Jengkol, Emak, dan Aktivitas Ari

Hari kedua di rumah emak-apak, 22 April 2013

Saya bangun kesiangan hari ini. Pukul 05.30 saya baru meninggalkan kasur dan menelantarkan dua buah bantal. Begitulah kalau saya sudah pulang kampung, terlalu dininabobokan oleh dinginnya udara. Jadinya agak sungkan bangun bareng emak dan apak. Kalau apak, pukul 04.00 atau sebelum adzan subuh dikumandangkan, ia sudah bangun. “Cep, Mam, Ri, hudang! Geus beurang. Bisi teu kabagian subuh geura (Cep, Mam, Ri, bangun! Sudah siang. Takut tak kebagian subuh),” omelan apak yang sayup-sayup saya dengar. Ocehan itu saya dengar setengah jam lalu.

Kira-kira pukul 05.50, salat subuh selesai ditunaikan. Dari celah-celah pentilasi, suasana tampak tak lagi gelap. Terang benderang. Ayam-ayam, saya dengar lagi asyik mengobrol di luar rumah. Barangkali mereka tengah membicarakan rencana petualangannya hari ini. “Hai, kira-kira kemana kita hari ini cari makan, Bro? kalau bisa, kita ke sawah yang kering yuk, siapa tahu masih ada ikan-ikan kecil yang tersesat di sudut-sudut sawah. Lumayan, mumpung belum habis dimangsa burung,” ujar si jago sambil berkokok gembira. Tampaknya, semua ayam setuju dengan pendapat si jago yang sebulan lalu dibeli di pasar Kamis itu.

Saya lihat, di pagi yang segar dan cerah itu emak sudah turun dari rumah menuju ke dapur. Menghidupkan  api di hawu (tungku)  gunakan kayu bakar dan daun kelapa yang kering. Biasa, emak masak nasi dan air buat sarapan pagi. Apalagi, pagi-pagi Ari mau sekolah yang kebetulan hari ini juga, ponakan saya itu menjadi peserta  ujian nasional. “Hari ini pelajaran bahasa Indonesia, Mang! Doakan saja,” tukas Ari saat menyetrika bajunya.

Jarum jam menunjuk ke angka 7 ketika Ari sudah rapi dengan pakaian sekolahnya. Saya lihat, ponakan saya yang satu ini tingkahnya tak lagi nyantai. Serasa ada yang memanggil-manggilnya. “Ri, cepatlah datang ke sekolah!” begitu panggilan itu. “Kek, Ari mau berangkat dulu ya, mau ujian,” kata Ari di ruang tengah sambil bersalaman dengan apak. Ari langsung meluncur ke depan pintu, duduk, lalu masang kaos kaki. “Ri, ke sini dulu bentar,” Ari balik lagi ke sumber suara, kakeknya, “nih, minum dulu air di cangkir ini biar bisa jawab soal ujian dan tambah pintar!” ucap apak ke cucunya itu. Diteguknya air bening itu. Habis!

“Awas Ri, kalau ada yang ketinggalan . Kartu ujiannya jangan lupa,” tambah apak mengingatkan. Ari kelihatan mengangguk-angguk saja. Saya tak tahu, anggukan apa maksud ponakan saya itu. Saat itu, saya hanya coba memerhatikan polah anak manusia itu. Dan..,”Mang Ncep, Nek, Kek, Ari berangkat dulu.”

Sinar mentari mulai menghangatkan pekarangan rumah. Badriyah, tetangga saya dengan membawa gerobak sorong lewat di samping rumah hendak ke kebun milik pak haji sanusi, mau nyadap karet. Kebun karet milik haji yang berasal dari Singaparna, Tasikmalaya itu memang luas. Saking luasnya dia punya kebun saya hampir tak pernah menghitungnya. Makanya, sebagian saudara istrinya juga  tetangganya ikut  bantu mengambil hasil kebun haji sanusi, lalu hasilnya barulah dibagi, juga entah, berapa-berapanya.

Cep, mun bade nyeuseuh, sakanteunan nu apak  pangnyeuseuhkeun. Apak can kuat uncag-incigna, jaba kudu ka sumur mah (Cep, kalau mau nyuci, sekalian punya apak cucikan. Apak belum kuat kalau harus ke sana kemari, apalagi ke sumur),” ungkap apak tiba-tiba saat saya menyeruput air susu di gelas. “Ya, mana baju-bajunya. Kumpulkeun we di didieu, ke ku Cep cuci (Kumpulkan saja di sini nanti Cep cuci),” jawab saya, sambil, sebenarnya ada rasa kasihan ke apak, karena sampai tulisan ini dibuat, kaki yang terkena tusukan duri pohon salak hampr 2 bulan itu  masih saja menyisakan bengkak.

