Angelina Jolie dan Penjual Kantong Plastik

Tiga bocah datang dengan betisnya yang kecipratan lumpur. Pakainnya lusuh. Basah kuyup pula. Dua cewek satu cowok. Yang cowok badannya kurus. Sedangkan yang cewek agak gemukan dikit, tapi masih kelihatan kurus. Cewek yang terakhir, ini agak beda. Tubuhnya lebih tinggi dibanding dua anak itu dan tampak lebih dewasa. Cantik. Wajahnya mirip Angelina Jolie. Saya waktu itu lagi membilas pakaian di sebuah masjid di kota Bengkulu. Saya terus membilas baju, sementara ketiga anak yang bercelana pendek itu menunggu di samping pintu WC. Antri.

Cewek yang mirip Angelina Jolie: “Bang, WC-nya penuh, ya?”

Saya: “Tunggu aja dulu!”

Cewek yang mirip Angelina Jolie: “Buang air besar seribu kan, Bang?”

Saya: “Biasanya, kalo buang air besar pasti buang air kecil juga, kan?”

Cewek yang mirip Angelina Jolie: “Hmmm…haha. Berarti seribu lima ratus dong, Bang? Tapi aku mau mandi aja, kok!”

Saya: “Mandi juga, biasanya gak cuma mandi. Terkadang juga sekalian  buang air besar, juga tentu buang air kecil, Dek!”

Cewek yang mirip Angelina Jolie: “Alah Abang ni!”

Si cewek yang wajahnya mirip Angelina Jolie masuk duluan ke WC ketika anak lelaki-yang juga sepantaran mereka keluar WC. Lelaki itu memegang perutnya. Mungkin sakit. Atau, saat asyik mengebom lubang WC, ia mencret. Huh, sungguh enggak enak yang namanya mencret!

Di tempat wudhu, atau di luar WC kini tinggal dua anak, yang tentu kawan sepermainan anak yang mirip Angelina Jolie. Kedua anak itu, saya lihat memutar-mutar keran hingga melelehkan air. Dipermainkannya air bening itu. Saya memerhatikannya saja sambil terus membilas baju, celana, sempak, baju dalaman, plus kaos kaki.

“Dari mana, Dek?” saya arahkan suara itu ke anak lelakinya, yang masih kelihatan main keran.

“Dari pasar, Bang!”

“Di mana rumah, Dek?”

“Rawa Makmur, Bang!”

“Kok, jauh-jauh main ke sini (pasar)? Mau ngapain?”

“Jualan asoy plastik, Bang!” celetukan itu bukan berasal dari mulut si bocah lelaki, tapi si cewek, yang jelas-jelas di samping saya. Sambil ketawa-ketiwi saja dia. Gigi bagian depannya kelihatan ompong. Barangkali karena kebanyakan makan permen atau diserbu ulat gigi.

“Asoy??? Jadi tadi adek di pasar jualan asoy?”

“Iya, Bang!” hampir serempak mereka berdua menjawab.

“Kelas berapa, Dek?”

“Kelas empat, Bang!”

“Di SD mana?”

“SD 85, Bang?”

“Di mana itu, Dek?”

“Di Rawa Makmur!”

“Libur sekolah, ya?” saya masih tanya begitu, meski tahu hari ini (9/5) emang tanggal merah karena kenaikan Isa Al-Masih.

“Iya, Bang!” masih kata yang cewek. Yang cowok sibuk dengan kerannya. Cewek yang mirip Angelina Jolie masih di dalam WC. Katanya tadi mau mandi.

“Jadi, adek ni jualan asoy-nya pas liburan aja, kan? Berarti hari Minggu juga?”

“Iya, Bang, sambil ngawani (nemani) ibu jualan sayur.”

“O, sambil ngawani ibu, to, Dek!”

“Iya, Bang!”

“Duit jualan asoy buat apa, Dek?” menunduk-nunduk saya sambil membilas baju yang enggak tuntas-tuntas.

“Beli buku, Bang!” kali ini keduanya menjawab serempak lagi.

“La, kalo yang adek ini, memang kelas berapa?” saya membalik badan menghadap ke arah bocah perempuannya.

“Dio (dia) kelas satu, Bang!” malah bocah lelakinya yang cepat-cepat menjawab.

“Buku LKS juga dibeli dari duit jualan asoy, ya?”

“Iya, Bang!”

“Katanya harga LKS mahal, ya?”

“Sembilan ribu Bang satunya!”

“Bang, kotor bajunya kalo diletakkan di lantai ini. Lantai ini pernah kena muntah dulu,” ujar si anak cowok ke saya. “Ini udah bersih, Dek! Barusan lantai ini dipel, jadi enggak papa.”

“O.”

“O, jadi ibu kalian jualan sayur di pasar, ya?”

“Iya, Bang!”

“Kalo bapak?”

“Ngojek, Bang!”

“Ngojek??? Tiap hari, ya?”

“Iya, ngojek. Iya tiap hari, Bang!

“Di gang dekat rumah ngojeknya, Dek?”

“Bukan, Bang! Di Tanah Patah!” lagi-lagi serempak dua bocah ini menjawab. Saya curiga.

“Kalian adik-kakak, ya?”

“Iya, Bang!”

“Berapa beradik emang?”

“Sembilan, Bang!”

“Ah, ngicu (bohong) kau, Dek?” saya beranikan diri kali ini menepuk-nepuk pundak si anak yang cowok berambut pendek itu.

“Enggak percaya Abang ini!”

“Masa, sih sembilan, Dek?”

“Iya, Bang!”

“Ini adek saya anak ke tujuh, Bang!” sambil menunjuk ke anak cewek yang kini berada di sampingnya.

“Anak pertama udah nikah, ya?”

“Udah, Bang! Udah punya anak.”

“Heh, kamu enggak ke WC?” lontar si cewek yang mirip Angelina Jolie begitu keluar WC kepada dua temannya.

“Enggak ah!” kata mereka yang ketahuan kalau ternyata adik-kakak itu.

“Jadi dua ribu, ya Bang! Tadi aku cuma mandi, kok!” kata si cewek yang mirip Angelina Jolie senyum-senyum.

“Nih, uangnya, Bang!”

“Tarok aja di kotak di atas meja itu, Dek!”

Bilasan pakaian saya tinggal dua lagi ketika tiga bocah itu tak lagi tampak punggungnya.

Iklan

4 thoughts on “Angelina Jolie dan Penjual Kantong Plastik

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s