Bandung, Cianjur, Tasik: I Miss You

Saya rindu Bandung, Cianjur, dan Tasik (BCT) . Ketiga  daerah itu membuat saya ingin kembali, bernostalgia saat-saat dulu ketika kuliah. Hampir bisa dipastikan, tiap bulan kurang lebih 3 bahkan 4 kali saya berkunjung ke Cianjur maupun Tasik. Cianjur tempat sahabat, yang kemudian jadi saudara. Tasik, tempat bibi-paman, tempat kedua orangtua saya dilahirkan. Sementara di Bandung itu tempat kuliah saya. Kurang lebih 5 tahun saya di sana. Kenangan, tentu tak begitu saja dilupakan.

Bandung, aduhai. Moleknya rupamu. Keanggunanmu, barangkali yang membuat hati ini ingin selalu dekat denganmu. Orang-orangnya, cewek-ceweknya, bangunan bersejarahnya, mal-malnya, tempat wisatanya, uhh, pokoknya semua orang tahu, Bandung punya pesona dibandingkan kota lain. Sebagai daerah penyanggah ibukota, Bandung- menurut saya kota yang tidak membosankan. Saking tidak membuat bosan, saya pun hampir tak sanggup menggambarkannya di sini.

Bandung, mau apa saja ada. Pengemis yang ratusan itu. Puluhan peramal yang nongkrong di sepanjang pertokoan yang menggunakan kopiah itu. Yang setiap orang lewat di depannya selalu saja ditawari untuk diramal. “Neng kadieu sakeudap. Kadieu sakeudap. A, sakeudap kadieu,” katanya sambil melambaikan tangan. Seketika, ada yang langsung mau diajak peramal, ada juga yang sedikit ketakutan, karena dikira apa. Aneh, terutama bagi yang baru mencicipi keriuhan kota-yang sebutan ‘kota kembang’ tak lagi melekat itu.

Bandung, bentuknya seperti tempat penggorengan. Cekung. Maklum, dalam sejarahnya Bandung itu dulu danau-yang sekelilingnya tertanam gunung-gunung. Begitu sekilas yang menurut cerita orang, termasuk sedikit yang saya baca juga di beberapa literatur. Bandung… Bandung. Pertama kali ke Bandung pada 2006, saat tidur di kos, dua selimut membungkus tubuh saya. Saking dinginnya. Lama-lama, “Eh, geuning panas Bandung, Teh!”

Pemandangan kota Bandund terlihat dari menara kembar masjid Agung, Alun-alun. (Hasan' foto)

Pemandangan kota Bandung terlihat dari menara kembar masjid Agung, Alun-alun. (Hasan’ foto)

Hasan sedang berpose di ruang menara kembar masjid Agung Bandung. (Hasan's foto)

Hasan sedang berpose di ruang menara kembar masjid Agung Bandung. (Hasan’s foto)

Tak cukup seminggu barangkali bercerita tentang Bandung. Makanya, sesekali untuk mengusir rasa penat, saya-kalau Jumat-Minggu bertualang ke luar kota: Cianjur atau ke Tasik. Terkadang Garut: daerah kekuasaan Aceng Fikri, tapi itu dulu, sebelum ia diberhentikan. Cianjur, disebut kota Taucok. Terkenal pula Gerbang Marhamah (lupa, euy naon singkatanna!). Terangnya, Cianjur menamakan dirinya kota santri. Enggak salah, tuh fren?

Cianjur, sejuk, ramah orang-orangnya. Muji terus nih gue. Gue? Tapi memang begitu, Cih! Tiap liburan-kalau ada duit, piti, money, artos-insyaallah selalu ke sana. Namanya anak kos, emak-apak jauh. Jadi, kudu banyak-banyak silaturahmi, cari saudara, cari teman. Biar saat kepepet, bisa minjam duit, bisa juga yang lainnya. Cianjur, tempat wisatanya juga oke. Belum lagi hawanya yang aduhai. Saya pernah ke Taman Bunga Nusantara, Istana Presiden, Lembah Karmel (buat wisata khusus umat Kristiani). Ketiga tempat itu letaknya di Kecamatan Cipanas, tak jauh lagi kalau mau ke Puncak, Bogor.

Kiri-kanan. Reza Sukma Nugraha, Hasan, dan Gusyaman di depan gerbang istana Cipanas, Cianjur. (Hasan's foto)

Kiri-kanan: Reza Sukma Nugraha, Hasan, dan Gusyaman di depan gerbang istana presiden Cipanas, Cianjur. (Hasan’s foto)

Lalu Tasik, juga tak kalah menariknya dengan Cianjur. Tasik kota Resik. Ada gunung Galunggung di sana. Gunung itulah-salah satu sebab orangtua saya memutuskan bertransmigrasi ke Putri Hijau, Kabupaten Bengkulu Utara, 30 tahun lalu. Selain alasan ingin “merubah nasib”. Memang berubah, ya?

Saudara orangtua saya  itu letaknya di kampung Kelengsari, Kecamatan Sukahening, Kabupaten Tasikmalaya. Tepatnya di kaki gunung Galunggung. Dinginnya minta ampun kalau malam menjelang subuh. Hamparan sawah di sekeliling rumah saudara saya itu yang membuat saya betah. Latar belakangnya berdiri Galunggung. Terkadang, saya menjadikannya sebagai tempat memotret.

Sebagian pemandangan di kampung Kelengsari, Sukahening, Kabupaten Tasikmalaya. (Hasan's foto)

Sebagian pemandangan di kampung Kelengsari, Sukahening, Kabupaten Tasikmalaya. (Hasan’s foto)

Bandung, Cianjur, dan Tasik. I miss you!

Iklan

2 thoughts on “Bandung, Cianjur, Tasik: I Miss You

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s