Bekerja

Teman saya selalu bilang ke saya kalau sebisa mungkin hilangkan niat dalam hati untuk bergantung bekerja pada orang lain. Ia tetap keukeuh, bahwa lebih baik menjadi orang kreatif dengan membuka peluang usaha sendiri.

Akibatnya, kata teman saya itu kalau bergantung ingin bekerja di ketiak orang lain maka pasti orang tersebut akan selalu mendapat tekanan. Artinya pula, ia tak percaya dengan kemampuan dirinya untuk menciptakan kreativitas tanpa harus bekerja dengan orang lain.

Pendapat teman saya itu, menurut saya tak sepenuhnya benar. Setidak-tidaknya menurut saya yang hingga kini masih menganut-bahwa sebelum menciptakan lapangan kerja, terlebih dulu saya harus bekerja dengan orang lain. Apa yang saya anut ini, saya kira tak perlu pula dipermasalahkan, apalagi disebut langkah yang tak tepat.

Yang perlu dilakukan adalah, masing-masing pelaku yang memiliki keyakinan-baik nasehat teman saya maupun mempraktekkan apa yang saya anut lebih pada kekonsistenan “melakukan”. Selagi enjoy dan mampu menciptakan lapangan kerja, ya monggo dan lakukan dengan penuh keyakinan. Begitu juga dengan yang bekerja pada orang lain, kerjakan pula dengan konsisten, sabar, jujur, serta tahan terhadap tekanan sana-sini.

Saya maklum, teman saya ini mengaku bahwa dirinya tidak cocok kalau harus bekerja dengan orang lain. Ia beralasan,”Kerja di perusahaan orang itu harus mampu berdisiplin. Sedangkan saya tak bisa disiplin. Jadi, tetap bakalan enggak bener kalau dipaksakan.”

Memang kalau kamu membuka usaha sendiri bakal disiplin? Kawan saya itu pun membeberkan alasannya. “Buka usaha sendiri itu tak banyak tekanan, tersebab kita yang jadi bos. Mau buka kapan aja bisa. Intinya, saya tidak mau waktu itu dibatasi. Pokoknya, kapan pun saya mau, bisa saya lakukan. Beda dengan kerja dengan orang lain, ada pembatasan kerja dari jam sekian ke jam sekian.”

Lagi-lagi kawan saya ini memang selalu berpikir di luar kebiasaan. Atau, dengan kata lain selalu melabrak pendapat umum. “Paradigma berpikir itu mesti diubah dari pendapat umum. Pokoknya harus berbeda dengan orang lain. Tekad dan keberanian memang modal utama dalam hal ini,” tutur kawan yang tak tuntas di bangku kuliah ini.

Pria berumur 26 tahun asal Indramayu ini memang sosok penuh semangat, terutama dalam dunia bisnis. Hal itu terbukti ia sempat membuka usaha warnet, meski hanya mampu bertahan 1,5 tahun. Demi merintis usahanya itu, bahkan pria yang mengidolakan Doraemon itu kuliahnya terbengkalai.

“Selama buka warnet itu saya mampu membeli motor Ninja. Bukan sombong lho! Bagi saya, kuliah tak menjamin ke depannya bakal sukses, terutama dalam hal finansial. Meskipun sebenarnya, defenisi sukses itu tiap orang berbeda-beda memaknainya,” lelaki lajang ini menjelaskan.

Di tengah perjalanan, dengan berbagai alasan usahanya tersebut ditimpa kemandegan alias bangkrut. Salah satu alasannya, kata lelaki penyuka es krim ini lantaran dirinya kurang pandai mengatur keuangan dan memanajemen diri.

“Saya orangnya masih suka hura-hura. Terkadang, Rp 4 juta saja itu habis buat jalan sama cewek. Belum lagi, motor Ninja yang masih kreditan itu hilang. Dari sana saya stres dan menyesal atas perbuatan saya. Saya merasa berdosa sama orang tua, karena dulu yang ngasih modal usaha warnet dari mereka. Enam komputer pun lalu saya jual dengan harga miring.”

Meski demikian, kawan saya ini tampaknya tak ingin menyerah dengan keadaan. Ia tetap akan mencari peluang usaha baru yang akan dijadikan sebagai pijakan awal demi menghasilkan benda bernama uang.

“Karena kemampuan saya mendesain, maka saya akan coba usaha bikin kaos. Sekarang lagi ngelobi orang tua supaya ditambahi suntikan modal.”

Iklan

One thought on “Bekerja

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s