Cintaku, Kapan Kita Menikah?

Hai sabahat wordpress yang berumur senja, kapan kalian menikah? Menunggu apa lagi? Apa yang ditakutkan? Bayangan apa yang membayang sehingga masih menunda menikah, sementara usiamu tak lagi muda? Permasalahan apa lagi yang masih belum kelar di dunia ini. Asyik dengan kegiatan apa, sampai sahabat enggan untuk mendatangi gadis yang sahabat cintai dan mengajaknya berumah dan memiliki tangga? Sementara kata orang-setidaknya pengalaman mereka yang memberanikan diri menikah, bahwa beban hidup dapat semakin ringan kala nikah ditunaikan. Enggan kah sahabat percaya itu?

Sahabat selalu bilang,”Doakan ya saya cepat dapat jodoh.” Kalimat itu selalu berulang setiap ada kawan, saudara, bapak-bapak, atau ibu-ibu yang bertemu dimana saja dengan sahabat. Sementara, sementara sahabat hanya merasa cukup sampai mengatakan begitu dan berharap jodoh akan sampai. Sampai kapan pun, berapa kali pun sahabat dendangkan kalimat permintaan itu pada semua orang, sahabat tetap tidak akan mendapatkan yang namanya pendamping hidup alias jodoh. Jodoh itu akan diraih sesuai usaha dan doa. Dan kalimat “Doakan ya saya cepat dapat jodoh”, itu permintaan supaya orang yang kita temui mendoakan sahabat supaya dapat jodoh.

Lagi-lagi, tapi yakinkah sahabat, bahwa teman, kawan, atau orangtua sahabat benar-benar menolong sahabat dengan cara mendoakan seperti yang sahabat minta? Sekali lagi, yakinkah mereka (orang-orang yang sahabat temui tadi) meluangkan waktunya untuk berdoa hanya untuk sahabat? Ini bukan berarti menciutkan niat sahabat untuk mendapatkan jodoh, seperti yang diimpikan selama ini. Baiknya memang, selain selalu meminta tolong supaya orang mendoakan, sahabat tentu harus mengalami proses bagaimana mengusahakan cara mendapatkan gebetan.

Lalu, sampai sebatas apa usaha sahabat demi mendapatkan jodoh, yang-menurut sahabat cocok selama ini? Apalagi yang dipikirkan? Penghasilan sudah ada. Fisik gagah, tak ada cacat lagi. Mental? Mental seperti apa yang dibutuhkan untuk melaju ke jenjang pernikahan? Memang tak salah, kalau mental berkait erat dengan kondisi psikologis seseorang. Terus juga, didikan lingkungan- hal itu juga salah satu penentu sahabat  melaksanakan sunnah nabi tersebut.

Barangkali bukan itu masalahnya. Sahabat bingung memilih di antara  dua kandidat yang akan dijadikan teman hidup. Bingung? Wajar. Tapi jangan sampai berkutat di kebingungan itu. Sebab, kalau tak tahan dengan kondisi demikian, pada akhirnya sahabat akan menyerah dan gagal lagi mendapatkan orang yang spesial. Orang semacam ini, nampaknya perlu bimbingan dari orang-orang terdekatnya, minimal orang yang sudah melewati fase ini dan berhasil. Dari sanalah sahabat akan beroleh pencerahan.

Ayolah, bersemangat-kalau kata Mario Teguh bukan “mencari” jodoh tapi  “membuat” jodoh supaya dia mendatangi sahabat. Artinya, kualitas diri yang mesti dipupuk, ditingkatkan. Percayalah, lambat-laun sahabat akan mendapatkan teman yang cocok, yang kemudian di antara keduanya mengikat janji untuk menaklukkan dunia ini berdua. Kalau sudah begitu, salah satunya akan mengucapkan, “Cintaku, kapan kita siap nikah?”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s