Apak Berobat Lagi

Daripada bengong, lebih baik saya menulis dulu. Barusan, 10 menit lalu baju-baju kotor saya rendam. Maklum, ini hari minggu. Pakaian kotor pun menumpuk. Makanya, sambil menunggu membilas baju, saya nulis aja di catatan harian ini. Menuliskan apa yang saya mau.

Adek saya, tiba-tiba sms, “A, apak hari ini mau ke Bengkulu. Apak mau berobat. Nanti tolong jemput di depan, susah nyebrangnya,” begitu pesan yang nempel di inbok hape saya. Kata tanya lalu menguap di benak, “Berobat apalagi, ya apak? O, iya, dua hari ini apak masih mengeluh sakit di bagian lutut karena sebulan lalu sempat tak sengaja tertusuk duri salak saat membersihkan pohon salak di dekat rumah,” batin saya.

Yup, intinya apak mau ke Bengkulu. Saya pun seneng bukan kepalang. Padahal, baru seminggu yang lewat apak berada di Bengkulu. Karena obat dari dokter belum tokcer, akhirnya apak harus ke kota lagi hari ini. “Kusambut kedatanganmu, Pak.” Bawa oleh-oleh apa ya apak saya dari dusun? Saya berharap, apak bawa sesuatu buat anaknya. Biasanya, sih suka bawa. Mulai dari salak, kalau lagi berbuah, pisang, rambutan, ikan, serta cemilan ringan lain. Hoah, i miss banget penganan itu, pak!

Saya memperkirakan, apak akan sampai kota sekitar pukul 12.00 atau menjelang dhuhur. Perjalanan dari desa saya ke kota, kalau normalnya bisa ditempuh 4 jam, bisa lebih bisa kurang. Tapi normalnya ya segitu. Apak…apak…ya, datanglah  dulu ke Bengkulu ini. Kalau berkenan, anakmu ini siap mengantar nanti sore atau besok ke apotek buat berobat ke dokter langganan. Namanya dokter Agus.

O, ya, seabrek kegiatan saya hari ini, selain nyuci baju dan menunggu kedatangan apak, yakni ada arisan pada sore harinya di rumah teteh. Arisan? Kayak ibu-ibu aja. Yeee, emangnya arisan milik ibu-ibu aja. Seperti payung, emang hanya dipake kaum hawa? Huh, barangkali yang menyebut gitu lebih pada gengsi aja, kali! Itu arisan keluarga, Bro! Dan udah berjalan 3 bulan. Maklum, kalau enggak diadakan arisan, keluarga saya jarang bisa berkumpul. “Ya Tuhan, kenankanlah arisan kali ini saya yang dapat. Tolong ya Tuhan. Engkau tahu, udah dua bulan ini kreditan motor saya belum dibayar. Kalau penagih datang ke rumah, gimana? Karenanya, tolong ya..,” pinta saya.

Pokoknya, pak, hati-hati ya di jalan. Anakmu ini mau nyuci dulu. Kalau kelamaan ngerendam bajunya, ntar rusak lagi. Oke, lagu dangdut yang menemani saya ternyata membuat saya harus mengakhiri tulisan di pagi yang panasnya bikin ngitamin badan ini. “Pertemuan yang ku impikan kini jadi kenyataan. Pertemuan yang ku dambakan ternyata bukan khayalan. Tak ingin lagi berpisah. Tak ingin lagi merana…”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s