Jaya Suprana Dihargai Rp 20 Ribu

Oleh-oleh saya dari Palembang yang dibawa ke Bengkulu bukan Pempek atau makanan khas lainnya, melainkan sebuah buku. Cuma satu buku. Buku karangan Jaya Suprana, yang konon seorang kelirumolog-nya Indonesia. Buku dengan sampul warna hitam yang gambar depannya Jaya Suprana itu saya dapatkan dari salah satu toko buku Gramedia di jalan Atmo, kota Palembang beberapa minggu lalu. Harganya murah, Rp 20.000! Tebalnya 416 halaman. Maklum, di lantai 4 toko buku itu sedang ada diskon!

Awalnya, saya tak berniat mampir ke toko buku itu. Usut punya usut, tidak adanya niat ke toko ilmu pengetahuan itu lantaran belum memadainya kocek alias pulus. Tapi, sore menjelang magrib itu saya langsung saja masuki pintu gerbang toko itu. Niatnya, ya hanya ingin membaca saja. “Mas, tempat penitipan barang dimana, ya?” ungkap saya memberanikan diri ke salah satu petugas toko. Nampaknya, ia sekuriti.

Tas gendong dan barang bawaan di tangan saya titipkan sesuai petunjuk karyawan toko itu. Di pojok ujung sebelah kanan. Tertera “Tempat Penitipan Barang”. “Isinya apa di tas ini, Mas? Leptop? Atau ada dompetnya?” lagi-lagi petugas di tempat penitipan barang membuat saya harus bersuara. “Enggak ada, Mas!” jawab saya. Leptop memang tidak ada di tas, tapi cuma dompet. Dompet yang isinya hanya: KTP, catatan utang-piutang, tanda bukti pembayaran kreditan motor, plus foto hitam-putih 2×3 saat SD dulu. Sementara duit saya kantongi di saku celana. Enggak suka nyimpen uang di dompet!

Buku-buku cetakan baru berjejer di rak-rak toko itu. Harumnya beda. Beberapa rak buku saya singgahi, saya buka bukunya, dibaca sekilas. Banyak yang menarik dan harus dibeli. Tapi tidak untuk sekarang, pikir saya. Di rak bagian novel, sudah saya tandai novel yang suatu saat saya harus membelinya. Begitu juga di bagian rak yang lain, beberapa buku juga menggoda  hati saya untuk memilikinya. Yup, nanti pasti tercapai. Tapi tidak buat sekarang!

Lama-lama pusing juga melihat buku sebanyak itu. Apalagi harus membaca-meski sekilas sambil berdiri. Di ruang ber-AC lagi. “Buku murah, diskon! Harga mulai Rp 5000-20.000!” ada tulisan begitu, tepat di tangga yang hendak menuju lantai 2 dengan tanda panah menunjukkan ke atas. Karena penasaran, saya langsung meninggalkan lantai 1. Tepat pukul 17.30 pas saya intip di hape nokia hitam saya waktu itu.

Berada di lantai 2 toko buku yang kelihatan mewah itu, nampak beberapa pengunjung khusuk melihat-lihat buku, membaca, tapi ada pula-sepasang cewek-cowok bersitatap di pojok rak di sudut kiri ruangan. Saya hanya lihat sekilas, setelah itu enggak memerhatikan lagi. “Buku murah, diskon! Harga mulai Rp 5000-20.000!” saya menatap tulisan begitu lagi. Anehnya, petunjuk itu berada di dekat tangga menuju lantai 3 dengan tanda panah yang menunjuk ke lantai 3.

Anak tangga menuju ke lantai 3 saya tapaki. Sampailah saya di ruangan buku-buku lantai 3. Saya tak lagi membaca pentunjuk di tangga menuju lantai 4. Cus. Sedikit berlari, lantai 4 toko buku elit itu saya jajah. Hamparan buku terbentang di hadapan saya. Lupa pula mau mengabadikannya lewat kamera hape. Ini saking bernafsunya saya melihat buku berserak, lalu ditawarkan dengan harga murah! Tak sabar saya membolak-balik buku berharga miring itu. Belum juga ditemukan yang cocok.

Beralih ke tumpukan lain. Tak sedikit buku-buku tentang pengembangan diri yang saya lirik.  Komik-komik juga berlimpah. Buku resep memasak dari berbagai daerah, meski cetakan lama tapi masih berbungkus plastik. Novel-novel juga tersedia, baik terjemahan maupun karangan asli orang Indonesia. Yang tebal ada, yang tipis banyak. Buku-buku traveling, saya lihat juga menghiasi tumpukan buku yang lain. Rasa-rasanya, mau saya beli semua buku yang berada di lantai 4 itu. Lagi-lagi, tapi tidak untuk sekarang, Cep!

Saya terus berkeliling di ruang lantai 4 itu. Terus membolak-balik buku yang menumpuk berserak. Sekilas, saya lihat telapak tangan saya kotor, menghitam. Tak sengaja, saat hendak membalik beberapa buku di samping kiri saya, saya langsung menjamah salah satu buku warna hitam yang depan covernya gambar Jaya Suprana. “Naskah-Naskah KOMPAS Jaya Suprana.” begitu judulnya. Pengantar buku itu ditulis oleh Jakob Oetama-Pemimpin Umum Kompas.

Mengapa saya tertarik dengan buku itu dan langsung membeli? Pertama, buku itu merupakan kumpulan artikel Jaya Suprana yang pernah dimuat di Harian Kompas- yang menurut Jakob-dalam kata pengantarnya bahwa penulis buku itu adalah sosok yang serba bisa, bahkan luar biasa. Misalnya, kehadiran Musium Rekor Indonesia (Muri) yang digagasnya hingga kini terus eksis berkembang. Yang paling bikin saya tertarik memiliki buku itu, karena-lanjut Jakob, Jaya Suprana itu humoris! Bahkan dia pula yang mencetuskan istilah “kelirumologi”. Mempelajari kekeliruan demi mencari kebenaran.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s