Kolam Kering dan Uwa Ratma Sakit

Hari pertama di rumah emak-apak, 21 April 2013.

Angin kebun karet yang ada di samping rumah menyambut kedatangan kami. Andai tak ada lagi barisan pepohonan di samping kiri, kanan, dan depan rumah, uhh…mungkin terasa hareudang (panas). Tapi untungnya, meski matahari memanggang rumah dan segala macam yang ada di kampung kami, suasana segar lah yang terasa. Sesegar hembusan kulkas kala dibuka. Belum lagi, beberapa ekor ayam mungil milik emak-apak ikut pula bersorak-sorai. “Wah, Cecep dan Imam datang lagi, tuh dari kota. Tambah rame aja nih rumah majikanku. Moga aja tak bawa petaka!” gumam si jago merah sambil berlari kecil mendatangi kekasih gelapnya.

“Assalamualaikum..” ucap saya sambil mendongakkan kepala ke pintu belakang rumah. Saya lihat, apak sedang duduk di singgasananya. Entah sedang baca apa. Tapi saya perhatikan, koran lama yang dipegangnya. “Waalaikumsalamwarahmatullah. Na jam sabaraha ti  Bengkulu (pukul berapa dari Bengkulu) ?” sumringah, apak menjawab juga sekaligus bertanya. “Tadi jam 07.00, Pak! Kamana emak, (Ke mana emak) ?”

Duka, tadi teh ka cai  (enggak tahu, kalau tadi ke air).”

Saya lihat di tengah rumah hanya ada apak. Pas saya sisir ke kamar, eh, Ari sedang khusuk di depan leptopnya. Sudah saya duga, pasti ponakan saya itu ber-game ria. “Huy, main game terus kau Ri. Pasti dari bangun pagi tadi, ya? Kirain lagi pelajari soal UN buat besok, eh malah nge-game. Bagus..bagus…mantap..mantap..i like that, Ri!” ucap saya sambil mencuil pinggangnya. “Eh, emak kemana, ya?” pikir saya.

Tak lama, saya keluar rumah. Dan…emak, tiba-tiba sudah berdiri di depan pintu dapur. Di tangan kanannya, ember hitam. Saya mendekat, sambil mencium tangan kanan emak yang tampak keriput itu. ”Damang, Mak? Ti mana  tadi (sehat, Mak? Dari mana tadi) ?”

Eh, damang. Na sareng saha kadieu? Ah, eta we nyuci piring di sumur (Damang. Sama siapa ke sini? Ah, barusan nyuci piring di sumur)?”

“Biasa, Imam, Mak.”

Kolam Kering

Hujan tak kunjung tiba, kolam apak pun kering. Kolam sebelahnya menyisakan air sedikit. (Hasan' foto)

Ini foto lama yang sempat diabadikan. Sekarang, kolam yang penuh air itu tinggal semata kaki. (Hasan’ foto)

Saya diam sejenak. Barusan emak bilang nyuci piring di sumur. Sumur? Kok di sumur, bukan di tempat biasa, pancuran? Memangnya pancuran enggak lagi ngocor (mengalir) ? Kalo nyuci piring saja di sumur, itu agak jauh dari rumah. 50 meteran lah. O, mungkin emak hanya bercanda. Bercanda? Pernahkah emak bercanda di siang bolong begini? Lalu, kenapa harus ke sumur?

Uh, Cep. Pancuran udah lama enggak dipake. Lama enggak hujan. Tuh, lihat, kolam kering, kulah (kolam kecil penampung air) apalagi. Makanya, emak kalau nyuci piring, mandi, dan nyuci pakaian ke sumur.”

O, jadi itu masalahnya. “Lama enggak hujan, Mak?”

Wah, bulan-bulan siganamah (Wah, sepertinya sudah beberapa bulan).”

“Iya, berapa bulan, Mak?” lanjut saya ingin tahu pastinya.

“Aya dua bulan lebih mah (Ada dua bulan lebih lah) !”

“Belum ada apa-apa, Cep. Sangu ge can asak (Nasi saja belum masak),” tambah emak.

Saya masuk ke rumah lagi. Ganti baju dan istirahat. Tidurrrrrrr. Sementara, emak mungkin lanjut masak, apak tetap duduk di tempatnya, Ari masih nge- game, tampaknya tambah asyik karena dibimbing sang game master, Imam Kurniawan yang tak lain adalah kakak kandungnya sendiri.

