Menjajal Sop Biawak

Saya baru dua kali makan daging biawak. Pertama, saat saya masih SMA, tapi entah pas kelas berapa. Yang jelas, selepas asar itu, biawak hasil tangkapan apak saya eksekusi: hatinya saya goreng! Dan, rasanya lumayan gurih, bak hati ayam kampung! Setelah itu, lama saya tak lagi mengonsumsi hewan sebangsa reptil  itu.

Dua minggu lalu, saat saya pulang kampung barulah saya berkesempatan menikmati daging itu untuk kali kedua. Kalau saat SMA dulu biawaknya yang nangkap apak, tapi kemarin, reptil yang masuk dalam golongan kadal besar itu saya sendiri yang nangkap alis menjeratnya. Biawak itu saya umpan dengan kepala ayam negeri, tentu di dalamnya dipasang mata pancing ukuran besar.

Saya optimistis hari itu bisa mendapatkan biawak. Maka emak, pas kebetulan mau ke pasar pagi itu, saya titipi uang Rp 5000 buat beli kepala ayam. “Mak, minta tolong sekalian belikan kepala ayam empat. Cep mau mancing biawak. Mau dimasak! Udah lama enggak mancing biawak di rawa,” ungkap saya sebelum emak beranjak ke pasar.

Setengah jam, emak sudah nongol lagi di rumah. Bawa peyek, pecel, bakwan, beras, sayuran, dan kepala ayam di plastik merah. Kepala ayamnya dingin. Mungkin didinginkan di kulkas. Maklum, 3 bulan lalu, baru saja desa kami dipasang listrik. Jadi, para tetangga bernafsu membeli segala kebutuhan rumah tangga yang bisa disengat listrik. Masak pakai kayu bakar hampir tak lagi ditemukan sekarang. Kecuali di rumah emak.

Cepat-cepat saya pasang kepala ayam di ujung mata pancing. Saya kaitkan. Ada empat mata pancing yang saya pasangi kepala ayam. Saya lalu berangkat menyisiri kolam dan rawa sambil mencari tempat strategis untuk menancapkan gagang pancing yang dihiasi kepala ayam. Ya, di sana. Di dekat sumur itu yang kata apak biawak sering muncul. Satu gagang pancing saya tancapkan di samping sumur, di sebelah pohon akasia.

Ada tiga lagi mata pancing yang belum saya pasang. O, iya, di susukan (sungai kecil) dekat kuburan, yang kata apak juga menjadi tempat berlalu lalangnya biawak jika siang hari. Maka saya, dengan sedikit berlari langsung ke lokasi. Saya pasang tepat di bibir susukan itu. Airnya tak tampak jernih, tapi kecoklatan. Lebih jelasnya hampir kering. Rerimbunan belukar menambah seram pancing yang saya pasang di sana. “Semoga dapat ya, Tuhan.”

Bersisa dua lagi pancing yang ada di genggaman. Satu saya coba pasang di pinggir kolam dekat rumah, sementara sisanya kolam yang tak terurus. Saking tak terurusnya, rumput babadotan, begitu kalau orang Sunda menyebut semakin liar di sekujur kolam. Tinggi-tinggi. Menghijau. Sampai-sampai, air kolamnya tak tampak lagi. Kalau begitu, ia menjadi tempat nyaman buat para tikus berkongsi. Juga membuat betah burung cucak rowo becengkrama sekaligus berumah tangga-beranak pinak.

Sungguh tak sabar saya menunggu biawak mencaplok kepala ayam yang saya pasang. Sudah dhuhur, saya ziarahi 4 tempat perangkap biawak, eh, ternyata belum juga berhasil. “Mungkin biawaknya masih belum lapar, makanya belum cari makan,” pikir saya di siang yang terik dua minggu lalu. Saya pun kembali ke rumah. Tidur-tiduran lagi sambil baca-baca koran kedaluarsa.

Ini sudah hampir asar. Angin kencang. Masih agak panas. Cocoknya mandi, nih di sumur! Handuk dan ember kosong saya persiapkan lalu terus berjalan ke arah sumur. Eh, ini ada yang aneh. Dari kejauhan, entah kenapa pandangan saya sapukan ke rawa yang sempit oleh babadotan. Terutama ke arah pinggirnya. Wow, kayu yang saya pancangkan tadi kok bergerak-gerak. Ada apakah? O, iya, itu biawak! Biawak kena tipu! Disangkanya, kepala ayam itu tak ada mata pancingnya. “Kena, Kau!”

Seketika, saya balik lagi ke rumah dengan maksud ngambil parang dan karung. Ya, saya berlari kencang! “Mak, biawak kena pancing! Ayo Mak, temani!”

“Hayu atuh!” jawab emak agak kaget juga gembira.

Dan……….”Mak, ngeri megangnya. Gimana ini? Takut gigit!” ucap saya saat melihat biawak bergelantung disekap mata pancing. Emak ada di belakang saya sambil bilang,”pegang buntutnya (ekornya)!”

Waduh…waduh…saya bilang ngeri ya ngeri, Mak!

Demi jaga wibawa dan supaya tampak pemberani , maka saya sambar buntut (ekor) biawak yang tampak beringas itu. Tangan kiri pegang buntut biawak, sementara tangan kanan saya meraih gagang pancing lalu terus berjalan agak cepat menuju rumah. Maunya, biawak itu saya biarkan hidup dulu, mau dipelihara. Tapi, rasanya tak mungkin. Mata pancing ukuran besar itu telah bersarang di perutnya. Barangkali, mata pancing yang tajam itu merusak usus, hati, jantung, dan tak mungkin bakal hidup lama kalau pancing itu saya tarik keluar.

“Sulit dikeluarkan kalau mata pancing sudah begini. Tak ada cara lain untuk mengambil mata pancingnya selain dibelah perutnya,” kata apak di dekat saya. Biawak masih bergerak-gerak. Akhirnya, saya putuskan biawak ini disembelih saja. Dagingnya diambil! Ya udah. Eksekusi dimulai! Berdarah-darah pokoknya! Ayam-ayam peliharaan tiba-tiba ikut merubungi saya. Mematuk-matuk isi perut biawak. Doyan juga tuh, ayam.

Pada akhirnya, hati dan daging biawak saya ambil. Tak banyak dagingnya, cuma dua genggam. Saya bingung, mau disate atau diapakan daging ini. Saya mau yang praktis! Dagingnya saya jadikan sop dan hatinya saya goreng! Dua-duanya enak. Tapi karena hanya saya yang melahap, maka seperti mabuk daging biawak hari itu. Haha.

Iklan

3 thoughts on “Menjajal Sop Biawak

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s