Uak Ratma

Uak Ratma berpulang. Saya tahu informasi itu dari sms yang dikirm adik saya pukul 02.09 dini hari, Selasa 11 Juni 2013. Pesan duka itu datang ketika saya berada di kotaTasikmalaya, menemani seorang kawan berkunjung ke ibu angkatnya di jalan Leuwi Anyar no 71. Padahal, 3 hari sebelumnya, apak, emak, oman, dan saya bersalaman dengan paman saya itu. Tak disangka, itu adalah salaman terakhir kami pada paman yang tinggal di sebuah kampung, tepat di kaki gunung Galunggung itu.

“Yuuung, uak meninggal jam 2 tadi.”

“Yuuung banguuuun uak meninggal jam 2.”

“Pagi2 ke Kelengsari yung.”

“Yuuuuuuung banguuuuuuun.”

“Ass. Innalillahi wainnailaihi rojiun..ua Ratma barusan jam 02 tos ngantunkeun (meninggal)..mudah2an diampuni  dosa2 na sareng di lapangkeun kburna..amiin…”

Setengah sadar saya sambil membaca lima sms kiriman adik saya. Saya dibangunkan oleh bunyi sms di hape. Meski, sebenarnya sms itu tidak saya harapkan. Tapi, apalah daya, jika telah sampai waktunya, maka Tuhan pun berkehendak. Berulang saya baca pesan dari adik saya itu. Hingga tiga kali. Barangkali saja itu hanya mimpi. Bukan ternyata, ini bukan mimpi. Saya cubit pipi yang mulai renta ini dengan sepenuh hati. Uh. Sakit.

Beberapa saat, ada lagi pesan masuk ke ponsel saya. Padahal, semua pesan dari adik saya belum kelar saya baca. O. kakak ke tiga saya memberi kabar serupa. Rupanya kakak saya ini lebih dulu tahu dari saya mengenai kematian uak Ratma. Saya bilang, baik ke adik maupun ke kakak saya, bahwa baru setelah subuh saya bisa ke Panunggal, kampung tempat paman saya itu tinggal. Dipenuhi pesan duka itu, lantas saya tak sanggup lagi meneruskan perjalanan tidur saya. Kantuk lenyap seketika. Yang ada malah deg-degan. Kaget.

Adzan subuh pun bersambut. Ibu angkat kawan saya itu sibuk di dapur. Terdengar, ia sedang mencuci beras. Tak lama, tercium pula aroma telur ayam digoreng. Pasti itu sarapan buat kami. Saya membatin. Tapi saya pikir, saya habis subuh langsung pamit mau ke Kelengsari, lalu diteruskan ke Panunggal-kalau keburu mau ikut memandikan jenazah uak Ratma. Kalau sekiranya ibu angkat itu menawari sarapan, pantaskah saya menolak? Sementara saya harus segera ke Sukahening!

“Umi, saya harus segera ke Sukahening sekarang karena paman ngantunkeun (meninggal) tadi tabuh (pukul) 02.00,” ucap saya di hadapan ibu angkat kawan saya.

Innalillahi wainnailaihi rojiun,” wajah umi langsung memperlihatkan kekagetan,”sekarang makan dulu aja. Nasi sudah masak.”

“Punten (maaf) umi, biarlah enggak usah. Kapan-kapan saya bisa ke sini lagi,” sambung saya.

“Jangan begitu, pamali. Ayo, lauk dan nasi sudah disediakan!” tandas umi, yang mau tak mau saya tak bisa lagi mengelak.

Saya dan kawan lalu makan. Tak sampai 15 menit, telur dadar yang saya lumuri kecap serta sayur kentang buatan umi saya lesakkan ke perut. Alhamdulillah. Rezeki datang dari siapa saja, asal yakin bahwa maha kasih dan sayang Tuhan unlimited. Di tengah asyik melahap nasi itu, hati saya ingat uak Ratma. Uak yang selama 5 bulan terakhir ini diterpa sakit-sakitan. Sakitnya parah. Bahkan, pengakuan salah satu anaknya, Elik bahwa ayahnya itu selalu teriak-teriak kalau malam hari. “Selalu mengerang, seperti ada rasa sakit di pinggang dan dada.”

“Umi, kayaknya Cep pamit dulu ya. Nuhun (terimakasih) atas sarapannya. Soalnya apak sudah sms supaya Cep cepat ke Sukahening,” saya beranikan bilang begitu ke umi, meski sebenarnya masih segan mau bilang terima kasih. Saya salami umi. “Nanti main ke sini lagi kalau ada waktu ya. Jangan kapok main ke sini. Nih, ada ongkos buat naik becak. Lumayan.” Umi memberi uang itu pada kawan saya. Kawan saya ini-saya tahu ia pura-pura langsung menolak pemberian uang umi. “Udah mi, jangan. Saya ada kok ongkos mah!” ucap kawan saya itu sambi tangannya menahan tangan umi yang ingin memasukkan uang ke saku baju depan kawan saya itu. Jujur, melihat aksi kepura-puraan menolak kawan saya itu kurang saya senangi. Kenapa? Karena, baik saya dan dia (kawan saya itu) detik itu sedang krisis keuangan. Oleh karena itu, uang dibutuhkan subuh jelang siang itu! Tak mungkin dengan uang Rp 7000 yang ada di kantong kami cukup buat ongkos ke Sukahening! Uang itu hanya cukup buat angkot dari simpang Pancasila sampai ke Indihiang. Lalu untuk menyambung ke Rajapolah? Harus jalan kaki begitu? Belum lagi dari Rajapolah ke Sukahening?

