Cerita Pacaran

Saya senang mendengarkan cerita pengalaman orang lain. Meski, sebetulnya pengalaman itu tak harus ia ceritakan ke saya. Soalnya, sekelumit pengalamannya itu menyangkut privasinya-yang sebenarnya pula dipendam dalam-dalam sedalam lautan hatinya. Tak boleh diceritakan ke orang lain. Sebab, bila orang lain tahu, terutama kejelekan dirinya, ini alamat ia dicap sebagai orang yang kurang ajar.

Suatu sore, di kaki gunung Galunggung yang menawan itu, seorang teman-sebetulnya tanpa saya minta ia bercerita ihwal pengalamannya berpacaran dengan beberapa cewek.

Ia mengaku begitu mudah mendekati cewek. Apalagi, saya tahu kalau teman saya ini manusia bertipe koleris, yang katanya sifatnya itu pandai bergaul dan suka banyak ngomong.

Rata-rata, sambung teman saya itu, cewek yang mau didekati, bahkan dipacarinya ditemuinya melalui jejaring sosial, kebanyakan lewat facebook, sebagiannya lagi di twitter. “Biasalah, kalau rayuan maut serta perhatian sudah dilesakkan ke mereka, terutama yang haus perhatian, pasti cewek itu dapat sama saya,” kata teman saya itu yakin.

Di antara sekian banyak cewek yang dijadikan pacar, akunya hanya satu cewek yang-menurutnya cukup singkat dijadikan pacar. “Cuma sebulan, lalu saya putuskan.” Alasannya tentu saja karena kawan saya itu tak benar-benar cinta pada si cewek, namun buat kesenangan dan keisengan saja.

Saya pun tanya ke teman saya, bagaimana awal kenal sama tuh cewek yang akhirnya jadian walau 30 hari itu. Pria berdarah sumatera itu akhirnya mengakui cewek yang masih berstatus mahasiswi di Cimahi itu ia kenal dari media sosial bentukan Mark Juckerberg.

“Iseng aja di facebook awalnya. Ya begitu, say halo lalu diajak kenalan. Karena tau dia jomblo terus dia juga lumayan cantik,saya pun terus coba dekat sambil kasih perhatian. Rupanya si cewek seneng. Ya udah, akhirnya kami akrab,” tutur kawan yang juga menjadi pengajar matematika di sebuah lembaga bimbel di kota Bandung ini.

Hubungan seakrab apapun di dunia maya kurang keren kalau tak dicoba kopi darat (kopdar). Rudi, kawan saya itu akhirnya memberanikan diri mengajak ketemuan. Namun sayang, usaha pertamanya ini gagal, walau sudah dicoba ditelepon maupun lewat BBM-an.

“Kelihatannya si Gisel masih ragu kalau ketemuan. Gisel bilang enggak usah lah ketemuan, cukup di facebook aja. Dari nada suaranya pas aku telepon,dia takut terjadi apa-apa mungkin. Padahal kan aku ini orang baik. Enggak mungkin lah macam-macam sama dia,” ungkap Rudi mahasiswa tingkat akhir yang ngekos di kawasan Bandung Timur itu.

Walau ditolak diajak ketemuan, bukan berarti hubungan dua anak manusia itu renggang. Sms dan telepon-telepon keduanya semakin intens. Suatu kali, Rudi kembali melontarkan keinginanya untuk bertemu sambil memberikan pengertian pada si Gisel. Alhasil, tatap muka itu pun terjadi.

“Rayuanku yang maha dahsyat ternyata meluluhkan hati cewek itu, meski disisipi kata-kata gombal dikit. Kalau enggak gitua, mana mau bertemu. Pertemuan pertama kami lakukan di rumahnya, di kawasan terminal Cicaheum. Orang tuanya juga aku temui. Merasa kurang bebas ngobrol di rumah, akhirnya aku ajak nonton ke bioskop, film Habibi-Ainun,” cerita Rudi.

Pertemuan pertama itu, kata Rudi dirinya bisa melihat keseluruhan fisik luar si cewek secara utuh. Berwajah opal, hidung bangir, rambut yang berombak tergerai hingga pinggang, tentu yang paling Rudi suka adalah murah senyumnya.

“Namanya baru ketemu, salah tingkah antara kami pasti ada lah. Pokoknya pas ketemu seperti ada jarak, cuma senyum-senyum gitu. Lelucon-leluconku juga diterima, bahkan dia juga seneng bercanda. Pertemuan awal itu yang jelas masih malu-malu, deh!” cerita Rudi dengan nada malu-malu.

Pertemuan pertama menyisakan kesan tersendiri bagi Gisel. Tapi bagi Rudi, itu adalah hal biasa dan ia berusaha cuek setelah pertemuan itu. Kenapa Gisel begitu berkesan pertemuannya dengan Rudi? “Pas aku nyampe kosan habis ketemuan itu, tiba-tiba Gisel langsung sms ke aku kalau dia bilang sangat senang dan asyik denganku. Ini kan tanda, kalau setidaknya punya kesan baik di pertemuan pertama,” ujar Rudi. Sms seperti itu, kata Rudi berarti Gisel punya ketertarikan terhadap Rudi. Rudi yakin penuh itu.

