Menyelami Riski

Teman saya, Riski tiba-tiba saja masuk ke kamar saya. Dan saya lihat, ia membawa sebuah buku bersampul biru. Pas saya tilik, itu buku Filsafat Ilmu-salah satu karangan profesor di negeri ini. Tanpa diminta, ia langsung duduk di lantai, sementara saya duduk di kursi menghadap meja dan di depannya leptop terbuka. Sedang berselancar di rumah facebook. Membuka-buka pesan, membalasnya, sekaligus tak melewatkan menulis status baru, “Ketika kamu merasa kamu tak bahagia dengan hidupmu, ingatlah, bahwa ada seseorang yang bahagia hanya karena kamu ada.”

Entah siapa yang menyuruh, kawan saya itu nyerocos saja menceritakan kekesalan yang ia alami. Saya bingung, fokus mendengarkan cerita kawan tadi, atau meneruskan fesbukan, sementara hati saya agak risih kalau terus menyelami jejaring sosial bentukan Mark Zuckerberg itu. Meneruskan fesbukan, saya takut, dia menyangka saya tidak peduli dengan ceritanya. Saya merasa tidak enak-kalau cuek lah dengan orang lain, sementara dia-kawan saya tadi begitu antusias menyampaikan curhatannya.

“Diam di rumah enggak enak, euy! Saya enggak ngerti dengan jalan pikiran nenek saya. Seperti kemarin, pas sedang nyantai baca novel Dunia Sophie, nenek memarahi saya tiba-tiba. Katanya, ‘ngapain kamu baca buku tebal-tebal gitu. Enggak ada manfaatnya buat kamu. Ngabiskan waktu saja. Buku apa itu?’. Padahal, Mang, novel yang saya baca itu novel bagus!” tutur Riski.

“Barusan saja, pas saya baca buku Filsafat ini, mata nenek saya sudah curiga. Tatapannya seperti tidak senang kalau saya ini baca buku ini. Makanya, daripada tidak tenang, saya lari ke  sini, Mang! Saya tahu, anak-anak nenek saya itu enggak ada yang sukses. Dari dulu dididiknya, kalau mau baca buku itu, ya harus baca buku yang berhubungan dengan kuliah saja, di luar itu enggak boleh. Katanya dibilang enggak bermanfaat!” lanjut Riski masih dengan nada kesal atas sikap neneknya.

Riski, cucu nenek, yang kini sedang kuliah dan tinggal bersama kakek-neneknya di Bengkulu, mengaku risih karena tak diberi kebebasan untuk memilih apa yang ia minati. Lagi-lagi, sikap kakek-neneknya yang dianggap Riski menjadi penghalang untuk berkembang lantaran banyaknya “larangan” yang tidak penting. Setidak-tidaknya, itu menurut Riski. Makanya, Riski mengaku kerap berbohong kepada kakek-neneknya demi melanggengkan keinginannya. Bagi Riski, kejujuran malah membuat petaka bagi dirinya bahkan hanya membuat hatinya terluka.

Kedua orangtua Riski tinggal di Garut. Ibunya jualan daging sapi di pasar kota Garut, sementara ayahnya PNS di Dinas Pemuda dan Olahraga. Dulu, sebelum Riski “dihijrahkan” ke Bengkulu, ia sempat kuliah di salah satu universitas di Garut dan mengenyam beberapa semester. Menurut Riski, karena mamah/ibunya kurang setuju dengan pergaulan Riski di kota Dodol itu, ia diminta berhenti kuliah dan disuruh kuliah di Bandung. Di kota kembang itu, pergaulan Riski semakin tak terkendali. Kuliah terbengkalai, namun Riski, di luar kuliah mengisi waktunya dengan nge-band bersama kelompoknya, bahkan pernah manggung dimana-mana.

Aktivitas Riski menggeluti musik, ternyata tak terlalu disukai ibunya. Beda dengan ayahnya, selalu mendukung apa kemauan Riski selagi membuat Riski enjoy menjalankannya. Entah karena alasan apa, ibu Riski tiba-tiba menyuruhnya keluar dari kuliah dan diminta tinggal di kakek-neneknya yang ada di Sumatera, Bengkulu. “Yang menyuruh kuliah itu mamah dulu. Tapi, pas saya jalanin, mamah pula yang memutuskan saya berhenti kuliah. Benar-benar enggak ngerti. Saya disuruh ke Bengkulu dan tinggal di nenek ini, katanya biar saya jadi orang bener. Buktinya, di sini malah diperlakukan kayak anak kecil!” cerita Riski.