“Sudah, jangan menolak rezeki. Nolak rezeki itu pamali,” tukas umi pada kawan saya yang pura-pura nolak itu. Diambilnya juga uang pemberian umi itu. Yes!!! Asyik, akhirnya keajaiban itu datang. Tadinya, kalau tak ada uang tambahan, kami berencana mau jalan kaki dari Indihiang ke Rajapolah. Atau, kalau pun terpaksa, dari Indihiang akan kami stop mobil angkutan barang untuk meminta tumpangan sampai Rajapolah. Kalau sudah sampai Rajapolah, gampang. Tinggal sms adik saya atau saudara di Kelengsari minta jemput pake motor.

Untungnya itu tidak terjadi. Saat berjalan menuju simpang handak menyetop angkot jurusan Indihiang, saya tanya ke kawan saya. “Hey, coba lihat, emang berapa uang yang dikasih umi tadi? Sudahlah, jangan berpura-pura di tengah kesengsaraan hidup. Kalau umi sudah kau anggap sebagai ibu sendiri, tak usahlah segan, walau itu meminta duit. Kalau kepepet semuanya bakal terjadi. Bahkan, sampai hal yang memalukan sekali pun!” semprot saya ke teman saya sambil ketawa-tawa gembira.

Kawan saya ini membalas ketawa. “Malu lah bro! Kalau soal meminta-minta apalagi mengharapkan sesuatu dari orang lain, saya tak sanggup, saya malu. Tapi, sebenarnya saya selalu yakin, bahwa kuasa Tuhan akan selalu ditunjukkan kepada hamba yang yakin kepada-Nya. Maka, pemberian uang Rp 50.000 dari umi ini adalah jawabannya, Bro! Udah, jangan dipikirkan lagi. Yu ah, kita cari warung dulu. Beli rokok. Masam, nih mulut!”

Angkot bercat putih merah jurusan Indihiang kami naiki. Kegembiraan masih bersemilut, tapi juga-uak Ratma tak bisa lepas dari ingatan saya. “Innalillahi wa innailaihi rojiun.” Berkali-kali mulut hati saya berucap begitu, bahwa kita ini milik Tuhan dan akan kembali kepada-Nya pula. Kata-kata itu pulalah yang saya jadikan status pertama di facebook pagi itu dengan menggunakan seluler android kawan saya.

“Minjam hape Bro. Mau nulis status, nih!”

“Di mana?” sms masuk ke hape saya. O, adik saya.

“Lagi di WC terminal Rajapolah! Udah di mana?”

“Di jalan, mau ngantar neng dulu ke sekolah!”

“Yup.”

Oman datang. Bawa motor . Jadilah kami berboncengan tiga orang. Motor yang kami tumpangi nyaris reyot. Maklum, beban motor bertambah. Berat saya diperkirakan 45 kilogram, kawan saya, mungkin saja 50, sedangkan adik saya, entahlah, barangkali 50-an juga. “Jam berapa emang kau dapat info uak Ratma, Man?” sentil saya ke Oman, sembari motor terus menabrak angin-angin jalanan yang kedinginan sebelum sampai di kampung Kelengsari.

“Apak nelepon saya itu pas jam 02.00. awalnya saya rejec. Tapi, apak nelepon lagi. baru saya angkat. Awalnya saya mengira, kalau enggak apak yang sakit, ya ada sesuatu dengan uak Ratma. Karena malam itu memang apak demam. Tapi ternyata uak Ratma pupus (meninggal)!” lontar Oman. Saya tak memberi tanggapan lagi. Motor pun sampai di Kelengsari. Padi-padi di kanan-kiri jalan ikut berduka, mengheningkan cipta buat uak Ratma. Terima kasih padi-padi atas perhatian kalian.

Tak sampai setengah jam saya di Kelengsari. Beberapa saudara dari pihak ibu dan bapak sedang bersiap menuju Panunggal, tempat keluarga uak Ratma tinggal. Maka saya pun bareng saja sama mereka, mumpung ada tumpangan gratis. Sekira setengah jam, kami pun sampai di rumah uak Ratma. Tak ada keramaian di depan rumah itu. Seperti tak ada kejadian apa-apa. Saya langsung masuk ke rumah, menemui emak dan apak.

“Pak, ua Ratma tos dikurebkeun (dikuburkan)?”

“Nya, atos. Barusan pisan. Awalnya mau menunggu ke tiga anaknya yang masih di perjalanan dari Jakarta. Tapi, anaknya sudah ikhlas menyuruh kelurga yang ada di rumah untuk cepat dikubur saja. Takut kelamaan katanya, kasian.”

Saya menyesal karena tak bisa ikut mensalatkan uak Ratma terlebih dulu. Minimal, saya ingin melihat raut muka terakhir paman saya itu sebelum bersatu ke liang lahat. Tapi, ternyata tidak bisa. Saya terlambat. Ya sudah uak, selamat menempuh di alam yang baru. Ini hanya perpindahan tempat saja. Dari tempat fana yang serba susah, menuju alam keabadian. Tuhan maha pemberi ampun terhadap hamba yang dikehendaki-Nya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s