Selamat Jalan Iwan

Tadi malam saya menghadiri ta’ziah (berkunjung ke rumah orang yang sedang tertimpa musibah kematian untuk menghiburnya) di rumah kawan lama. Kawan lama saya itu, kemarin (4/5) malam-entah pukul berapa persisnya meninggal dunia. Maka saya hadir saat ta’ziah itu sambil ikut merenung tentang hakikat kematian yang disampaikan oleh sang ustad. “Seseorang mati bukan karena dia sakit, bukan karena dia kecelakaan, dan bukan karena dia terkena ini atau terkena itu. Tapi, seseorang itu mati karena kontraknya di dunia telah habis,” ustad bilang begitu malam tadi.

Saya dengar kalau teman saya itu menghembuskan napasnya, pagi-pagi kemarin. Betapa saya kaget saat mendengar pengumuman pak RT dari corong speaker masjid. “Assalamualaikumwarahmatullahiwabarakatuh. Innalillahiwainnailihirajiun. Telah meninggal dunia anak kami Iwan Suherman, anak uda Ar tukang sate Singgalang.” Iwan..iwan..iwan..o, ya iwan yang itu. Iwan yang dulu, yang rumahnya di samping Mts Muhammadiyah, jalan Soeptapto tempat saya sekolah beberapa tahun lalu. Sementara Iwan, dia sekolah di SMP Muhammadiyah, Kampung Bali.

“Sekali lagi kepada jamaah dan warga RT 5 Anggut Dalam, telah pulang ke rahmatullah atas nama Iwan Suherman anak uda Ar tukang sate Singgalang. Demikian pengumuman ini. Assalamualikumwarahmatullahiwabarakatuh,” diulanginya pengumuman duka oleh pak RT. Semakin jelas, bahwa itu adalah Iwan anak uda Ar, yang bekerja di Jakarta. “Innalillahiwainnailaihirajiun. Begitu cepatnya kontrakanmu habis.”

Setelah mendengar pengumuman dari pak RT pagi itu, saya langsung mengecek ke dinding facebook-nya. Kebetulan, di jejaring sosial itu , saya sudah berteman dengannya  cukup lama, pas saya kuliah. “Slalu trsiksa ktika harus sakit,,ga ada yg urus,,I need my mom.” Itu status facebooknya yang saya lihat. Tertanggal 27 Desember 2011. Tak ada status yang baru di FB-nya bulan ini. ” selamat hari ibu,,mama ku tersayang,,maafin klo aq blom bisa buat dirimu bangga atas anakmu ini,,air matamu yg kluar blom bs kubayar dgn apa yg tlah aq lakukan,,tpi klak,akan kubuat engkau bangga pada anakmu ini.” Itu guratan status sebelumnya, 21 Desember 2011.

Facebook saya tutup. Saya lalu ke pasar Minggu: beli nasi uduk. Saking ramenya yang beli, saya ikut antri. Sayup-sayup, saya dengar obrolan antara penjual uduk dan salah satu pembelinya. “Katanya sakit di bagian perut. Tapi dokter gak bisa mendiagnosis penyakitnya apa. Makanya, katanya bapaknya langsung membawanya ke dukun,” kata mbak-mbak penjual uduk sambil terus membungkus pesanan.

“Gak tahu lah. Zaman kini kok masih saja ada yang percaya sama dukun. Kalau sakit di badan ya ke dokter. Orang Padang memang percaya sama dukun. Sudah ke mana-mana diobati, eh, tahunya tadi subuh  anak uda Ar meninggal. Ya udah ajalnya,” begitu kata bapak si pembeli uduk. Saya di sampingnya, hanya dengar saja, gak ikut komentar. Sekali lagi, saya hanya ikut menampung sebagian obrolan mereka.

Si mbak-mbak penjual uduk masih mengomel. “Itu, anak uda Ar yang kerja di Bank. Iya, dulu kan sempat di Jakarta. Tapi sekarang udah pindah ke Bengkulu. Entah di Bank mana, Muamalat apa. Aku lupa.”

Bapak yang mesan uduk tadi udah hilang. Maka saya coba juga ikut ngobrol. “Mbak, yang meninggal itu siapa, sih?” lontar saya, ya pengin tahu lebih jelas saja, meskipun tadi udah dengar pengumuman pak RT sekilas. “Itu adeknya Anton, yang rumahnya di belakang masjid,” mbak-mbak bilang begitu sambil terus membungkus uduk. Ya sudah, pesanan saya pun selesai. Pulang. O, Iwan. Ternyata benar. Di pasar pun orang sudah tahu.

Malam tadi itu, sambil terkantuk-kantuk, ta’ziah di rumah orangtua Iwan dipadati orang-orang. Deretan kursi plastik penuh. Mereka khusuk mendengar kata-kata hikmah sang ustad, yang salah satu tujuannya adalah menghibur yang sedang mendapat musibah supaya tak terus larut dalam kesedihan, memahamkan hakekat kematian, serta menguatkan iman, baik kepada yang hadir maupun kepada keluarga yang mendapat musibah.

“Setiap yang hidup bakal mati. Jadi, tinggal menunggu giliran saja. Berani hidup, harus berani pula mati. Di dunia ini kita ngontrak bapak-ibu sekalian. Anak kita ini, Iwan, ya memang kontrakan di dunianya udah habis. Anak itu titipan, jadi kalau namanya nitip, pas diambil lagi oleh pemiliknya harus menerima, harus ikhlas, legowo,” suara ustad lantang malam tadi.

“Kalau maut sudah datang, ia tak bisa dimundurkan ataupun dimajukan jadwalnya. Ia datang di saat yang tepat, di tempat yang dikehendaki Tuhan. Meski demikian, manusia sering salah kaprah atas menanggapi kematian. Kenapa sih dia harus mati padahal dia masih muda, kok enggak yang nenek-nenek saja atau yang sudah tua-tua begitu. Maut tidak begitu. Gak pandang bulu, mau bayi, muda, tua, mau ustad, mau siapa pun, kalau waktunya sudah sampai, kalau kontrakannya udah habis, maka hilanglah nyawanya.”

Waduh. Saya jadi agak-agak ngeri. Tapi, itu perasaan saya saja. Anehnya, kantuk yang menguasai saya dari tadi  tiba-tiba pergi saat sang ustad mengakhiri ceramahnya. “Bila almarhum ini punya kesalahan semasa hidupnya, baik kepada tetangga, kawan-kawannya, tolong dimaafkan. Dengan begitu, almarhum akan tenang di alam baka sana, tak ada beban. Bila ia punya hutang, tolong keluarganya juga melunasi hutangnya.” begitu ustad menyampikan beberapa saat sebelum tausiah itu akhirnya benar-benar ditutup.

Selamat jalan Iwan.

Jenazah Iwan, sesaat sebelum dimandikan. (Foto diambil dari dinding facebooknya)

Jenazah Iwan, sesaat sebelum dimandikan. (Foto diambil dari dinding facebooknya)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s