Riski, kemudian melanjutkan ceritanya. “Saya pun dilarang untuk ikut organisasi kampus. Berorganisasi kata kakek hanya membuang-buang waktu dan ganggu aktivitas kuliah saja. Bahkan, katanya tak ada manfaatnya sama sekali. Kakek hanya bilang cukup kuliah saja dan belajar di rumah. Kalau saya dibelikan leptop, saya oke-oke saja, diam aja di rumah. Minimal, kalau ada leptop, saya bisa nulis-nulis. Nulis puisi, misalnya. Tapi ini kan enggak, ikut organisasi enggak boleh, ini- itu juga dilarang,” ungkap Riski lancar.

“Terus, kalau kamu ikutan pentas teater di taman budaya, berarti kakek-nenekmu enggak tahu, dunk?” giliran  saya menyuruh dia menjawab,”terus, sama kakek-nenekmu bilang mau ke mana kalau pas ada acara pentas teater atau sekedar kumpul sama teman komunitas seni?” kejar saya tak sabar, sementara dia belum sempat menjawab pertanyaan pertama saya.

“Ya iya, mereka (kakek-nenek) enggak tahu kalau saya ikut acara pentas teater, baik di kampus maupun di taman budaya. Saya paling bilang,’Nek, Kek, saya mau jenguk teman di rumah sakit, mau pinjem buku ke teman, mau ada tugas kelompok, atau saya mau ada cara pengajian.’ Kalau enggak bilang begitu, mana mungkin saya diizinin keluar rumah. Jadi, pokoknya serba sembunyi-sembunyi, enggak bebas,” kata Riski.

Saya masih  mendengarkan. Tak lupa, sambil pula mengangguk-angguk kepala. Perlahan. “Kok seperti itu, ya,” gumam saya. “Tapi, kalau kau bilang mau jenguk kawan di rumah sakit, kau benar, kau tidak bohong sama kakekmu. Memang bener, kan di rumah sakit ada kawanmu? Ya, itu kawan se-iman yang sedang sakit! Haha. Baguslah, kalau memang jujur itu tambah kau sakit hati, lebih baik bohong, tapi harus kreatif!” canda saya.

“Saya heran. Heran banget. Padahal kakek itu dosen. Dosen yang tiap hari menyuruh mahasiswanya supaya pintar, supaya kreatif. Pokoknya bagaimana menciptakan orang yang berguna. Malah, kakek selalu menyuruh mahasiswanya untuk tidak mengandalkan kuliah saja. Kakek saya itu menganjurkan mahasiswanya untuk beroganisasi sesuai keinginannya atau bakatnya masing-masing. Selalu begitu. Sementara ke keluarganya, ya ke saya terutama, mau ikut ini, mau ikut itu, semuanya dilarang, enggak boleh!” nada Riski kali ini lebih lantang.

Semakin khusuk saya mendengarkan celotehan tentang dirinya, kakek-neneknya, yang menurut Riski, merasa tidak adil memperlakukan dirinya seperti itu. Suatu kali, di area kampus, Riski sempat ikut akting monolog dalam rangka ulang tahun salah satu ektra kampus. Sempat pula, sang kakek-yang juga dosen di kampus itu memergoki Riski. “Kakek lihat saat itu, tapi langsung memalingkan muka dan pergi. Pokoknya sinis melihat saya di jalan berteriak-teriak kayak orang gila,” papar Riski kecewa.

“Sore harinya, pas saya sudah di rumah, benar saja. Kakek marah-marah karena siang tadi dia mergoki saya lagi demo. Sangka kakek saya, saya ini pas dikampus melakukan demontrasi. Kalau gitu, berarti kakek saya tidak paham, mana demo mana yang sedang berteater. Padahal, saya saat itu bukan demo, tapi akting monolog, yang merupakan salah satu bagiandari dunia teater. Kakek melarang saya ikut teater, sementara dia tak mengerti sama sekali apa itu teater? Kakek hanya bisa menyalahkan, tanpa tahu dulu apa masalahnya. Kakek itu dosen, lo! Masa begitu!” ucap Riski, yang menurutnya ulah kakeknya itu membuat pusing kepala. “Teu ngarti saya, mah! Lieur ah!”

Riski menyadari, sikap kakek-nenek terhadap dirinya bagian dari ungkapan rasa sayang. Tapi, kata Riski kalau kakeknya sayang kepada dirinya, bukanlah seperti itu caranya. “Mau saya, kakek itu tak mengekang saya seperti itu. Bebaskan saja, toh saya ini sudah dewasa, sudah mahasiswa lagi. Bukan anak kecil lagi, yang masih dilarang ini, dilarang itu. Saya juga tahu kok  pada akhirnya, mana yang jelek juga mana yang bagus. Saya punya hati nurani. Dan saya pun, berusaha tidak akan mengecewakan atau membuat sakit hati kakek-nenek, ibu dan bapak saya. Nah, kalau begini, siapa yang sakit hati? Siapa yang terkekang tiap hari?” lontar Riski yang lihai melukis dan baca puisi ini.

