Tiang Tresne Ken Adi

Selepas salat magrib pesan pendek masuk ke kotak “pesan” ponsel saya. Pesan itu kiriman dari “Krisna Dewa”.

“How areu you?”

“Fine my Bro. How about you?”

“I’m fine too. What are you doing?”

“I’m sitting and listening to the music. Dangdut music. He. How about your family?

“My family fine. Dh ah, pake b. indo aj…he.”

“Ha. Pake bahasa Bali aja dek. Dek, ada FB, gak?”

“Haha..ntar gx ngerti. Ad, tp jrang aq buka…”

“Makanya it, ajari kak bhasa Bali. Dikit2 aj. Aktif lg dunk dek d FB, biar enak.”

“Hehe…ai lg mlz kak.”

“Besok2 maksudnya. Saya sayang kamu, apa bhs Balinya?”

“Aq kurang bsa bhsa Bali kak…he.”

“Masa gak bisa dek…ha. Jd, ap yg bs dr bhasa Bali?”

“Saya sayang kamu: tiang tresne ken adi…”

“He. Pasti adek td nanya, ya?”

“Hehe.”

“Lg lbur ya dek?”

“Blm kak. Minggu dpn bru libur.”

“O…mantap. Udh mkn dek?”

“Blm…klu kak?”

“He. Ni lg mkn bakso dek. Makanla dek, nanti lapar…ha.”

“Wih bagi dunk.”

“Kapan2 ya, kalo kita ktemu…he.”

“Hehe…sip.”

“Salam aj ya buat kluargamu dr ku.”

“Sip…slam jg y sma keluarga kk…”

“Oke bos!”

“Dek, kak lupa. Nama lengkapmu siapa?”

“Dhewa Gede Krisna Pradana…klu kk?”

“O…he. Cecep Hasannudin, panggilan Hasan.”

“Sip..”

Saya pertama kali bertemu Krisna Dewa di Pura Tirta Sari, Desa Sunda Kelapa, Kecamatan Pondok Kelapa, Kabupaten Bengkulu Tengah setahun yang lalu, 1 Februari 2012. Pertemuan itu tak sengaja. Setelah saya mengambil beberapa jepret foto kegiatan Galungan, saya sempat iseng menyapa anak-anak di sekitar pura yang sedang berjejer-berdiri menunggu salam-salaman.

“Dek, siapa namamu?” kata saya saat itu.

“Krisna, Kak!” kata dia sambil malu-malu.

“Rumah mu di mana, Dek?” lanjut saya sekedar iseng karena bingung mau nanya apa lagi.

“Dekat situlah. Sebelum jembatan kalau dari jalan besar.”

“Dek, nomor hapenya berapa?” pinta saya memberanikan diri. Saya melanjutkan mengambil objek foto.

Meski komunikasi lewat hape, saya sedikit tahu mengenai keluarga Krisna. Ayahnya pegawai pos. Ibunya  guru SD. Krisna empat bersaudara. Dia anak nomor 3. Anak pertama, cewek,  kerja di kantor pos, dan saya lupa namanya. Padahal Krisna pernah beritahu. Kakaknya yang kedua, yang juga cewek, masih kuliah di Universitas Bengkulu Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia. Namanya Ayu Dewa Ningrum. Anak keempat, atau adek Krisna, lupa juga namanya.

“Mainla ke rumah, Kak.” pesan Krisna suatu hari. Saya mengiyakan, namun hingga kini belum kesampaian juga. Padahal, jarak dari kosan saya ke rumah Krisna sekitar 20 kilometer berada di Desa Sunda Kelapa yang dihuni oleh sebagian besar penduduknya berasal dari pulau Dewata. Makanya, saya pengen banget bisa bahasa Bali, sebelum saya benar-benar mengunjungi Bali yang sesungguhnya.

Makanya, dari Krisna, minimal saya tahu,kalau “Tiang Tresne Ken Adi” itu berarti,”Saya Sayang Kamu.”

Krisna Dewa (memakai baju batik biru lengan panjang) tampak sedang memotret. (Hasan's foto)

Krisna Dewa (memakai baju batik biru lengan panjang) tampak sedang memotret. (Hasan’s foto)

Umat Hindu, termasuk keluarga Krisna khusuk dalam persembahyangan dalam rangka Galungan. (Hasan's foto)

Umat Hindu, termasuk keluarga Krisna khusuk dalam persembahyangan dalam rangka Galungan. (Hasan’s foto)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s