesombongan. Sekecil apapun perasaan sombong itu, hampir tiap hari dipastikan akan muncul dalam sanubari ini. Tak bisa dibantah. Tak perlu membuang kesombongan yang telanjur melekat dalam urat nadi. Yang diperlukan itu, bagamana mengelola kesombongan itu dengan bijak.

Saya juga bingung, bagaimana cara memanajemeni kesombongan yang kadung ada dalam diri ini. Saya tidak akan pusing sebetulnya dengan kehadiran sang sombong yang telah lama bercokol. Saya hanya perlu meredamnya pelan-pelan supaya tak terlalu berontak, tak terlalu anarkis memperlihatkan kepandainnya di depan manusia, terlebih di depan wajah Tuhan. Kalau saja sang sombong terlalu prontal menampakkan wajah aslinya, saya juga takut kalau yang Mahasombong bisa saja murka. Sebab, dampak murka-Nya itu akan sangat berbahaya bagi kehidupan saya dan orang-orang yang saya cintai.

Untuk melebur keseombongan-utamanya yang bersarang pada diri saya,maka perlahan saya mulai serius lagi memulai berpuasa pada Ramadan tahun ini. Saya akan menyikapi kesombongan yang saya miliki ini dengan hati-hati, tak gegabah, juga tak segan untuk benar-benar meleburkannya supaya nantinya-pada akhirnya mengakui kalau kesombongan tak pantas saya miliki. Tapi untuk saat ini, biarlah kesombongan itu bermain-main dalam aliran darah. Biarkan ia puas terlebih dulu.

Pada akhirnya, sahur pertama Ramadan 1434 H ini dibuka dengan nasi putih plus rendang Padang! Dan, ditutup dengan segelas susu! Marhaban ya Ramadan!

2 thoughts on “Saya Pantas Sombong?

  1. wuaaah, sahurnya nikmat amaat …
    Iya namanya orang, bisa khilaf dan jadi sombong. Yang miskin aja bisa sombong apalagi yang kaya. Yang jelek aja bisa sombong apalagi yang cantik 🙂
    Bersyukur sih boleh aja tapi jangan sampe sombong deh …

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s