Alangkah…Alangkah

Kupasrahkan semuanya pada langit. Pada masyarakat langit. Tuhan, yang kuasai hatiku adalah kau. Yang memonitor hatiku adalah mata-Mu. Mata-Mu yang paling jeli di antara yang jeli. Tolong Tuhan, sisir rumah hatiku. Deteksilah hatiku, adakah kerikil dusta di sela-sela dindingnya? Tertempelkah lukisan kebencian pada dindingnya? Ada jugakah patok kemunafikan di halamannya? Atau, terdapatkah kursi-kursi kesombongan di ruang tengah atau sudut-sudutnya? Tuhan, jangan lupa, lirik sejenak di kamar-kamar juga dapurnya, berserakan kah pasir-pasir kealpaan? Sekali lagi, renovasikan luar, isi, dan keseluruhan hatiku, Tuhan. Tak segera direnovasi, ambrukla  ia.

Kurelakan semuanya pada alam. Pepohonan, bisakah kau mengerti aku yang tak punya air lagi. Air tak merembes lagi di kolam hatiku yang kerontang. Tak lagi mengalir di lubuk tulang yang mulai senja, yang mulai rapuh. Sementara kau pohon, semua pohon yang mencakar bumi kucurkan keringatmu barang setetes ke punggung hatiku, ke dasar kolam qolbu, aliri pinggir-pinggirnya yang tak lagi ditumbuhi rumput. Pohon, jangan dulu kau bungkuk sebelum kau wariskan cucu-cucu air beningmu padaku. Tanpa kecupanmu, entahlah, masihkah ikan-ikan akan bermesraan di kolam hatiku.

Kutundukkan semuanya pada samudera. Lelautan, tampaknya kau makin heboh. Siang, kau selalu bersin. Malam, kau tampak menggigil dan demam. Kau selalu tak sehat. Sama sepertiku, kolam kepalaku tercemar limbah kata-kata asing. Kata yang berasal dari antah berantah, yang tiba-tiba merasuk begitu saja. Lelautan, adakah kau hubungi dokter? Barangkali saja, di bagian pinggangmu ada tonjolan serupa bisul. Membiru dan sebentar lagi menanah. O, tidak kah kau sadar itu? Lelautan, rambutmu tambah beruban saja. Pertanda akar  kematian tak lama menusuk jantungmu.

Kudendangkan semua doa. Doa buat langit, alam, dan samudera. Langit adalah atap, alam adalah lantai, samudera adalah pondasi yang tetapi selalu ditampar limbah, ditinju sampah, ditendang mayat-mayat, digilas uang. Tuhan, adakah kealpaan ini kau jadikan permanen? Alangkah, alangkah…

02.56

One thought on “Alangkah…Alangkah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s