“Pak…pak…maafkan anakmu ini, belum bisa bantu apa-apa kecuali doa semoga apak dikuatkan lagi,” gumam saya.

Saya datangi emak yang lagi di dapur sedang ngasurkeun suluh (memasukkan kayu ke tungku). Kalau masak di hawu (tungku), memang nyaman mak. Senyaman hati saya tatkala bertemu emak dan apak di rumah ini. Kerinduan itu selalu saya simpan. Dan kala sampai di gubuk ini, membuncah semuanya. “Mak, ada baju emak yang kotor, enggak? Cep mau nyuci. Kalau ada, Cep tunggu.”

Teu aya cep (enggak ada Cep),” kata emak singkat. Saya pun langsung ngeloyor ke sumur, sementara di kedua tangan saya memangku ember yang berisi cucian. Cucian saya rendam sekitar setengah jam. Waktu setengah jam itu saya gunakan untuk cari kayu bakar di pekarangan belakang rumah. Lumayan dapat banyak, cukup untuk masak sekitar 3-4 hari ke depan. Saya taruh di dapur kayu bakar itu, di samping tungku yang terbuat dari tanah liat bercampur sabut kelapa.

Saya kembali ke sumur lagi. Cucian saya bilas. Keringat di sekujur tubuh pun tumpah lalu tertampung  pada kain yang melilit tubuh. Huh, pegalnya. Panasnya. Sekira 20 menitan, baju dan celana apak, juga CAD (celana agak dalam) saya  sudah saya bilas plus peras. Sekering-keringnya dan sesingkat-singkatnya. Enggak tahan,  sengatan senter langit begitu bernafsu memangsa tubuh buatan Tuhan ini. Ya, Tuhan, inikah yang dinamakan asapnya neraka itu?

Pas saya mau jemur pakaian, saya lihat di samping rumah  seseorang pake kaos merah sedang ngobrol sama emak dan apak. Gendang teling saya diam-diam saya  aktifkan demi mengetahui apa saja yang dipercakapkan mereka bertiga. Di antara mereka, saya dengar banyak menyebut kata jengkol, jengkol, dan jengkol. Ada apa dengan jengkol yang tak punya salah itu? Mengapa sampai diperdebatkan? Naik kah harga jengkol kayak BP (bawang putih) atau BM (bawang merah)?

Mak, aya naon, sih tadi? Saha nu lalaki tadi (Mak, ada apa, sih tadi? Siapa lelaki tadi)?” Saya tanya begitu setelah tahu seseorang berbaju merah itu lenyap di hadapan.  “Ah, eta orang pasar nu rek meuli jengkol cenah. Manehna rek balik heula, nyokot duitna. Jengkol nu urang rek diborong, rek diala ku sorangan cenah. Saratus tujuh lima diborongna, cep (Ah, itu orang pasar yang mau beli jengkol. Dia mau pulang dulu, mau ngambil duitnya. Jengkol yang diborong mau diambil sendiri. Dia borong seratus tujuh lima, Cep),” tutur emak akhirnya. Dan, terbongkar juga lika-liku jengkol yang samar-samar saya dengar sebelumnya. Pada akhirnya, emak apak raut mukanya tak tegang lagi, karena tak berapa lama lagi akan didatangi tamu istimewa: DUIT JENGKOL!

Tak berapa lama. Suara mesin motor menderu menuju rumah. Saya intip dari baik tirai jendela. Lelaki. Pake baju putih, rambut keriting, dan bercelana levis. Saya lupa, sia dia. “Assalamualaikum,” kata orang itu. Oh, dari suaranya, saya baru kenal siapa sebenarnya orang itu. Namanya Mukmin, anak pak Arifin, kakakny lek Giat-yang dua hari lalu anaknya keguguran dan meninggal dunia di rumah sakit Argamakmur. Kebetulan pula, anak yang baru berumur 8 bulan itu ditanamnya di kebun apak, yang jaraknya sekitar 150 meter dari rumah.

