Besok ke Tasik

Saya hari ini batal ke Tasikmalaya. Musababnya hanya satu: enggak ada duit! Rasanya tak ada alasan lain. Klasik memang. Tapi, itulah yang terjadi. Begitulah yang saya rasakan hari ini. Maksudnya, enggak ada duit di saat saya sangat membutuhkan. Saya butuh duit itu tadi pagi, bukan siang, apalagi malam saat saya menulis ini. Duit baru saya peroleh, tepatnya  pukul 17.00 waktu kota Bandung, di saat langit menitikkan serpihan-serpihan kesedihannya.

Duit yang saya dapatkan itu pun penuh perjuangan dan penuh harap. Dengan memohon-mohon pada seorang kawan-yang kebetulan lebih beruntung dari saya. Ia sudah bekerja di salah satu perusahaan swasta di kota Bandung. “Halo Bro, apa kabar? Bisa bantu aku, enggak? Aku minjam duit Rp 100 ribu. Kepepet. Aku mau ke Tasik. Ada urusan!” saya beranikan diri menelepon kawan itu sore kemarin. Agak malu sebenarnya, tapi apapun bisa terjadi kalau lagi kepepet. Betapa dahsyatnya kekuatan kepepet itu, Bro!

“Oke. Gampang. Aku juga kebetulan besok (hari ini) gajian. Pokoknya kamu besok (hari ini) datang aja ke kantorku.” Jawaban kawan saya begitu di ujung telepon. Saya sedikit cerah. Sumringah. Yang tadinya terasa lapar, tak jadi lapar. Yang awalnya haus, eh, pas dapat jawaban kawan begitu kok malah lenyap rasa hausnya. Semua seperti terbayarkan oleh kebaikannya, meski belum terwujud. Yah, memang, kalau sudah terlanjur menjadi kawan, apalagi kawan dekat, ia harus menanggung segala resikonya kalau berteman dengan saya. Ha.

Saya jadi berpikir, kawan saya itu diperkirakan baru menerima gaji pasti enggak mungkin pagi. Benar tebakan saya. Padahal, sekali lagi-saya butuh duit itu pagi-pagi, bukan siang, sore ataupun malam. “Bro, sori, aku baru gajiannya mungkin udah Dhuhur. Soalnya paginya kami ada rapat evaluasi. Enggak papa, kan?” kawan saya itu menelepon lagi dan saya jawab,”Oke!” Maka saya pun mencari alternatif lain. Maksudnya, mengingat-ingat kawan lama yang masih bercokol di Bandung-yang kira-kira sudi kiranya meminjamkan uang ke saya. Kali ini saya harus agak memaksa, meski dengan bahasa halus-supaya tak tampak seperti memaksa. Soalnya, penting banget, Bro!

Ada sekitar 4-5 kawan yang saya hubungi. Baik lewat telepon maupun sms. Jawaban mereka nyaris sama: euweuh duit, Cep! Hampura! Saya memang hebat. Duit enggak ada, tapi pulsa di Hape cukup buat menelepon sekaligus sms. Maklum, saya suruh adik saya mengirim pulsa ke ponsel saya dua hari lalu. Beruntung, adik saya yang satu ini-barangkali merasa iba ke saya, lalu mungkin agak sedikit jengkel dikirimnyalah pulsa 20 ribu. Asyik ah! Makasih, Bro! Moga kau cepat diwisuda akhir tahun ini! Kalau sudah wisuda kan gampang, mau kawin, ya silakan kawin. Kalau belum mau, biar Aa-mu ini yang duluan.

Alhasil, sekira pukul 16.00 atau selepas asar saya menemui kawan yang bersedia meminjamkan duit Rp 100 ribu. Saya ke kantornya di jalan Otista, tak jauh dari Tegal Lega, ya pusatnya kota Bandung lah. “Mas Bro, aku udah di depan kantormu, nih! Keluar, dong!” saya layangkan pesan singkat itu, sementara jari tangan saya gemetaran. Agak deg-degan. Takut-takut uang yang diberikan nanti tak sesuai rencana. Bismillah aja lah.

“Memang berapa mau pinjamnya, Bro?”

“Ya Rp 100 ribu! Aku mau ke Tasik sore ini (meski akhirnya enggak jadi)”

“Hampura (maaf), duit seratus ribu sudah pecah. Ini ada juga Rp 80 ribu. Mau? Maaf, gaji saya dipotong kantor buat hutang. Terus, tadi tiba-tiba ada kawan kantor yang sakit tifus, lalu saya ngantar ke rumah sakit. Jadi kepake Rp 20 ribu. Pake aja dulu ya Rp 80 ribu ini. Maaf, Bro!”

Saya mau gimana setelah mendengar pengakuan kawan saya itu. Saya marah? Harus kecewa? Saya memutuskan untuk tidak berkawan lagi? Atau, tetap menerima duit yang Rp 80 ribu tadi, tapi dalam hati berkesal-kesal ria sambil mengumpat, sambil mengata-ngatai dia pembohong, lalu saya tak berniat mengembalikan utang itu? Terus, dalam hati saya bilang,”Memang orang ini enggak niat banget mau minjamin duit!”  Pikiran saya memang bisa disetir kemana saja. Untungnya, itu tak sampai terjadi.

Thanks, Bro! Besok pagi saya ke Tasik!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s