Adzan asar bersahutan dari tiap sudut mesjid yang ada di desa saya. Matahari tampak dicegat pekat awan. Mantap, tak lagi panas. Saya langsung melompat ke luar rumah. “Ah, mau cari ikan!” Sebelum saya tidur tadi siang, apak bilang kalau mau ikan ambil aja di kolam dekat sumur yang sekarang kering. Kering karena tak ada hujan. Sebagian ikan  meninggal di tempat. Sebagian lagi, dirampok burung cucak rowo, ayam apak, dan kadang biawak.

Ieu (ini) embernya dua. Yang satu buat induknya, yang satu buat anak-anaknya. Jangan dikubek (dikeruhkan airnya), ambil aja dari pinggirnya,” begitu pesan apak.

Sembilan puluh persen, kolam itu memang kering. Tapi sebagiannya, tepatnya di sebagian sudutnya masih ada sisa genangan air. Di sanalah penduduk ikan masih bisa bernapas. Terlambat saja diambil, mereka mati. “Bisi kaburu paeh, sok ambil (Supaya enggak cepat mati, ambil saja)!” tegas apak.

Saya pun langsung meluncur ke kolam yang ditunjuk apak. Saya bertengkar dengan lumpur. Lumpur Putri Hijau, bukan Lapindo Brantas! Ari ikut membantu mencari ikan. Imam, sibuk dengan hapenya. Sibuk motret sana motret sini. “Ikan gabusnya pegang Ri, biar Imam foto. Mau langsung di uplod di facebook!” Spontan, Ari pun langsung meraih ikan gabus dari ember. Yup, jadilah Ari berpose bersama gabus dan mujair. Cekrekk. “Udah Ri, aku unggah ke facebook,” ucap Imam. Saya dengar percakapan mereka, tapi saya tak mau minta difoto karena tubuh mungil saya penuh lumpur! Malu, dunk!

Ari menunjukkan hasil buruannya di kolam kering kemarin (21/4). (Hasan's foto)

Ari menunjukkan hasil buruannya di kolam kering kemarin (21/4). (Hasan’s foto)

Ari..Ari, kasian, dunk Gabusnya! (Hasan's foto)

Ari..Ari, kasian, dunk Gabusnya! (Hasan’s foto)

Berburu ikan pun usai. Cukup. Hari mulai gelap. Belum lagi nanti harus membersihkan ikan. “Ayo pulang, Mam. Tolong bawa ember yang ini. Biar yang ember hijau mang Cep yang bawa,” ajak saya.

Selepas magrib, nasi dan lauk sudah dihidangkan di ruang tengah. Emak, apak, Ari, Imam, dan saya lalu makan malam. Tentu, ditemani ikan-ikan yang gurih hasil tangkapan tadi sore. Ada yang disop ada pula digoreng. Wahhh, juga ditemani sambal terasi buatan emak. “Enak, kan kalau mang Cep yang goreng ikannya!” spontan saya bersuara. Yang lain hanya senyum saja. Makasih, ya atas senyumnya.

Sepiring ikan yang digoreng ludes! Kenyang. Alhamdulillah, ya Tuhan. Kalau sudah begitu, spontan gerbang bola mata sudah mulai mengatup-ngatup. Saya mencoba

. Ya Tuhan, jangan kau ngantukkan saya ini. Mungkinkah saya kekenyangan? Ah, tentu tidak! Wong makannya  aja sedikit. Cuma nambahnya entah berapa kali, enggak terhitung! TERLALU!!!

Uwa Ratma Sakit

“Cep, uwa Ratma saurna udur. Teu tiasa barangdahar dei. Tos alim cenah. Biasana mah masih sok ngaemam bubur jeung obat. Tapi kamari, pas apak nelepon Anin, uwa Ratma tos parah. Apak rek ngintun artos ka Tasik, tapi kumaha tuda, can aya artosna. Mun aya sajuta weh, apak rek ka Tasik. Jaba badan apak ge teu normal keneh ieu teh (Cep, uwa Ratma katanya sakit. Sudah enggak bisa makan. Sudah enggak mau lagi. Biasanya masih mau makan bubur dan obat. Tapi kemarin, saat apak menelepon Anin, uwa Ratma sudah parah. Apak mau kirim uang ke Tasik, tapi belum ada uangnya. Kalau ada satu juta, apak ingin ke Tasik. Apalagi, kondisi badan apak tak normal sekarang),” kantuk saya hilang tatkala apak bilang begitu.