“Eh, waalaikumsalam, Min. Silakan masuk,” kata apak menyambut Mukmin sambil bersalaman. Di ruang tengah, saya sambil sarapan pagi. “Eh, Mas, masuk mas. Ayo makan, mas sama mujair, nih,” saya coba ramah. Ramah? Emang ramah , ya? “Ya..ya..silakan. Tadi udah di rumah,” balas mas Mukmin tersenyum.

“Anu pak…saya ke sini ini mau ngembalikan sisa kain kapan bekas kemarin bungkus almarhum (anak lek giat yang keguguran). Jadi, tolong itung  sama bapak, berapa saya harus mengganti kain kapan itu. Maaf juga, saya baru bisa hari ini ke bapak. Maklum lah pak, di rumah ada kesibukan,” tutur mukmin dengan logat jawanya yang kental kayak madu asli. Saya masih makan waktu itu. Imam menyuguhkan air bening satu gelas buat Mukmin. Karena agak-agak ada obrolan privasi, saya langsung ke luar menuju dapur.

Sebelum meninggalkan ruang tengah itu, saya sempat mendengar sekilas jawaban apak. Senyum apak terpancar kala itu. “Udahlah, Min. Bapak itu sama sekali enggak minta bayaran dengan kain kapan yang dipake buat almarhum kemarin. Bapak ikhlas. Bapak niatnya memang menginfakkan saja itu. Jadi, enggak usah jadi pikiran Mukmin, keluarga Mukmin, terutama keluarga Giat. Bener, Min, bapak ikhlas itu,” ucap apak yang sempat tak sengaja saya rekam. Tahu-tahu, entah mengapa, kata Imam, Mukmin malah ngasih duit ke apak 50 ribu. Mungkin uang terimakasih. ” Duitnya ditarok di atas leptop Imam, padahal imam lagi nge- game,” cerita imam.

Jelang dhuhur, Ari pulang. “Ai, payah nian, kirain datang pagi-pagi tadi mau dikasih jawaban UN sama guru. Eh, tahunya malah kami dikumpulkan di lapangan periksa rambut. Rambut Ari aja kena nih, diptong sama guru, padahal mau Ari panjangin rambut Ari. Huh,payah!” gerutu Ari sambil melemparkan tas hitamnya ke kamar

“Jangan bohong Ri! Bener tadi sebelum ujian enggak dikasih dulu kunci jawaban sama guru? Masa enggak dikasih! Udahlah Ri, ngaku aja, enggak usah rahasia-rahasian gitu. Nyantai aja sama mamang ni!” kata saya mencoba memancig Ari supaya mau cerita yang sebenarnya. Karena siapa tahu, ponakan saya itu bersandiwara. Biasanya sih begitu.

“Sumpah demi Allah-Rasulullah, mana ada kami dikasih jawaban, woy! Wong soalnya aja 20 paket, susah nak ngasi bocoran jawaban!” lontar Ari, tapi masih tampak gurat-gurat ketawanya.

Saya tanya ke Ari begitu karena setahun lalu, kakaknya  Ari, Imam-saat UN Imam dikasih kunci jawaban dari sang guru sesaat sebelum masuk ruang ujian. Makanya, Imam tampak nyantai saja menjelang UN, tak tampak stress atau pucat! “Dulu, imam pagi-pagi nian berangkat ke sekolah biar dapat bocoran. Semua teman Imam dapat semua bocoran itu,” aku Imam setahun lalu.

Beduk marib datang. Ayam-ayam masih saja belum masuk ke kandangnya. Begitu pula dengan motor saya belum juga naik ke rumah. Nyamuk-nyamuk kebun mulai memasang taringnya, satu satu mereka masuk rumah mengitari ruang tengah , lalu bergelayutan di kain-kain yang bergantung di kamar, dan terbang lagi mencari penghuni rumah guna mendapatkan setetes darah segar. “Nyamuk banyak nian, nih!” protes Imam, yang tampaknya mulai digagahi nyamuk, yang mungkin-nyamuk itu nyamuk cewek pada daun telinganya.

Malam semakin pekat. Kami semua istirahat. Namun, kodok dan jangkrik masih saja ngerumpi. “Air kolam dan sawah ini sudah kering. Mau pindah kemana lagi kita dari sini, cari kolam yang banyak airnya yang kira-kira buat kita bersantai lebih dingin,” celetuk kodok hijau pada teman-teman yang lain. “Rumah kita terasa panas akhir-akhir ini, berdoalah anak-anakku supaya Tuhan segera memasag AC kembali di bumi,” kata jangkrik di samping rumah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s