Memanen Pisang Siem

Hari ketiga di rumah emak-apak, 23 April 2013

“Cep, ngala cau siem ka WU. Sigana tos kolot da. Mawa bengkong jeung karung, jeung Imam kaditu. Kamari mah katingali tos kolot. (Cep, ambil pisang siem ke WU. Kayaknya sudah tua. Sambil bawa parang dan karung, sama Imam ke sana. Kemarin sudah kelihatan tua),” apak bilang begitu dan jarang sekali pake bahasa Indonesia.

Ari barusan berangkat ke sekolah. Hari ini katanya ujian bahasa Inggris. Atau hari kedua ujian nasional (UN) untuk tingkat SMP/MTS serempak seluruh Indonesia. Dan tempat saya sekarang, Kecamatan Putri Hijau, masih bagian NKRI, meski SBY belum pernah nginjak Putri Hijau sama sekali. Gak usah lah ke sini pak Beye, jalannya juga jelek,kok!

Mak, mana karungna? Cauna teh di sabeulah mana, Mak? Di sabeulah duren atau deukeut bumi pak setu? Siuen salah tebang keh! (Mak, dimana karungnya? Pisangnya sebelah mana, Mak? Di sebelah pohon duren atau dekat rumah pak Setu? Takut salah tebang)!” ucap saya sambil ngeloyor ke dapur.

Itu, nu di deukeut pak setu, pas perbatasan. Engke cauna leubeutkeun kana karung. Tong hilap bawa tali rapia keur nalina engke, meh teu ragrag! (Itu, yang dekat pak Setu, pas perbatasan. Nanti pisangnya masukkan ke karung. Jangan lupa bawa tali rapia untuk diikat supaya enggak jatuh!)” jawab emak.

Motor diaktifkan. Brem…brem…bremmmmmmmmmm. Tiga tupai, saking kagetnya langsung lari tunggang langgang, loncat ke pohon pinang, lalu ke randu, pohon jengkol, dan terakhir, saya lihat bertengger di pohon rambutan sebelah rumah. Tupai entah melanjutkan perjalanan kemana lagi. Sementara saya dan Imam langsung menuju TKP memburu pisang siem.

“Mam, ini sekolah SD mang Ncep dulu. Ini ruang kelas V dan di sebelahnya kelas VI,” kata saya memberitahu Imam sambil menunjuk ke arah sekolah bercat kuning itu,” di kelas V itulah mang Cep sering kena hukum sama pak Zainal, wali kelas dulu. Kalau enggak bisa ngerjakan soal matematika di papan tulis, hukumannya lari 10 kali keililing lapangan sekolah, siang-siang lagi. Pernah juga, pak Zainal mukul kepala mang Cep dengan buku paket matematika, uh, yang tebalnya ad mungkin 200-an, Mam!” kenang saya ke Imam. Imam, tak menyangka kalau akhirnya ketawa terkekeh hingga tubuhnya yang ramping itu berguncang hebat. Motor yang kami naiki pun akhirnya terseok-seok dibuatnya. Maksudnya apa, Mam kamu ketawa?

Kami sampai juga di lokasi pekarangan apak. Kalau dari rumah, kira-kira 1000 meter lah. Atau letaknya di jalur WU. Entah apa singkatan WU itu. Kalau di jalur rumah saya, namanya KRS. Baik WU maupun KRS, nama itu berasal dari para pemborong pembangunan rumah transmigran waktu itu. Kira-kira tahun 1983-an.

Pisang sudah saya eksekusi dalam karung. Ternyata, pisang itu sudah ada yang masak di pohon. Kalau enggak salah ada 3 yang sudah menguning. Satu dilahap Imam, sedangkan yang dua lagi, sudah tak utuh. Kroak. Sisa tupai barangkali. Setengah jam kira-kira di lokasi itu. Akhirnya kami kembali ke rumah. Alhamdulillah selamat. Alhamdulillah kuyup keringat. Dan Alhamdulillah laparrrrrr.

Beberapa menit, kala saya lagi nyantai di dapur menghadap tungku, Ari datang. Ari masuk ke rumah, tak lama udah keluar lagi tanpa baju, tapi masih pake celana. Ya celana sekolah itu, yang biru itu. Yang di dengkulnya sobek itu, yang Ari juga sebenarnya betah dengan celana itu. Yah, pokoknya yang itu, deh!