Ua Ratma itu kakaknya  apak yang berada di Kupanunggal, Tasikmalaya. Umurnya sekarang, kata apak udah genap 83 tahun atau selisih 4 tahun sama apak. Anak uwa Ratma itu banyak, ada 11 orang dari sekitar 5 istrinya. Anin adalah anak perempuannya dari istri uwa yang terakhir. Rumahnya aja besar. Dulu, selagi kuliah saya sering ke rumahnya. Pas saya hitung ada 9 kamar. Rumahnya itu, letaknya berada di kaki gunung Galunggung, gunung yang pernah meletus antara 1982-1983. “Pas galunggung meletus, gelap Cep siga (seperti) malam,” ujar apak suatu hari.

“Pak, uwa Ratma teh sakit apa gitu?” sambung saya sambil melirik ke emak.

Rupa-rupa we etamah (Bermacam-macam). Sakit kepala, biri-biri, sakit perut, darah tinggi. Ah, pokonamah sagala rupa (pokoknya bermacam-macam). Da ceuk Anin kitu. Karunya. Kudunamah apak teh kaditu (Kata Anin begitu. Kasihan. Seharusnya apak ke sana),” tutur apak lagi.

Da biasana mah (Biasanya juga) dari dulu uwa Ratma mah tara gering (uwa Ratma enggak pernah sakit). Jaba dei tiap hari uwa ratma mah puasa terus (Apalagi, uwa Ratma puasa tiap hari). Tapi meureun da tos saatnya kudu kitu (Tapi mungkin sudah saatnya harus begitu),” kenang emak.

Ya. Saya pernah dapat cerita baik dari emak maupun apak kalau uwa Ratma itu enggak pernah berhenti puasa. Dan itu dilakukan sejak ia bujang sampai menikah, hingga kini udah punya belasan cucu. Pokoknya tiap hari shaum. Kata apak, uwa Ratma melakukan olah spiritual itu sejak berguru ke seorang ustad, dulu, pas dagang di Jakarta. “Apak juga dulu pernah diajaknya, tapi apak menolak. Karena sepengetahuan apak, tak ada ajaran untuk puasa sepanjang masa,” terang apak.

Bahkan, kata emak, sebelum memutuskan untuk transmigrasi ke Bengkulu, emak pernah menyaksikan sedikit juga tambahan cerita dari saudara emak tentang kehebatan ilmu yang dimiliki uwa Ratma. “Uwa Ratma mah bisa jalan di atas air. Emak juga enggak tahu kenapa uwa Ratma begitu. Pantas saja kalau puasanya tiap hari, otomatis kan dekat sama Tuhan. Apapun yang diinginkan bahkan di luar logika bakal terjadi. Uwa Ratma..uwa Ratma,” kata emak, lirih, apalagi saat menyebut nama uwa Ratma.

“Pak, kalau ada orang sakit, terus sudah enggak bisa ngapa-ngapain, apalagi enggak bisa makan, naon artina (apa artinya), Pak?” tanya saya ke apak.

“Makanya, pas apak dengar Anin cerita kalau uwa Ratma sudah enggak mau lagi makan, apak sudah prediksi, uwa Ratma udah enggak ada harapan lagi. Sudah parah kalau si sakit sudah enggak mau lagi makan, Cep!” lontar apak, yang sebenarnya bikin saya deg-degan, “maunya apak juga ke Tasik. Tapi, apak juga badannya gak terlalu sehat, Cep.”

“Doakan aja, Cep. Mudah-mudahan uwa Ratma sehat. Juga doakan apak dipaparin (diberi) sehat dan rezeki.”

Uwa Ratma…uwa Ratma..sabar ya. Kami keluarga di Bengkulu hanya bisa memohon supaya Tuhan berkenan member kebugaran dan umur panjang serta bisa ke sawah lagi, panen padi lagi. “Padahal, di sawah pare geus karoneng tinggal ngalaan (padi sudah menguning tinggal dipanen),” ucap apak, seperti dituturkan Anin lewat hape.

Ini kala uwa Ratma masih sehat dua tahun lalu di rumahnya, Kupanunggal, Tasikmalaya. Cepat sembuh, ya uwa. (Hasan's foto)

Ini kala uwa Ratma masih sehat dua tahun lalu di rumahnya, Kupanunggal, Tasikmalaya. Cepat sembuh, ya uwa. (Hasan’s foto)

Iklan

3 thoughts on “Kolam Kering dan Uwa Ratma Sakit

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s