Demi UN, Ari Tahajud

Aku baru ingat kalau Senin (22/4) besok Ari Kurniawan, keponakanku  akan mengikuti ujian nasional (UN). Jauh-jauh hari-Boto, panggilan sehari-hari Ari pernah mengungkapkan niatnya ingin salat tahajud   jelang dan saat UN berlangsung. Makanya, siang ini saya coba kirim pesan pendek ke Ari. “Ri, siap besok (22/4) bertempur dengan tentara soal-soal UN?” Pesanku tak langsung dijawabnya. Mungkin Ari lagi kelayapan, entah kemana. Atau, pulsa masalah utamanya. Lagi-lagi entah!

“Siap!” akhirnya dibalas juga smsku. “Mang, kapan nak ke Sebelat? Jangan lupa, isikan pulsa ke nomor Ari jugo.”

“Mantapla tu. Kato nak tahajud, jadi? Pulsa insyaallah nanti dikirim, tenang aja.”

“Jadi, dunk! Besok mulai tahajud, Mang! Awas kalau pulsa enggak dikirim, ya,” ancam ponakanku akhirnya.

Begitulah ponakanku yang satu ini. Pas aku pulang ke Sebelat sebulan lalu, tak tampak kegelisahan di benak Ari, bahwa sebentar lagi UN akan digelar. Ia begitu menikmati hari-harinya penuh riang, tanpa beban, bahkan, aku tak pernah lihat ia belajar soal-soal UN yang  dibeli ibunya. Ponakanku, aku lihat malah asyik main game yang ada di leptopnya. “Nyantai bae, Mang! Ngapoi dipikirkan nian UN tu. Jalani aja kelak,” begitu jawaban Ari tiap kutanya kesiapannya bertempur dengan soal-soal yang bikin kening berkerut itu.

Sikap nyantainya Ari, nyaris sama seperti diriku. Kalau kau tahu, bahwa aku tak pernah memikirkan apa yang bakal terjadi esok pagi. Aku hanya menjalani garis hidup yang dikaruniakan Tuhan. Tak pernah protes dengan keadaan apapun. Kalau ada koruptor yang menilep  diut rakyat hingga ratusan triliun, apakah aku menerima keadaan itu? Yup, aku tidak bisa bicara, tapi mangkel di hati lalu kalau ada sempat paling-paling ditorehkan di blog. Aku sadar, dunia ini tak seindah yang aku harapkan. Melakukan korupsi dan tidak melakukan korupsi, itu sudah bagian dari skenario alam, yang mau tak mau harus diterima. Begitulah, dunia memang penuh intrik! Penuh lelucon, penuh kebrengsekan!

Begitu juga Ari, ponakanku yang lahir Oktober itu, tampaknya memandang segala sesuatu dengan pikiran sederhana. Contohnya, sikapnya menghadapi UN tahun ini. Nyantai sekali, tak banyak beban. Meski begitu, Ari pun punya usaha lain menjelang UN ini, selain les dan membaca-baca soal yang dibeli ibunya. “Pokoknya, Ari nanti mau salat tahajud! Biar nanti minta dibangunin kakek.”

Ari nyantai, tapi keluarga yang lain, agak sedikit khawatir jika ponakan saya itu kurang tepat dalam menjawab soal-soal UN nanti. Utamanya, kakeknya adalah orang yang paling khawatir soal itu. Apa sebabnya?  Kakeknya, yang juga bapakku itu paling tahu apa saja kegiatan Ari sehari-hari sepulang sekolah. “Sejak ibunya ngirim leptop, bangun pagi, langsung Ari membuka leptop. Entah apa yang ia mainkan. Udah tahu sebentar lagi mau ujian nasional, bukannya belajar malah main leptop,” gerutu bapakku suatu hari.

Kakek, bukannya tidak menyuruh cucunya itu  untuk membaca soal-soal UN. Hampir sesudah magrib, selalu kakek ngoceh. “Ri, ngaji dulu. Sebentar aja, tiap malam selembar jadilah. Udah itu baca buku, baca-baca lagi contoh soal buat UN. Kalau mau sukses kan harus ada usaha atuh, Ri. UN cuma beberapa minggu lagi, tuh!” ucap kakek, pas aku ke Sebelat beberapa minggu lalu. Mendengar khutbah singkat itu, Ari hanya melontarkan,”Iya..iya..”

Salat tahajud, bagi Ari adalah sesuatu yang langka. Meski begitu, Ari kerap sesekali memergoki kakek sedang salat di seperti malam. Hanya mengintip saja dari balik bantal, belum terlalu sadar nian, udah itu kembali terlelap melanjutkan mimpinya yang sempat terpotong. Dulu, aku pun pernah mengalami hal yang sama. Seminggu jelang UN, aku sengaja salat tahajud tiap malam. Itu semua demi UN, demi lulus UN, bukan supaya dapat nilai bagus! ‘Tuhan akan kabulkan permintaan hambanya, terutama di sepertiga malam’. Begitu seorang teman yang alim memberikan petuah.

Tahajud seperti senjata pembantu bagi Ari. Aku pun tidak pernah menanyakan ke ponakanku itu, kenapa ia begitu ngebet ingin tahajud jelang dan hari-hari saat UN berlangsung. Entah tahu darimana Ari, sampai mau-maunya tahajud di sepertiga malam yang mengerikan itu, malam saat orang-orang ngorok plus ngiler itu, saat maling mengendap-endap kandang ayam orang, dan saat kodok-kodok dipinggir kolam berhenti bernyanyi. Entah!

Selamat berjuang ajah deh, Ri Senin besok! Taklukkan musuhmu terlebih dulu, yang kira-kira tampak kelelahan! Barulah lawan bosnya! Hancurkan!

https://elfarizi.wordpress.com

Itu Ari, ponakanku. Ayo, tendang soal-soal UN-nya! (https://elfarizi.wordpress.com)

2 thoughts on “Demi UN, Ari Tahajud

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s