“Kakek selalu menganggap enggak usahlah cari ilmu di luar kuliah. Nanti katanya enggak bener kuliahnya kalau ikut-ikutan oragnisasi. Udah, belajar saja. Baca buku-buku kuliah. Enggak usah baca buku lain. Kalau begitu caranya, mana mau berkembang otak ini kalau hanya harus fokus kuliah saja. Memang apa yang didapatkan dengan hanya rajin kuliah, hah? Sementara saya harus mengasah kemampuan bakat saya di luar aktivitas kuliah. Enggak ngerti saya dengan semua ini!” kekesalan Riski tampak membuncah, kedua bola matanya hampir saja terpeleset ke bumi.

Kasian juga saya dengan nasib Riski. Saya juga tak bisa menahan sedikit rasa kesal di hati ini atas sikap kakeknya, yang semakin senja umurnya bukannya bijak dalam menghadapi hidup, tapi malah membuat hati orang bengkak. “Liat aja anak-anaknya yang lain yang di Bandung itu. Memang, ada beberapa yang lulus kuliah, tapi nyatanya nasibnya juga enggak bagus. Ada yang jadi anggota dewan, tapi enggak lama berhenti, mungkin bosan. Sekarang nganggur. Dulu, si kakek nyuruh ke anak-anaknya, kuliah, kuliah, kuliah dan tak menyuruh anak-anaknya berorganisasi. Kalau ketahuan kena marah. Akibatnya, anak itu enggak punya kemampuan/keahlian lain selain ilmu dari bangku kuliah. Akhirnya menyesal sekarang. Dan saya, Mang, enggak mau seperti mereka,” panjang lebar Riski menjelaskan.

Yang paling heran, tiap Riski habis dimarahi kakek, ia tak bisa berkutik. Riski hanya bisa dihakimi, tak bisa membela, tak bisa mengungkapkan keinginannya, harapannya, impiannya. Sekali Riski bicara dan belum selesai, kakek atau neneknya sudah lebih dulu memotong, tambah menyalahkan. Intinya, bahwa antara nenek-kakek tak mau mendengarkan apa keluhan Riski. Tahunya, Riski harus kerjakan ini-itu yang tidak disenanginya. “Mereka takut kalau saya ini jadi anak gembel di jalanan mungkin. Jadi, mereka terlalu khawatir,” ucapnya.

“Nek, Kek. Kalau memang keberadaan Riski  di rumah ini membuat kakek tidak senang dengan yang saya senangi, lebih baik saya pulangkan saja ke Garut. Tapi, bukan berarti di sana saya tetap tinggal di rumah ibu, saya akan tinggal dimana saya suka, dimana saya nyaman, di jalanan sekali pun. Sebab, Riski juga punya keinginan, cita-cita yang harus ditempuh sama seperti orang lain. Saya akan cari uang sendiri, segalanya sendiri. Daripada tinggal dengan saudara hanya bikin beban saja. Riski mau bebas menurut pandangan Riski,” lirih Riski berkata begitu.

Kakek-neneknya berdiam sejenak, tapi selanjutnya marah-marah lagi malah menanyakan kenapa cucunya bisa sampai mengatakan begitu. “Anak tak tahu diuntung. Bisanya melawan saja sama orangtua. Udah…udah…udah…enggak usah berdeba!” begitu kata Riski, yang menurutnya kakek-neneknya maunya menang sendiri dan tampak egois. Riski pun tidak tahu sampai kapan perlakukan mereka yang tak menyenangkan itu berakhir.

Jam dinding kamar saya menunjukkan pukul 11.00. Matahari lagi garang-garangnya, sementara, saya belum juga mandi. “Udah dulu, Bro! Tadi kamu ke sini kan mau cari tempat tenang untuk baca, sekarang baca dulu buku Filsafat itu. Hari sudah siang, sebentar lagi kamu kuliah!” kata saya.

“Ya sudah kalau enggak mau lanjutan ceritanya!” ucap Riski sambil membuka buku Filsafatnya. Saya pun menghadap leptop. Dan…10 pesan masuk di kotak pesan facebook. Selang beberapa menit saya lihat lagi ke arah Riski. Dan….malah Riski tertelungkup, NGOROK!

One thought on “Menyelami Riski

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s