“Kawan Ari tadi pas ngisi soal bahasa Inggris dikasih tahu jawabannya sama guru. Lemak nian! tapi yang dikasih tahu itu bukan yang di kelas Ari, tapi kelas Feri, kawan Ari. Feri aja tujuh soal yang dikasih tahu sama guru pengawas. Kalau Regi, dikasih dua jawabannya. Yang banyak jawabannya dikasih tahu itu anak yang bodoh. Kalau yang anak yang pintar dapat dua jawaban!” papar Ari tanpa sedikit pun saya minta bercerita soal itu.

“Masa Ari enggak dapat, sih? Ngicu nian Ari nih!” kata saya mencoba memberi tanggapan atas pernyataan Ari, yang menurut saya dinilai jujur lah.

“Nian dak dapek, mang Cep! La dibilang, yang dikasih tahu jawaban itu bukan di kelas Ari, tapi kelas yang lain! Sebelum Ari tadi keluar ruangan, bapak  pengawas Ari bilang, ‘katanya bapak minta maaf ya enggak bisa bantu kalian. Bapak bukan guru bahasa Inggris. Kalau guru bahasa Inggris, kalian pasti bapak bantu jawabannya,” begitu kata pengawas Ari, yang diceritakan ulang oleh ponakan saya itu.

Siang begitu terik saat kumandang adzan dhuhur terdengar dari masjid Nurul Huda, pasar Kamis. Mau mandi ke sumur, uhhh..betapa panasnya. Pantas aja, kolam di sebelah sumur tampak kering, hanya saja tanahnya belum belah-belah. Terpaksa saya berlari ke sumur. Byurrrrrr. Air sumur satu ember saya taburkan ke seluruh lekuk tubuh. Segarrr. Matahari tampak semakin genit. Segenit kumbang malam di bibir seksi pantai panjang Bengkulu.

Sayur melinjo menjadi teman akrab makan siang. Sambal buatan emak juga masih ada. Apak, kalau dua hari lalu makannya hanya bergaram saja. Tapi siang ini, apak bisa mencicipi kuah sayur melinjo. Itu pun hanya sedikit. Memang, sejak apak sakit kena duri pohon salak, nafsu makan apak berkurang. Makan nasi pun, sebenarnya hanya dipaksakan. Sabar dulu ya pak. Tunggu sampai pulih.

Pukul 14.00-16.35. Rentang waktu itu saya terbujur kaku di kamar emak. Mimpi saya begitu banyak. Kalau disuruh cerita mengenai mimpi, saya tak mampu. Tepatnya, bukan enggak mampu, tapi memang tak pernah ingat kalau harus menceritakan detail apa yang pernah saya alami ketika mimpi. Dalam mimpi itu penuh imaji, penuh oleh ketidakmasukakalan.

Bosan dengan teman nasi yang itu-itu saja, maka saya, sore jelang magrib itu langsung mengambil nangka muda, gori kalau dalam bahasa jawanya untuk disayur. Saya kupas di pancuran. Dipotong kecil-kecil di dapur lalu direbus supaya lembut di tungku. Saya belah dua buah kelapa yang sudah renta. Dicungkil. Lalu saya parut, dicampur 2 cangkir air bening, saya remas-remas, saya peras saripatinya, keluar, lalu ditampung di kuali. Cara tradisional yang saya pake. Jari dan lengan saya makin berotot saja kalau tiap hari begitu.

Bumbunya apa, ya? Satu siung kunyit, dua siung bawang merah, dua siung bawang putih, satu siung jahe, kemiri satu sendok, cabe keriting 5 batang, garam secukupnya, laos seadanya, dan nanti kalau nangka muda bergumul dengan air santan di atas tungku barulah ditambah daun serai serta daun salam.

Nangka yang direbus, pas saya coba sudah tampak lembut, maka saya angkat. Kini giliran kuali-yang tadi tergenang air santan saya letakkan di atas tungku yang bara apinya, wowww…merah menyala. Apalagi, sumbu-sumbu di bawahnya disesaki kayu-kayu kering pekarangan rumah. Makanya, belum sampai sejam saya di depan tungku, peluh, tanpa terasa menjalar dari ujung kepala hingga batas pinggang. Selanjutnya, bumbu saya masukkan, saya kucek-kucek, warna santan mulai berubah kekuning-kuningan. Dan, bruss, potongan nangka kecil-kecil saya tumpahkan ke gelombang kuali berisi campuran santan dan bumbu. Hmmm. Maknyos!! Masakan ala chef Hasan!

“Cep, magrib! Nanti diteruskan lagi!” suara apak dari rumah menyelusup ke gendang telinga.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s