Ina Kepergok “Gituan” di Kamar Kos

Saudara saya, Erni  kaget bukan kepalang. Baru seminggu diberi tanggungjawab menjaga kos-kosan salah satu juragan kos di Kota Bengkulu  sudah memergoki Ina-salah satu penghuni kos kedapatan lagi “gituan” di kamarnya bersama sang pacar. Kontan saja, hal itu membuat Erni kaget mendapatkan Ina sedang ditindih pacarnya di atas kasur.  Wuihhh…! “Pintu kamarnya enggak dikunci. Pas saya berdiri di depan pintu, si laki-laki itu sedang menindih si cewek di atas kasur,” cerita saudara saya sambil rada gemetar.

Waduh! Menurut Erni, ini adalah pengalaman pertama yang menyakitkan setelah didaulat menjadi penjaga kosan. “Saya sebagai perempuan, punya perasaan tak mengenakkan saat lihat, si Ina digituin sama cowoknya. Benar-benar saya enggak habis pikir. Pas kepergok begitu, saya enggak bisa bilang apa-apa waktu itu. Tubuh saya gemetar sambil lihat akting tak halal mereka. Waduh, Cep pokoknya,” lanjut saudara saya itu jengkel.

“Udah, sekarang keluar dari kos ini! Dan jangan sekali lagi kamu datang ke kos ini! Memalukan! Brengsek! Setan alas!” tiba-tiba saja, saudara saya yang cewek lembut ini bilang begitu saat ia berdiri tepat di depan pintu kamar si Ina. Erni bilang, pertama kali melihat adegan itu, si cowok hanya melorotkan celana jeans-nya sepaha, sementara si cewek, katanya tak lagi dibungkus apa-apa. “Cepat-cepat si Ina langsung masuk kamar mandi sambil bawa baju,” lanjut saudara saya.

“Kok bisa curiga kalau ada cowok masuk ke kosan itu, Mbak? Kan cowok enggak boleh main ke kosan cewek di kosan yang Mbak jaga. Gimana ceritanya, tuh?” korek saya ingin tahu lebih jauh. “Pas suami saya pulang dari ngajar, dia bilang kok ada motor besar parkir di halaman kosan. Karena saya di dalam kamar, saya juga enggak tahu kalau ada motor lain yang diparkir di sana,” papar saudara saya.

Si suami sudara saya ini lantas menyuruh istrinya mengecek seluruh kamar kosan setelah ada hal yang membuat curiga. “Saya lantas keliling periksa satu persatu kamar. Memang sepi, dan memang pada kuliah saat itu. Karena kosan itu bentuknya saling berbalik arah, maka saya periksa kamar yang sebelahnya. Perlahan saya susuri kamar satu persatu. Sepi. Nah, pas di kamar nomor 6, pintunya itu terbuka. Pas kedua kaki saya tepat di mulut pintu, terlihatlah adegan yang menggegerkan itu,” cerita saudara saya.

Si cowok, yang menurut Erni berperawakan kurus kerempeng itu langsung lari dari kamar dan membawa motornya. Entah kemana perginya. Tunggang langgang pokoknya. Saking merasa bersalah, salah tempat, salah waktu, dan salah semuanya. “Kalau ndak salah, warna motornya itu merah. Motor gede lah. Saya juga sempat curiga, kok ada motor gede di sini. Padahal, anak-anak kos di sini kan motornya metik semua,” ucap Erni lagi.

Setelah si cowok pergi, saudara saya masuk ke kamar si cewek. Di dalam kamar itulah Ina bercerita (sedikit didesak) dan mengaku kalau yang barusan menidurinya adalah cowoknya. “Iya, Mbak, itu cowok saya. Sebenarnya, orangtua saya enggak setuju saya pacaran sama dia. Tapi dia maksa. Entahlah, Mbak, udah berapa kali aku gituan sama cowok aku itu. Maafin aku, Mbak. Aku janji, enggak bakal ngulangi lagi,” tambah sudara saya, berdasarkan penuturan Ina.

“Udah, putusin aja cowok kamu itu. Kasian kamu, Dek! Andai orangtua kamu tahu kejadian ini, betapa kecewanya. Memang enggak mikir ke sana, ya?” ungkap saudara saya merasa kecewa atas kejadian yang baru beberapa menit dilihatnya. “Ya, Mbak. Tapi tolong jangan diadukan ke ibu kos, ya. Saya malu.” kata Ina mahasiswi perguruan tinggi swasta di Bumi Rafflesia itu sambil memuntahkan kristal-kristal dari kedua matanya.

Penjaga kosan, yang tak lain adalah sudara saya itu lantas ke kamar-khusus buat penjaga yang letaknya agak ujung dekat pintu gerbang kos. Hatinya tak tenang. Diliputi rasa bersalah. Ia merasa, sebagai penjaga sudah kecolongan menjaga kewibawaan kosan-yang sebelum ia menjadi penjaga tak pernah terjadi semacam ini. “Benar bingung saat itu, saya harus bilang apa ke yang punya kos. Enggak lama  setelah itu, saya langsung ke rumah ibu kos.”

Saudara saya akhirnya menceritakan kejadian yang sebenarnya kepada pemilik kos. Mendengar cerita Erni, si ibu pemilik  kos langsung berang-bukan kepada saudara saya, tapi Ina. Karenanya, ibu kos harus mengusirnya-meskipun Ina masih punya sisa  4 bulan lagi untuk tinggal di kos itu karena dulu bayarnya sekaligus setahun. “Enggak usah diusir, Bu. Ina udah janji sama saya, katanya dia mau berubah. Biarla saya yang bimbing  dia,” ujar Erni yang diamini ibu kos.

“Pas saya pulang ke kos lagi, si Ina malah sudah angkut-angkut barang mau pindah. Dia juga enggak lagi negur saya. Saya pun begitu, karena saya ada di kamar posisinya saat itu. Pokoknya, dia cepat-cepat gitu mindahin barang. Entah, mau pindah kemana. Kasian juga. Tapi mungkin karena udah telanjur malu, jadi enggak tahan kalau harus bertahan di kos itu,” tutur saudara saya yang baru memiliki anak satu itu.

Sore harinya, saat anak-anak kosan pulang kembali ke kamarnya sebagian dari mereka mendatangi Erni menanyakan kenapa kamar si Ina kosong melongpong begitu. “Ya udah, enggak mungkin saya bohong sama mereka. Ya, saya ceritakan saja apa yang sebenarnya terjadi. Barangkali, ini jadi pelajaran bagi  penghuni kos ke depannya. Ini memang musibah,”  terang Erni beberapa minggu lalu.

“Mbak, kalau pulang ke kos-kosan, salamain ya sama anak-anak kosannya,” celetuk saya. Sudara saya itu tertawa saja.

Iklan

10 thoughts on “Ina Kepergok “Gituan” di Kamar Kos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s