Aku Mau Hidup Seribu Tahun Lagi

Mati di mana pun harus siap. Tapi saya enggak mau banget malaikat Izrail nyabut nyawa saya penyebabnya lantaran kecelakaan. Kecelakaan apapun, apalagi kecelakaan pesawat. Ngeri. Enggak enak. Membuat sedih sanak saudara yang lain. Siapa yang gembira? Yang gembira itu ya awak media. Bagi mereka, misalnya ada pesawat jatuh-seperti Lion Air yang tergelincir ke laut dekat bandara Ngurai Rai hari ini (13/4), itu berita bonus seperti mendapat rezeki nomplok. Meskipun, menurut berita online yang saya baca tak terdapat korban jiwa dalam kejadian itu.

Mau gimana lagi. Saya, dan siapa pun orangnya tak ada yang mampu menolak takdir. Cuma, saya selalu memohon pada-Nya supaya dijauhkan dari segala marabahaya yang ada di alam fana ini. Tapi, ada juga yang berpendapat, bahwa manusia bisa merubah takdir. Caranya adalah dengan doa. Kalau saya ditakdirkan, misalnya memiliki wajah kurang ganteng, lantas saya berdoa pada Tuhan supaya wajah saya minta digantengkan, itu rasanya enggak akan bisa alias mustahil.

Ah, kok serius amat sih ngomonginnya sampe ke sana. Saya malah enggak bisa tuh kalau bicara soal takdir. Pokoknya, jalani aja apa adanya. Tak banyak menuntut, yang penting hari-hari saya-kalau bisa selalu bahagia, meskipun suatu waktu-saya pun harus siap bila ternyata diterpa suasana  tak mengenakkan. Jelasnya, saya hanya mau bilang, saya tidak mau Izrail menghampiri saya di saat situasi yang tak menggembirakan. Misalnya, ya itu tadi karena kecelakaan inilah, itulah. Pokoknya enggak mau. Titik.

Lagi-lagi, itu kemauan saya. Tapi, saya juga tak mau dibilang egoistis memaksa Tuhan supaya sang Menteri Kematian-Izrail tak menghampiri saya pada saat yang kurang tepat. Kurang tepat? Yup, pendapat manusia, mungkin itu tidak tepat, tapi Tuhan-ia tentu maha tahu atas segala kehendak-Nya. Lalu, mau saya, dimana tempat yang tepat saat Izrail mengunjungi saya? Di mana, ya? Saya juga bingung! Yang kira-kira disebut “mengerikan” penyebab orang meninggal dunia, itu yang saya tak kehendaki. Nampaknya, kalau begitu, saya masih menggenggam egois. Ya, wajar, saya bukan Tuhan. Manusia adalah mahluk egois.

Makanya, setelah tahu kalau pesawat Lion Air tergelincir di laut Bali, saya jadi urung memesan tiket Lion itu. Padahal, saya mau ke Jakarta dalam waktu dekat ini. Jadi ngeri gitu, deh! Terlepas penyebabnya apa. Memangnya, kalau mesan pesawat lain enggak ngeri, gituh? Ngeri juga, sih. Tapi minimal, ya bisa dikuat-kuatkan rasa takutnya. Anggapan saya, yang menyebabkan banyak pesawat jatuh bukanlah karena cuaca, tapi faktor mesin pesawat  yang renta alias uzur. Itu baru anggapan saja, bisa benar dapat pula salah.

Saya sekarang sudah tenang. Ego yang meluap-luap tadi saya redam, bila perlu tak harus muncul lagi. Mau mati di mana pun, harus siap. Bagaimana pun keadaannya. Toh, Tuhan-barangkali  lebih paham atas apa yang terjadi, bila memang kejadian itu sampai menyebabkan nyawa manusia, termasuk saya tercerabut. Tiba-tiba, saya seperti dibisiki kata-kata, “Jika kau benar-benar memahami Tuhan, maka kematian bukanlah hal yang menakutkan, bahkan selalu diharapkan kehadirannya.”

Berseliweran pula potongan sajak Chairil Anwar melintas di otak yang dihuni jutaan kata itu. “Dan aku akan lebih tidak perduli/Aku mau hidup seribu tahun lagi.”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s