Tuhan, Beri Saya Hidayah

Mau nulis satu kalimat pun susahnya minta ampun, apalagi sampai satu paragraf. Ini akibat jarangnya saya menulis. Bukan jarang, tapi saya malas menulis. Padahal, kalau dipikir, kesempatan buat nulis itu hampir ada tiap hari. Bayangkan, namanya di kos itu, leptop ada, ruangan mendukung, tapi, aduh, pas mau nulis kok malah tersendat. Ini yang membuat saya gagap lagi kalau harus menulis. Uh, kalau saja tak dipaksakan, mungkin tak pernah terjadi saya menulis pagi ini. Sesuatu yang dipaksakan, kata sebagian orang adalah hal tak mengenakkan, tapi, buat saya memaksakan menulis itu hal yang mengasyikkan! Setidaknya, hati saya tenang karena telah berhasil menumpahkan kata-kata di sini. Walau apa adanya.

Contohnya kemarin. Leptop sudah saya buka. Niatnya mau nulis perjalanan saya bersama kawan ke sebuah kampung di Selatan Cianjur. Padahal, sejak dalam perjalanan nan mengasyikkan itu, hati saya bilang,”Pokoknya nanti kalau sudah nyampe kosan petualangan ini harus saya tulis! Harus saya tulis! Sebab, banyak hal yang menarik di sepanjang perjalanan. Jangan sampai enggak jadi ditulis. Tulisan itu nantinya buat bahan di blog. Apalagi, di hape ini memuat gambar-gambar bagus, yang kalau di-uplod di blog akan jadi lebih bagus. Ah, pokoknya harus ditulis pengalaman kali ini.”

Nyatanya, petualangan itu pun saya sudahi dan  kembali ke kos. Hati menggebu-gebu ingin cepat-cepat menulis. Lantas, leptop saya buka. Microsof  Word sudah di depan mata. “Waduh, apa yang harus saya tulis sekarang?” begitu hati saya bilang. Pokoknya, blenk, blenk, blenk. Kata-kata yang tadinya riuh di halaman otak, kini entah pergi ke mana. Saya juga bingung. Saya juga menyesal hari itu tak satu pun tulisan saya keratkan di microsof word. Saya bukan tak menulis saat itu. Saya tetap menulis. Yup, hanya satu paragraf. Karena saya menganggap tulisan yang satu paragraf itu kurang sreg, ya udah saya hapus! Setelah itu, leptop saya turn off-kan.

Kadang-kadang saya merasa stress kalau dalam sehari saja tidak menulis. Itu perasaan saya. Tapi, nyatanya tidak demikian. Saya sehat walafiat saja, kok! Ha. Bukan stress, sih! Lebih tepatnya, saya selalu memikirkan, kenapa saya mesti tak pernah menyelesaikan satu tulisan saja dalam sehari. Tulisan apa saja. Saya sadar, kenapa saya tidak sampai khatam kalau menulis. Intinya saya kurang serius. Saya beri contoh lagi. Kemarin pagi, saya niatnya mau nulis sebuah artikel tentang Ramadan untuk dikirimkan ke koran lokal di Bandung. Lagi-lagi, saya hanya berhasil menulis satu paragraf. Pas memulai paragraf kedua, ah, berhenti lama. Ada mungkin setengah jam. Sudah ah, saya tutup saja leptop!

Ya Tuhan, berilah saya hidayah di bulan berkah dan di bulan-bulan yang tak berkah. Oke. Met menunaikan ibadah shaum Ramadan buat kalian yang menjalaninya. Yang belum dapat jodoh, semoga berhasil mendapatkannya di Ramadan kali ini. Utamanya, semoga umur kita dicukupkan hingga 1000 tahun lagi.

5 thoughts on “Tuhan, Beri Saya Hidayah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s