Entah beberapa minggu setelah itu, Rudi meminta Gisel untuk main ke kosannya-jika itu pun tak lagi sibuk atau kuliah. Intinya, Rudi pun tak memaksa kawan perempuannya itu harus dating ke kosannya. Mau datang silakan, tak datang pun mungkin ada kesempatan di waktu lai. Begitu pikir Rudi. Kalau si Gisel datang, berarti keberuntungan buat Rudi bisa ada teman ngobrol di kosannya yang super murah itu.

“Mau juga akhirnya dia main ke kosanku. Wuiiih, dia bawa makanan-minuman banyak bangetke kosan. Siapa tak gembira coba? Pokoknya, kalau tuh cewek main ke kosan, semua teman-teman kosan seperti mengerti aku, semuanya pada pergi membiarkan kami berdua di kamar. Ngobrol ke sana ke mari saja aku sama dia. Pokoknya mantap, deh!” Rudi menuturkan.

Pertemuan di kosan berlangsung meriah. Malamnya, Rudi menelepon Gisel. Biasa, awalnya basa basi, tanya itu-ini. Tak menyangka kalau malam itu, Gisel harus dapat pertanyaan dari Rudi, yang menurut Gisel bikin degdegan, ilfil, juga membingungkan. Pertanyaannya singkat, tentu harus dijawab singkat pula. “Kamu mau jadi teman biasa atau pacar aku sekarang?” itu tanya Rudi ke Gisel.

Karuan saja, si Gisel limbung. Hatinya tak menentu disodori pertanyaan, yang sebenarnya belum disukainya. Perasaan Shock juga ada. “Dia bilang,’ ih aa kok bilang gitu, sih!’ Ya, sekarang, mau enggak jadi pacar aa? Atau, mau teman biasa?” Akhirnya, Gisel mau juga menerima tawaranku. Ya udah, kami pacaran!” kata Rudi sambil ngakak, sementara di luar sana hujan masih merintik anggun.

Hubungan mereka pun jelas sekarang: pacaran, bukan lagi teman biasa. Saling memberi perhatian dan dukungan di antara mereka tentu sangat lumrah dilakukan di dunia pacaran. Kerinduan selalu saja memuncak, terutama dari pihak Gisel. Pertemuan memang tak selalu bisa dilakukan. Maklum, Rudi tinggal di Bandung Timur, atau di perbatasan antara Kota Bandung dan Kabupaten Bandung, sementara Gisel tinggal tak jauh dari terminal Cicaheum. Jaraknya tak begitu jauh sebetulnya, ya kira-kira 10 kiloan lah. Bukan itu sebenarnya yang bikin mereka jarang ketemu, tapi kegiatan mereka masing-masing yang kerap mengganggu. Rudi bukan hanya kuliah, tapi ia mengajar di lembaga kursus. Liburan bisa saja Rudi menemui si cewek, tapi keterbatasan duit yang jadi masalah. Ha. Payah!

Suatu saat, Gisel main untuk kedua kalinya ke kosan Rudi. Ini jelas, pertemuan di kos kali ini resmi pertemuan kerinduan, bukan pertemuan sekedar teman biasa. Seperti biasa, Gisel tak pernah lupa, dia selalu bawa cemilan. Maklum, cewek rata-rata memang suka ngemil. Enggak ngemil enggak rame. Enggak ngemil enggak seksi. Enggak ngemil enggak asyik. Enggak ngemil bukan lah karakter Gisel. “Itulah beruntungnya deket cewek, selalu dijajanin. Pas aku sakit aja, Gisel datang ke kosan, nungguin aku, mengompres keningku dengan air jeruk. Ha..ha…”

Rudi selalu bilang, dan ini berulang-kalau cowok yang normal adalah cowok yang berani menggerayangi satu atau beberapa bagian tubuh si cewek atau pasangannya. Saya meyakinkan beberapa kali, benarkah demikian? Maksud saya, sehatkah pacaran yang dibumbui penggerayangan begitu? Ternyata, Rudi tetap konsisten dengan pendiriannya. “Namanya pacaran, enggak asyik kalau tak ‘begituan’, Bro!”

Ada sekitar 10 orang kawan yang saya tanya kalau orang pacaran itu tak terlepas dari perilaku yang tak sehat, dalam hal ini soal ‘penggerayangan’ di satu atau beberapa bagian tubuh si cewek. Penggerayangan itu, setidaknya, menurut saya adalah sesuatu yang tak sehat dalam kultur pacaran. Atas nama normal, maka penjelajahan di tubuh kekasih itu bisa terjadi. Tentu, bukan alasan itu saja mereka lakukan, selain tak dapat meredam nafsu.

“Si Gisel juga begitu. Pas datang ke kosan, aku dekati dia, eh, awalnya dia ngehindar. Lama-lama, kedua bibir kami bertemu, dan itu aku yang paksa. Tampaknya dia kurang suka. Tapi, ketemuan berikutnya, juga di kosanku, sepertinya dia menerima kalau tanganku menyentuh bagian mana saja. Dia pun menikmati, kok! Ah, pokoknya nikmat dunia, deh! Tapi yang pasti, aku tak berani kalau sampai berhubungan badan, aku masih bisa menahan, Bro! Sebatas pinggang sampai ujung kepala saja lah.”

Walau akhirnya Rudi sendiri yang memutuskan hubungan pacaran itu, tapi Gisel masih suka menghubunginya. Tapi, Rudi berusaha tak mau menemuinya, sms dan telepon Gisel tak berbalas. “Cukup lah.”

2 thoughts on “Cerita Pacaran

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s